PERSIMPANGAN BIMBANG

Di antara bukit dan jurang

Gunung dan lembah

Laut dan pantai

Jalan setapak terpecah dua

Sebagai pengembara, aku tak bisa mengambil ke dua kakiku

Ke arah keduanya.

 

Maaf jika aku berpaku kuat

Berdiri di dua arah jalan yang terpecah

Melirik ke kanan , melirik di kiri

Menatap diam yang panjang

Jalan keduanya

Ibarat menyalin rupa

Di raga yang bimbang

 

Di hamparan tanah gembur

Lumpur hidup sampai pada semak belukar di ujung  duri yang tajam

 

 

Sepertinya lebih menarik gumpalan awan

Ketika angin menjadikan diri sepotong kuas

Mengacak-acak putih kebirubiruan

Abstrak terlihat haru

Seperti gampang dilalu

Bagi yang sudah pernah memandang

 

mungkin sama rasanya dengan kemarin dan lampau

Ada pagi hari yang murni

Di temukan mentari pagi

Setelah bulan dibalut dingin

Jejak-jejak bestari ingin

 

Tetapi harus juga kuputuskan

Arah kaki yang berpaku

Meski tak tahu apa kutemui

Di ujung berjalan nanti

 

Aku tak juga pernah tahu

Apakah aku akan kembali bertamu

Dalam arah kaki ini

Untuk bercerita dengan duka

Atau berdendang dengan suka

Di ujung yang menangkap waktu

 

Persimpangan ini adalah jalan bercabang dua

Di mana aku menjadi salah bagiannya

Cabang yang jarang sekali dilalui di antara kita

Maka biarkanlah menjadi beda

Memaknainya.

 

SigondrongDalamDiam

22 Januari 2020

 

 

155 thoughts on “PERSIMPANGAN BIMBANG”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *