Gerak Cepat Seorang Camat

Gerak Cepat Seorang Camat

Melihat sebuah postingan di fasbuk dan langsung menerima laporan masyarakat via whatsapp sosok Camat Rantau Utara Bapak Turing Ritonga pun bergerak cepat turun langsung menyikapinya , seperti yang di postkan akun fesbuk bernama Rudy seorang warga Kecamatan Rantau Utara ( Jumat29Mei2020) di Beranda pribadi ,mengenai sebuah jalan yang tergenang air tepatnya di Jalan Jati simpang Jalan Gatot Subroto yang sudah berapa hari tergenang air akibat parit tidak dapat menampung debet air hujan di karnakan tumpat , yang bertuliskan kata-kata ” Lokasi Kolam Pancing Gatsu(Gatot Subroto) dengan menyertakan beberapa sudut photo , Camat Turing langsung memerintahkan Lurah dan beliau ikut langsung mengeksekusi ( Sabtu 31Mei2020) .
Ternyata benar parit di jalan tersebut tumpat hingga airnya melimpah ke badan jalan apalagi jika hujan turun jadilah jalan tersebut sebuah kolam.
Ada rasa puas di wajah akun Rudy saat ditemui penulis ,
” Yang seperti inilah maunya Pejabat Pemerintahan itu kan Bang , langsung peka dan iklas dalam jabatannya untuk melayani ” ucap Rudy sang pembuat post di media fesbuk pribadinya saat ditemui penulis.
” Jangan pura-pura tak melihat apalagi mendengar seperti kepling pembagian Bansos , kalau seperti Camat Rantau Utara kinerja pejabat LabuhanBatu pastilah cepat maju ” keluh Rudy kembali kepada penulis.
Apa yang dilakukan Camat Turing patut di teladan di saat hari libur pun ia tak mau diam , tak perlu baginya laporan Asal Bapak Senang dari bawahannya , baginya keluh kesah langsung masyarakatnya adalah perintah.

*SigondrongDalamDiam

Rangkap Jabatan Melayani

Apa jadinya ?
Jika bonsai itu dicangkokkan dengan jeruk
Yang ada jeruknya mati
Bonsai pun rusak ika bananya
Keserasian hanya dalam angan
Demikianlah yang merangkap jabatan
Sebagai pendamping sedangkan awal di pokok komunikasi informasi.
Rasa kurang puaskah terhadap gaji
Hingga nyambi pendamping keluarga harapan
Ataukah karna rasa ingin menguasai harapan keluarga
Agar bisa membodoh-bodohi .
Tamakmu bagai benalu di rimbunan tanaman pagar
Tak cukup satu inginnya dua
Banyakkah waktu terbuang dari tersisamu itu?
Hingga lupa kodrat sebagai manusia biasa
Bangsat …
Selayaknya kau itu di pecat
Dari ke dua-dua jabatan yang kau ambil
Karna kejujuranmu itu diragukan Sebab hanya orang bohong yang berani mengambil resiko
Orang jujur tak akan pernah mau.

SigondrongDalamDiam
30Mei2020

Badan Pendusta Desa

Badan pendusta desa
Banyak rakyat menjadi susah di buatnya
Usal nama kepala desa curang
Jalan mulus berkelanjutan pulus

Semua sudah sesuai arahan pusat
Jika dipertanyakan hal kerja
Kenyataan pahit moratmarit yang dirasakan
Selalu menjunjung tinggi kekeluargaannya seorang

Bagian perampok dana
Demikianlah hal yang pantas untuk badan pendusta desa
Tak akan pernah rela jika rakyatnya yang bahagia
Harus lebih di utamakannya perutnya dulu
Jika ada sisa baru hinggap kepada rakyatnya

Bagai setali tiga uang
Main mata cepok-cepokan
Kepala desanya bernyanyi badan pendusta desanya mengiringi
Panggung desa hanya milik keluarga

Pantang sikit dengar dan liat bantuan sosial
Nama-nama yang menerima sudah di atur dari awal
Jika kehabisan nama yang hidup
Nama yang mati pun jadi pilihan

Demikianlah jika badan pendusta desa
Dipilih oleh tunjuk rekam kepala desa yang hadirnya
Makan gaji buta
Tugas dan fungsi pun manut-manut saja

Kesal rakyat tak bersudah.

SigondrongDalamDiam
29Mei2020

Ganti Kepling (Kadus)

Gawat.. Satu Dinding Kontrakan dengan Kadus tak Terima Bansos , mengutip warta media lokal online LabuhanBatu , ikabina.com yang ditulis oleh Iswandi , sungguh sangat gawat , Desa Emplasmen Kecamatan Bilah Hulu yang mana Bansos BST mau pun BLT-DD yang harusnya dinikmati untuk masyarakat yang benar-benar tidak mampu dan terdampak tapi justru dinikmati kebanyakan keluarga perangkat . Ironisnya lagi , anak Kadus (kepala dusun) Atas, Sudono pun dua orang mendapat jatah. Parahnya, keluarga Sekretaris Desa, Wakirin, pun ikut menikmati .
Santi yang satu dinding kontrakannya dengan kadus Beben Maulana bisa tak mendapat .
Lalu bagaimana jika di tempat lain , jika di Desa Emplasmen Kecamatan Bilah Hulu itu bisa terjadi tidaklah mungkin di Kecamatan lain di Kabupaten LabuhanBatu tidak terjadi . Kisah Santi hanyalah yang terekspose media . Di tulisan sebelumnya penulis pernah menuliskan opini ganti kepling ( kepala lingkungan) inilah alasan mengapa penulis menuliskan pendapat sebab penulis meyakini celah kecurangan pembagian bantuan buat warga yang seharusnya menjadi haknya , mau tak mau harus kalah dengan nepotisme perangkat yang paling bawa Kepling atau Kadus . Itu masih yang hidup cemana kalau yang sudah tiada tapi namanya keluar dalam tampilan data penerima , alasan masuk akal katanya belum pecah kartu keluarga , atau bagaimana jika yang terdata keluarga PKH namun dalam bantuan BLT namanya keluar , alasannya pasti salah data . Keluarga PKH pun tahu kalau mereka tak diperbolehkan mendapat bantuan BLT . Terus uangnya kemana? . Dibalikkan lagi ke pusat gitu. Helloo… hari gini ada orang mau membalikkan uang ke pusat , ya tentulah ke pusat perutnya sendiri.
Coba liat di papan pengumuman di kantor desa atau kantor lurah , itu yang keluar datanya di ketik rapi , nama , nomer kartu tanda penduduk dan alamatnya. Bukan nama kepala keluarganya sesuai di Kartu Keluarga. Jelaskan . Jadi ya bisa saja kalau isteri kepling , kadus mendapat bantuan , sebab nomer kartu tanda penduduk yang di rekap bukan nama kepala keluarga .
Inilah budaya gagap perangkat pemerintah dari yang paling terendah. Gagap kalau mendengar apalagi melihat uang. Terlebih lagi itu uang negara , di protes pun percuma , jika camat pura-pura tidak tahu maka berimbas jugalah pada kepala daerahnya tak mengetahuinya.

*SigondrongDalamDiam

Idul Fitri Pertama

Idul fitri tanpa ibu
Kesucian tiada terlihat
Ingatan penuh air mata

Idul fitri tanpa bapak
Kemenangan tiada terlihat
Ingatan penuh air mata

Terlahir kembalikah?
Merayakan kemenangan nan suci
Sedangkan kata maaf tiada tertemui

SigondrongDalamDiam
24Mei2020

Minal Aidin Wal faizin

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah kebiasaan yang diyakini umat Islam di seluruh dunia, Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam sudah tentu bersukacita menyambutnya . jika kita ingat dalam menyambut moment berpuasa itu semua pada sibuk , Pasar ramai dengan orang-orang yang mencari untuk keperluan penyambutan puasa . Sesuai tradisi ada sebagaian yang mandi pangir . Ada yang spesial memasak enak di hari pertama sahur .
Aku tidak lupa , saat dahaga yang sangat menghampiri tenggorokanku , bibir ku pun kering dan pecah-pecah bagaikan tanah kering di musim kerontang , dan aku tidak akan lupa , bagaimana rasa lapar itu datang mengganggu , sampai menciptakan rasa perih di ulu hati membuat badanku lemas tak berdaya . Belum lagi perasaan marah yang harus terkendali yang selalu menyertai dari hari ke hari , semua rasa itu harus bijak kuhadapi di dalam menjalankan puasa ramadhan tahun ini.
Tiba-tiba aku merasa sedih yang tak bisa kuunggapkan dengan kata apa pun , yang aku tahu tak akan ada lagi santap sahur tiap setengah empat subuh dan apakah aku juga akan merasakan Ramadhan di tahun depannya lagi.

Usai sudah berpuasa penuh di bulan Ramadhan . Pasar-pasar pun kembali ramai semua disibukkan dengan penyambutan lebaran atau idul fitri , makanan besar sudah pasti terhidangkan dengan tak lupa baju baru lengkap dengan pernak-perniknya, ada yang membeli jajanan dengan maksud mereka tidak mau mengecewakan tamu yang biasa hadir ke rumah dengan tradisi ‘halal-bi-halalnya.
*Lalu apakah sebenarnya arti lebaran itu ?.
Apakah dengan kemewahan dikatakan baru lebaran ?.
Lebaran itu bukanlah kata ganti Idul Fitri sebab kata lebaran adalah kata kebiasaan dikalangan masyarakat Indonesia .lebaran tidak memiliki arti kesucian ataupun pengembalian roh pada titik awal.
Lebaran memiliki lima padanan kata yang berkaitan dengannya. Lima kata tersebut adalah lebar-an, luber-an, labur-an, lebur-an dan liburan, lebaran konon berasal dari kata lebar yang dibubuhi imbunan -an. Lebar yang menjadi awalan dari lebaran bukanlah lebar dalam arti bangunan, lapangan atau pun halaman. Akan tetapi ‘lebar hati’ kita untuk memaafkan .
Lebaran dianggap juga sebagai kata yang bermula dari ungkapan luber. Luber dalam KBBI memiliki arti melimpah, meluap.
Lebaran juga dapat di artikan melewati batas daripada batas yang ditentukan. Luber maafnya, luber rezekinya dan luber pula pahalanya sehabis Ramadhan. Untuk itu, maka luber-an bertransformasi menjadi lebaran.
Secara filosofi kata lebaran juga dapat dimaknai menyatukan , menyatukan kembali hubungan yang jauh dengan kata maaf-maafan . Namun identiknya kata lebaran lebih kepada kata libur dan liburan . Libur sekolah , libur kerja yang berakhir kepada liburan .

*Apa itu Idul Fitri?
Idul Fitri adalah hari raya umat muslim (Islam) merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa. Idul Fitri memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri yaitu manusia dengan Tuhannya .
Hingga memaknai Idul Fitri bagaikan manusia terlahir kembali yang berarti hari raya dimana umat Islam untuk kembali berbuka atau makan seperti biasa kembali .
Inilah namanya kemenangan , setelah satu bulan penuh menjalani hari dengan penuh menahan hingga hari idul fitri manusia itu dikembalikan Tuhannya kepada kesuciannya kemurniannya , bagi yang mendapat hidayah akan berubah cara menjalani kehidupannya . Sebab telah belajar sebulan penuh dengan berpuasa. Sebab dul Fitri dalam konteks ini berarti kembali kepada asal kejadiannya yang suci dan mengikuti petunjuk Islam yang benar..
Untuk itulah sebagaian yang mengetahui kemenangan tidaklah akan bermewah-mewahan di hari yang Fitri.
Kini bulan Ramadhan telah berlalu, tapi satu hal yang tidak boleh meninggalkan kita dan harus tetap bersama kita yaitu spirit dan keyakian yang kuat terhadap Tuhan .
Mungkin banyak terdapat kotoran dan noda yang membekas di hati dan pikiran pembaca akan penulis untuk itu penulis merasa perlu mengucapkan; SigondrongDalamDiam (Sugianto) dan keluarga kecil di Astana Air mata mengucapkan Minal Aidin Wal faizin Mohon Ma’af Lahir dan Batin .
Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongannya kepada kita semua. Dengan menjadi hamba yang pemaaf maka jangan biarkan kedengkian dan kebencian merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci di Ramadhan yang telah kita jalani.
Aamiin.

Memberontak PRRI (11) Tulangku Bebas

PASUKAN pemberontak makin kucar-kacir. Selain karena makin banyak yang keluar dari hutan dan turun dari gunung untuk menyerah, terbersit berita bahwa beberapa orang pentolan PRRI sudah ditangkap. Seruan Tentara Pusat agar pemberontak meletakkan senjata – cease fire, tanpa dihukum, bahkan diberi kesempatan untuk bergabung jadi anggota TNI, seakan jadi senjata pamungkas yang ampuh melumpuhkan perlawanan gerilya pemberontak PRRI.

Pertengahan bulan Desember 1960 seingatku saat itu. Saya jadi ingat betul bulan itu sebagai bulan Desember karena kegiatan di gereja untuk persiapan menyambut hari raya besar Natal, mulai ada. Diumumkan bagi yang mau ikut drama tentang kelahiran Yesus Kristus agar mendaftarkan diri. Begitu juga bagi yang ikut pajojorhon (liturgi).

Sehabis makan malam di dapur diterangi lampu teplok, kami masih ngobrol. Aku dan kedua Ompungku. Dalam obrolan kami,Ompung doli sangat berharap Tulang bisa pulang sebelum tahun baru. Syukur2 bisa bersama pada hari Natal. Ompung boru hanya manggut2 saja mendengar omongan suaminya, sambil sesekali terdengar desahan nafas panjangnya.

Di suasana malam hening ketika kami masih duduk di ubin beralas tikar itu, terdengar ketukan kecil di pintu dapur, yang menghadap ke pekarangan belakang rumah ompung. ” Omak, Omak.” Suara yang memanggil itu langsung kami kenali sebagai milik Tulangku paling besar

Tulang mungkin melihat dapur di mana kami duduk lesehan masih terang sehingga dia yakin ada orang di dapur lalu berani memanggil-manggil Ompung. Biasanya jika tidak ada lagi orang di dapur, pasti dapur sudah gelap gulita. Lampu teplok yang biasanya jadi penerang tidak akan dibiarkan menyala.

Aku melompat ke pintu sebelum Ompung doli berdiri bereaksi..Tidak ada keraguan sama sekali di hatiku untuk membuka pintu dapur itu karena aku yakin itu suara Tulang
Tidak akam.mungkin keliru, sebab tarikan nafas Tulang saja sangat kukenali. Kunci aku buka dan palang kayu yang membentang fi pintu kuangkat, sehingga Tulang membuka sendiri pintu itu, mendorong ke dalam.Ialu menghambur masuk ke rumah.

Ia memberi aba2 supaya kami tenang membuat Ompung tetap duduk. Ompung boruku menciumi wajah Tulang dan membelai-belai rambutnya yang panjang lepas tergerai hingga sebahu. Selanjutnya Ompung menawari Tulang makan dan diiyakannya. Kami menyaksikannya makan lahap.

” Boasa songoni lelengmu ndang mulak ( Kenapa begitu lama kamu tidak pulang ),” tanya Ompung boru kepada Tulang setelah selesai makan. Dengan sangat enteng Tulang menjawab pertanyaan Ompung dengan mengatakan ; banyak kerjaan sehingga gak sempat pulang. Seolah-olah Tulang enggan menceritakan apa saja yang dialaminya selama menghilang itu.

Beberapa saat lamanya kami masih berbincang dan begitu kantuk terasa menyerang, Ompung mengajak kami tidur. Istirahat. Aku tidur di kamar yang sama dengan Tulang. Kulihat Tulang yang rebahan di lantai dengan beralas kasur, gelisah. Tubuhnya berbalik ke kanan, lalu ke kiri. Aku segera meringkuk tertidur di bawah selimut berbahan wol yang sudah kumal. Selimut itu sangat bermanfaat menghangatkan tubuhku dari udara yang dingin.

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan tentang kisah pengalamanku di masa kecil di suasana Pemberontakan PRRI ini, Tulang membangunkanku dari tidur lelapku.
Disuruhnya aku mengikutinya berjalan merunduk mengendap-endap melewati ruang tamu ke arah dapur. Dari pintu dapur, dia mengajakku berlari kencang di dalam kegelapan melalui halaman luas rumah Ompung.

Kami menerobos pagar bambu, selanjutnya kami sudah berada di persawahan. Lewat gadu2 yang basah dan di antara ilalang, kami tiba di satu rumah panggung kecil. Selama 2 malam aku menemani Tulang di rumah kecil yang pengab berdebu itu.Sehelai tikar lusuh jadi alas tidur kami. Karena lantai rumah itu terbuat dari papan, maka tidak membuat badan masuk angin.

Makanan kami secara sembunyi2 dipasok O mpung boru selama kami di situ. Entah bagaimana caranya Ompung mengetahui bahwa kami ada di rumah itu.

Selama berada di rumah tersebut, Tulang tidak banyak bicara. Tapi ada perkataan dia yang saya ingat berbunyi; kalau berjuang harus bertahan apa pun yang terjadi. Tentu ini diucapkannya dalam bahasa Batak. Ternyata, hanya kegelisahan dan ketakutan hatinya saja yang merasa dikejar-kejar mendorong dia mengajak saya melarikan diri dengan meninggalkan rumah malam itu.

Walau Tulang sudah tahu pihak Pusat memberi suaka dan amnesti bagi yang mau menyerah, dia tidak tertarik mengikutinya. Dia berprinsip bertempur sampai darah penghabisan.

Begitu lah, menjelang memasuki malam ketiga kami di rumah persembunyian itu, tatkala matahari masuk ke peraduan dan suara jangkrik serta kodok mulai terdengar memenuhi sekitat rumah kecil itu, ada suara lirih memohon, berasal dari dekat tangga rumah kecil itu
” Buka pintunya,Nak.” Suara itu suara Ibu Tulangku.Suara Ompungku.

Tulang menatapku sejenak dan walau agak ragu, dia membuka pintu. Begitu pintu terkuak, ada teriakan : ” Jangan melawan. Ikut kami.” Tulang tidak bereaksi apa2 selain mengangkat kedua tangannya ke atas sambil bergerak turun dari rumah melangkah lewat tangga. Dia menoleh kepadaku dan mengajakku turun.

Aku berlari ke arah pintu dan menyusul ikut turun. Ompung menyambutku ke dalam pelukannya. Kali ini aku menangis terisak-isak, melihat Tulangku digelandang oleh tentara berpakaian hijau, menyandang senjata panjang. Tulang dinaikkan ke jeep. Kedua Jeep yang ditumpangi beberapa orang tentara itu dan di antara mereka Tulang duduk, melaju dan belok kiri ke arah Balige.

Ternyata, Tulang termasuk dalam daftar Tentara Pusat sebagai salah satu orang penting di kelompok mereka, sehingga dia jadi target yang diusahakan ditemukan. Maka dengan mendekati Ompung secara persuasif, akhirnya Ompung boru buka suara di mana Tulang berada. Dan dengan mudah, Tentara Pusat menangkapnya. Belakangan ketahuan oleh Tulang, seorang anggota kelompoknya yang menyerahkan diri kepada Tentara Pusat beberapa jam sebelum Tulan pulang malam itu, yang memberi informasi tentang posisi Tulang.

Mendengar Tulang nomor 1 sudah ditangkap Tentara Pusat dan berada di tempat penampungan di Balige, Bapaku datang ke Tambunan menemui Ompung di rumahnya. Beberapa lama mereka tampak ngobrol serius, dan bapak meyakinkan Ompung akan segera mengurus kedua Tulangku dengan mengandalkan bantuan Kapten TR Simanjuntak dan Bapak Uda. Ompung sama sekali tidak ragu akan kesanggupan Bapak, karena dia mengetahui keberadaan Amangboru dan Bapak Udaku itu. Hanya perlu kesabaran saja menunggu hasilnya.

Dikarenakan Pemerintah Pusat sendiri sudah berjanji dan membuka kesempatan memberi suaka dan amnesti kepada para pemberontak PRRI yang bertobat, Amangboru Kapten TR
Simanjuntak dan Bapak Uda Letnan L.Siahaan dibantu Letnan Samsi yang anggota Pasukan Siliwangi, tidak menemui hambatan berarti untuk mengurus kebebasan kedua Tulangku. Tulang pertama dan kedua.

Setelah melalui pemeriksaan pendahuluan yang diperlukan, tanpa menunggu waktu lama kedua Tulangku diserahkan kepada orang tuanya. Mereka tidak perlu ikut ke Siantar atau ke Medan sebagaimana yang terjadi kepada para mantan pemberontak lainnya.

Harapan Ompung agar Tulang bisa pulang paling tidak sebelum tahun baru terwujud. Bersama kedua Tulang, mereka bisa bersama-sama bernyanyi dan berdoa meninggalkan tahun lama 1960 masuk ke tahun baru 1961. Seperti kebiasaan bagi orang Batak, pas tengah malam saat lonceng gereja dibunyikan bertalu-talu, pergantian tahun merupakan acara khusuk bersama hampir di tengah setiap keluarga.

Selanjutnya, di kemudian hari, mereka kembali ke kegiatan masing2, sesuai janji Pemerintah Pusat yang akan memberi kebebasan dan hak penuh sebagai warga negara bagi para mantan pemberontak itu. Tulang nomor 1 meneruskan kegiatannya sebagai pedagang dan tani, sedang adiknya kembali mengjajar di depan murid2nya.

Ompung doli terlihat bergairah lagi hidupnya. Tidak pernah lagi cangkir kaleng tempat kopinya, tidak habis isinya seperti saat Tulang belum jelas di mana rimbanya. Kini selalu hanya ampas kopi saja yang tersisa di dasar muk itu.

Tamat

*Nelson Siahaan adalah pelaku dari kisah ini , ia tulis kenangan kecilnya tentang pemberontakan PRRI di daerah Tapanuli Utara Sumatera Utara
Beliau lahir 25 Desember 1952.
Pendidikan terakhir S1.
Berkerja sebagai Wartawan di salah satu media di Jakarta.

Memberontak PRRI (10) Turun Gunung , Memyerah

MASIH pagi, Ompung baru bangun. Suara memanggil-manggil Ompung datang dari arah pintu depan. Ompung boru membuka pintu. Ternyata yang berdiri di hadapannya adalah tetangga pemilik rumah di sebelah, yang rumah mereka hanya dipisah halaman dan pagar. Tamu itu marga Tambunan juga, aku pun sehari-hari memanggilnya dengan sapaan tulang.

Tetangga itu dipersilahkan masuk dan mendekati Ompung doli yang duduk di ruang tamu. Ompung boru segera ke dapur, untuk membuat teh manis. Ompung boruku ini tidak pernah membiarkan tamu pulang jika berkunjung ke tumahnya sebelum minum dulu, paling tidak teh manis.

Tulang itu ,yang sapaannya Amani Victor, seorang anggota polisi yang punya status cukup tinggi di kantor polisi Kecamatan Balige. Maksud kedatangannya ingin pamit kepada Ompung karena ada rencana ia akan dipindah tugas ke daerah lain.

Menurut Tulang amani Victor itu, keberangkatan ke tempat tugas yang baru di kota Pematang Siantar akan segera dilaksanakan. Itu perintah yang dia terima dari komandannya di kantor. Sebagai bawahan harus patuh perintah komando.

Tengah mereka asik ngobrol, seorang bapak muncul lagi di pintu rumah Ompung yang dibiarkan terbuka. Maksudnya juga ingin bertemu dengan Ompungku, mau memberitakan sesuatu. Maklum, Ompung sebagai kepala kampung dianggap sebagai pengayom oleh penduduk desa itu.

Mereka bertiga bersalaman, dan bapak yang barusan tiba dipanggil, amani Robis, duduk bergabung. “Naung di son do Abang hape (Sudah di sini abang rupanya),” kata amani Robis kepada amani Victor, membuka pembicaraan.

Sama seperti Amani Victor, amani Robis juga hendak lapor kepada Ompung sekaligus pamit bahwa dia akan segera diberangkatkan ke Kotacane, Aceh, menempati daerah tugas baru. Amani Robis ini pun seorang anggota polisi yang berkantor sama dengan amani Victor.

Itu lah maksud kedatangan kedua anggota polisi yang menjadi warga Ompung itu. Mereka ijin pamit sekaligus minta restu. Beberapa hari kemudian mereka diberangkatkan ke tempat tugas masing2.Amani Victor ke Siantar dan amani Robis ke Kotacane. Selain mereka, masih banyak anggota polisi Tapanuli Utara lainnya ke daerah lain. Pokoknya bertugas harus jauh dari wilayah Tapanuli.

Apa yang mendasari adanya tour of duty di kalangan polisi di Tapanuli itu, ternyata merupakan taktik dan kebijaksanaan Pemerintah Pusat.

Hubungan antara Maludin Simbolon sebagai Pimpinan teratas PRRI di Sumatera Utara sangat erat dengan Jenderal Hoegeng yang menjabat Kapolri waktu itu. Pemerintah Pusat sangat paham hal itu, sehingga mereka ingin hubungan baik itu jangan dimanfaatkan Simbolon untuk mempengaruhi anggota polisi di daerah Tapanuli agar ikut gabung ke dalam pasukannya jadi pemberontak PRRI.

Pemerintah Pusat tidak ingin Pak Hoegeng dipengaruhi Simbolon karena kedekatan hubungan itu, agar memerintahkan jajarannya ikut angkat senjata bersama PRRI melawan Pemerintah Pusat. Kepemilikan senjata sekaligus prajurit polisi terlatih dapat membuat kekuatan PRRI makin besar, jika itu sampai terjadi.

Telegram untuk tour of duty terutama bagi anggota polisi yang punya posisi penting segera dilayangkan ke Markas Kepolisian Sumatera Utara, untuk diteruskan ke kantor2 polisi di Tapanuli.

Kecepatan taktik pecah belah antara Pak Hoegeng dan Kolonel M.Simbolon tidak sempat menambah kekuatan personil dan persenjataan PRRI.

Pemerintah Pusat,di mana Jenderal AH.Nasution yang menjadi Kasad TNI saat itu mengirim pasukan dari Pulau Jawa untuk membantu anggota TNI Bukit Barisan di Sumatera Utara. Baik melalui darat maupun melalui terjun dari udara.

Di antara anggota TNI yang dikirim.dari Pusat, ada seorang perwira menengah berpangkat Kapten. Namanya TR.Simanjuntak. Dia ini adalah amangboruku juga. Sama dengan Amangboruku yang ikut PRRI, istri TR.Simanjuntak ini adalah adek kandung
(Ito, bahasa Batak) bapaku. Bedanya, istri Amangboru Simanjuntak yang anggota pemberontak, itu kakak bapaku. Persis di atasnya.

Bukan cuma TR.Simanjuntak keluarga kami, Siahaan, yang jadi anggota TNI ketika itu yang harus memerangi pemberontak. Ada juga adek bapaku berpangkat Letda namanya L.Siahaan, tapi kesatuannya 123 bertugas di Kisaran. Saya memanggilnya bapak uda, karena dia adek bapaku.

Berpangkat kapten di tengah Pasukan Tentara Pusat, TR.Simanjuntak berperan penting di kesatuan yang diterjunkan ke Sumatera Utara, terlebih ke daerah Tapanuli. Dengan pars perwira lain dari Pasukan Siliwangi, tentu dia menjalin hubungan erat. Salah satu perwira Pasukan Siliwangi yang dekat dengannya adalah: Letnan Samsi.

Bertugas di Tapanuli, yang salah 1 kotanya adalah Balige, dimanfaatkan Amangboru dan Bapak Uda untuk mengunjungi keluarga Ompungku dari keluarga Siahaan. Ompung mengumpulkan anak2nya, termasuk Namboruku, istri Simanjuntak yang berada di hutan mengikuti PRRI.

Dalam kesempatan pertemuan itu, TR.Simanjuntak mengajak Letnan Samsi ikut bersamanya. Sembari makan di rumah Ompung, Namboru menceritakan keterlibatan suaminya kepada ketiga anggota TNI itu. Amangboruku, Bapa Udaku dan Letnan Samsi. Dia ingin Amangboru mempengaruhi suaminya untuk meninggalkan pemberontak, agar kembali ke tengah keluarga.

“Hatopma ulahon i.Jou Abangmi mulak. (Cepat kerjakan itu. Panggil Abangmu pulang), ” tegas Ompungku menimpali permohonan Namboru yang disertai air mata.

Amangboru, TR.Simanjuntak berjanji akan segera berusaha menemui amangboru Simanjuntak yang ada di tengah hutan. Bersama Bapak Udaku dan Letnan Samsi, dia merencanakan akan menemui Simanjuntak yang pemberontak itu untuk menyuruhnya menyetahkan diri. Tentu keamanan Amangboru pasti dalam jaminan mereka.

Letnan Samsi sejak diajak Kapten TR.Simanjuntak ikut ke rumah Ompung, menjadi sangat dekat hubungannya dengan keluarga kami. Ia tidak sungkan lagi tiba2 muncul di rumah Namboru, minta makan.

Pada suatu hari, TR.Simanjuntak mengatur pertemuan dengan Amangboru Simanjuntak yang ikut pemberontak, melalui Letnan Samsi. Seperti diketahui, Pasukan Siliwangi ini walau turut menggempur dan mengejar pasukan pemberontak, ada hubungan baik tersendiri antara mereka. Keadaan semacam itu lah yang membuat Amangboru Kapten TR Smanjuntak dengan mudah bertemu sama Simanjuntak pemberontak.

Dalam pertemuan di tempat tersembunyi, TR.Simanjuntak melancarkan bujukan kepada Simanjuntak pemberontak itu agar segera meninggalkan PRRI. Menjauhi hutan dan pegunungan tempat mereka bergerilya. Kapten TR.Simanjuntak mengeluarkan jurus mengcounter iming2 Maludin Simbolon yang merasuki pikiran dan hati Amangboru pemberontak itu, agar ia mau menyerah.

Tidak lama berselang setelah pertemuan antara dua Simanjuntak, seorang anggota TNI dan seorang lagi pemberontak, itu, kami dapat kabar bahwa Amangboru sudah meninggalkan pemberontak PPRI. Menyerahkan diri kepada Tentara Pusat yang difasilitasi saudara2nya dan Letnan Samsi. Sedang Simbolon kehilangan kehilangan salah 1 orang andalannya dalam strategi.

Amangboru muncul di rumahnya di Siahaan Balige,yang berhadapan langsung dengan rumah potong hewan, Balige.

Keluarga besar Siahaan bersuka ria, berkumpul makan bersama di rumah Namboru. Kami selamatan mengucap sykur dengan kembalinya si pemberontak. Amangboru ditepung tawari oleh Ompungku. Beras, sipir ni tondi, dijumput di ujung jari ditaruh di kepalanya.

Hubungan baik Amangboru yang mantan pemberontak dengan beberapa orang pejabat di Pusat, salah 1 di antaranya AE.Manihuruk, membuat dia tidak harus berlama-lama menganggur di rumah. Sebelum mengikuti ajakan M.Simbolon, Amangboru menjadi pegawai Kementerian Agama di Tapanuli Utara sebagai Kepala Jabatan Agama.

Berkat jasa baik AE.Manihuruk, mantan pemberontak itu kembali bekerja di lingkungan Departemen Agama, tetap memegang jabatan Kepala Jabatan Agama. Tapi penempatannya bukan di Tapanuli Utara lagi, melainkan ditugaskan di Sibolga, di tepian Lautan Hindia. Beberapa tahun bertugas di Sibolga, dia dipindah lagi ke kota Pakan Baru, Riau. Dan masa tugasnya berakhir di kota itu pula.

Sementara keluarga Ompung dari Bapak sudah bersenang hati, keluarga Ompungku dari ibuku, masih dalam kesedihan, karena Tulangku, anaknya paling besar belum juga ketahuan nasibnya. Entah di mana dia berada. Kecemasan terus membayangi kedua Ompungku. Ompung doli dan Ompung boru. Aku juga turut kehilangan Tulang yang sudah lama tidak nongol di rumah ompung.

(Bersamnung)
*Nelson Siahaan