Praktek Baik Pencegahan Korupsi

Dari 10 kabupaten/kota, LabuhanBatu termaksud kabupaten yang mendapat sorotan tersendiri oleh pemerintahan pusat, dalam hal ini langsung oleh kementerian sosial pasalnya berdasarkan Data Terpaduan Kementerian Sosial (DTKS Kemensos) LabuhanBatu ternyata secara aktif selalu melakukan pemutahkiran data, tercatat dari jumlah ruta(rumah tangga) lebih 32ribu dan jumlah jiwa lebih dari 130ribu pemutahkiran DTKS melakukan pengusulan baru 72% perbaikan DTKS, termaksud melakukan pengusulan baru serta perbaikan data penerima bantuan sosial pangan 20% dan 40%.Kepadaan DTKSnya dengan NIK di Kabupaten LabuhanBatu mencapai 92%, tingginya pencapaian pemutahkiran data tersebut tidak terlepas dari kerja bupati dengan dinas terkaitnya.
Sebuah pencapaian yang sangat patut di apresiasikan.
Seperti yang kita ketahui jika masalah data pendataan terlebih masalah data mendata prihal bantuan, adat mengaku miskin pun bagai telah putus urat malu sedangkan yang benar-benar miskin pun bagai putus asa mendengar kata bahwa kemiskinan menjadi tanggungjawab negara karna ulah yang tak berbudaya berlomba-lomba mengaku miskin. Celah korupsi dalam bantuan sosial bukanlah tidak sedikit, karna sipatnya bantuan pastilah tempatnya uang.
Namun kecakapan sesorang Bupati LabuhanBatu Andi Suhaimi beserta dinas terkait yakni dinas sosialnya pelan tapi pasti, menyelesaikan semua dengan pemutahkiran data yang valid. Alhasil buah dari kerja keras tersebut pun mendapat apresiasi langsung dari Presiden Jokowidodo yang langsung memberikan penghargaan di gedung putih Komisi anti rasuah saat sebagai Penghargaan Penalis Talkshow Praktek Baik Pencegahan Korupsi pada program Aksi Nasional Pencegahan Korupsi (ANPK) Tahun 2020 di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jalan Kuningan Persada Kavling 4, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2020).

Tentu sebagai masyarakat khususnya LabuhanBatu kiranya penghargaan tersebut tidaklah hanya sekedar penghargaan yang dapat di artikan hanyalah sebuah simbol di mana hanya terlihat baik di luar namun busuk di dalam. Mengingat warna rambut yang sama hitam namun isi kepala dan hati masih perlu di revolusi mental.
Busuknya ikan tidak mungkin dari ekor tetap dari kepala, untuk itulah sangat diharapkan peran yang super aktifnya seorang pemimpin bertanggungjawab penuh terhadap yang dipimpinnya, terlebih jika seorang pemimpin tersebut telah mendapat penghargaan Praktek Baik Pencegahan Korupsi maka semakin besarlah tanggungjawabnya bukan hanya kepada yang dipimpinnya tapi kepada dirinya sendiri dihadapan Tuhan dan Hukum pastinya.

Memang tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki di dunianya pastilah semuanya terjadi dengan ijinNya, sebagai manusia yang tidak mungkin hanyalah memakan kepalanya sendiri , akhir kata siapa pun membawa inovasi dan kreatifitas untuk LabuhanBatu ke arah yang lebih maju maka akan tercatat namanya dalam sejarah di bumi ika bina enpa bolo.

*SigondrongDalamDiam

Siapakah Hamba?

Siapakah hamba itu
Apakah yang papa
Ataukah yang jelata

Siapalah hamba itu
Apakah yang kepapaan
Ataukah jelata yang kejelantahan

Tutup mata sumpel telinga
Sumpel telinga tutup hidung
Hamba menghamba menghambakan memperhamba
Sahaya.

Tiada lebih di mata kuasa cipta semua sama

Adakah Tuan puan hamba
Berhamba pantas mengabdi
menghambai perhambaan cinta
Pada hamba sahaya

Sigondrong Dalamdiam
26Agustus2020

Tugu Juang45 Lobusona Dalam Film Pendek

Ada sesuatu yang berbeda di hari memperingati kemerdekaan Indonesia 2020 ini di Kabupaten LabuhanBatu, walau di tengah pandemi covid19 namun semangat untuk menghargai dan meneruskan kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan harta dan nyawa oleh para pejuang terdahulu kini apa yang diperbuat oleh generasi penerusnya patut di acungkan jempol karna suatu kreatifitas tanpa batas telah dilahirkan oleh Rumah Kompetensi Indonesia bersama Rumah Peduli Labuhanbatu dan ikabina.com baru-baru ini telah mengadakan
Festival Film Pendek dengan latar histori Tugu Juang 45 Lobusona jadilah kemeriahkan HUT ke-75 di Kabupaten LabuhanBatu menjadi berbeda dari sebelum-sebelumnya dengan mengangkat tema “Semangat Nasionalis Milenial LabuhanBatu.”

Dimana para kreator yang menjadi peserta diwajibkan shooting di tugu juang 45 Lobusona. Kemudian di film berdurasi 5 menit tersebut para peserta juga diwajibkan menyampaikan pesan moral protokol kesehatan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
Namun bagi penulis sebenarnya dalam Festival ini adalah menjadi ajang promosi bumi ika bina enpa bolo dengan segala keberagamannya, mengingat umur kemerdekaan dengan umur LabuhanBatu hampir sama namun kemerdekaan belum tentu sama hingga diharapkanlah dengan bahasa seni sebagai bahasa pemersatu untuk meneruskan kemerdekaan dan mempergunakan kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.
Dan saya penulis selaku anggota Dewan Kesenian LabuhanBatu sangat mengapresiasikan kreatifitas seperti ini hadir di LabuhanBatu, jadi tidaklah terfokus kepada Dewan Keseniannya sebagai wadah lembaga seni yang harus mengadakan tapi menjadi tugas kita bersama memajukan seni itu sendiri sesuai seni kita masing-masing. Karna jika kita berharap kepada lembaganya mana tahu yang mati suri pula lembaga seninya, jika bukan orang seni yang memulai seni itu sendiri mana mungkin kita tunggu orang luar membawa seni, itu artinya kita menjadi pengagum budaya pengikut.
Penulis juga sependapat dengan apa yang dikatakan salah satu tokoh penting di dunia pendidikan LabuhanBatu yang juga seorang pemikir ulung dengan bukti untuk masyarakat kepulauan Riau yakni Bapak Ade Parlaungan Nasution selaku Rektor Universitas LabuhanBatu, bahwa katanya “Festival ini telah memberikan ruang berkreasi dan berekspresi bagi generasi milenial, dimana para kreator dapat meluapkan ide dan gagasannya untuk mengenang jasa para pahlawan. Dengan begitu, kreator-kreator muda berbakat bermunculan,”

Jadi wajarlah karna ide itu bagai bom waktu bagi orang seni maka tak heran jika sambutan dari peserta cukup tinggi. Ya karna jarang-jarang juga mungkin alasan kuatnya, Dimana para kreator yang mengikuti Festival Film Pendek Tugu Juang 45 Lobusona tidak hanya dari Labuhanbatu saja, melainkan datang dari Rokan Hilir, Riau, Labuhanbatu Selatan, dan Labuhanbatu Utara.
Pesertanya pun dari latar belakang yang berbeda ada dari sejumlah sekolah dan komunitas, termasuk para kreator.

Dan ternyata pendaftaran gratis, dengan Total hadiah jutaan rupiah plus souvenir dan sertifikat pemenang. Cukup menggiurkan ide para Filmmaker atau Sineas karna Panitia akan memilih 5 (lima) nominasi film terbaik yang dikirim oleh peserta dan akan diputar pada malam penganugerahan di ZnS Cafe dan Resto, Jalan Cut Nyak Dien, Rantau Perapat, 30 Agustus malam.
Akhir kata semoga sukses buat Sineas yang berkompetisi.
Salam santu dan salam melangit Mimpi

*SigondrongDalamDiam

Sakitnya Kena Angin Duduk

Jasat ini semakin rapuh
Pundak ku yang dahulunya mampu memikul beban seratus kilogram sekali pikul
Kini terasa denyut, apabila udara tidak bersahabat
Terlalu dingin atau terlalu panasnya udara membuat bekas luka tikaman di kanan kiri leherku membuka kembali dengan rasa denyut, terlebih jika sehabis hujan di malam hari atau hujan yang tak jadi.
Denyut itu sangat dasyatnya melanda sampai merinding-rinding sehabis kencing,cuman bedanya mataku tak terasa kadang berair.
Mungkin juga faktor usia yang tak lagi muda menjadi salah satu alasan antibody ini menurun ditambah keadaan pikiran dan hati, semoga saja dijauhkan penyakit
Karna aku penganut bahwa penyakit itu datangnya dari hati dan pikiran yang keadaannya tak baik alias tidak stabil.
Kadang-kadang kurasakan badan ini bagai ditimpa balok, beratnya minta ampun . Jika sudah demikian maka kusuruhlah anakku untuk memijak-mijak badan ini dengan tumit kakinya.
Jadi ingat saat jadi perantau di negeri orang Rokan Hilir, waktu itu aku jadi kuli sawmil. Ya.. walau pun balik ke kampung halaman juga jadi kuli bongkar muat juga.
Saat di sawmil, tiap pagi tangan ini harus di hangatkan di atas tunggu perapian sampai terasa nyaman jika tidak, apabila memegang benda yang ringan seperti gelas maka akan jatuh, perasaan sudah dipegang ternyata belum.
Mungkin karna kebiasaan memegang yang berat(balok’balok kayu) makanya mati rasa jari-jari tangan ini dengan yang ringan.
Yang lebih sakit lagi kala itu , di tengah malam aku bagai lupa cara bernapas, dadaku bagai ditusuk jarum sakitnya apabila menarik napas, perasaan mau muntah ketika memasukkan sesuatu ke dalam mulut, untungnya aku yang dari masa sekolah di tingkat menengah atas setiap mau beranjak tidur selalu meditasi (sekarang ini aku tahu itu disebut yoga). Alhasil, dengan proses menjelang subuh dengan susah payah tak karuan menaahan sakitnya, aor mata pun menetes dengab sendirinya,akhirnya bagian pantatku yang bernapas panjang.
“Protttt…” rupanya kena angin duduk kala itu, saat kuceritan beberapa hari kemudian kepada mbak Surip selaku ketua Rukun Warga.
Sakitnya kalau diingat-ingat, di tengah malam sendirian menahankan sakit di saat semua orang pada tertidur lelap dengan mimpinya masing-masing.
Aku berjuang sebdiri di ruangan dapur rumah sewa hanya untuk bisa bernapas normal.kalau makan sendiri sambil buat teh manus atau kopi tengah malam sehabis mandi dari pulang kerja, itu biasa. Ini kalau benar-benar lupa cara bernapas aku artinya aku pun dijemput izrail. Sykurnya izrail lagi bertamu tempat yang lain.
Jika tangan ini tak karuan lagi bentuk kapalannya, seminggu sekali wajib panen kapalan aku,
yakni taburan-taburan seperti tepung beras,putih dan lembit jika kapalan di tangan terkoyak sendiri.memang aku tak pernah mengoyaknya karna lebih baik terkoyak sendiri.
Itu jugalah alasanku dahulu mengapa aku lebih suka makan menggunakan sendok ketimbang langsung mengghnakan jari-jari tangan karna sudah lelah kali tanganku yang jari makan mengaoa juga harus langsung jari-jariku memasukkan makanan ke dalam mulutku.

Syukurnya kulit badan ini cepat beradaptasi terhadap serbu atau getah kayu-kayu yang akan di olah menjadi bahan bangunan, seperti papan,broti dan lain-lain. Hanya pada miang kayu ramin kulitku tak tahan, miangnya mirip dengan miang bambu kalau kawan-kawan satu meja(swamil) dengan mandi saja bisa hilang atau di lap pakai air radiaor mesin sawmil bisa tawar, aku lain lagi, aku harus mandi dengan 2 hingga 3 kali sabunan, sabun awal pakai sabun batang (sabun umumnya berwarna hijau yang biasa digunakan untuk cuci pakaian) untuk yang terakhir aku baru bilasan pakai sabun mandi sebenarnya sabun mandi itu saja tidak cukup karna aku harus menggunakan pisau sebagai pengganti sikat badan karna kalau dengan sikat badan rasa miangnya seperti masih menempel di antara lipatan badan,jadilah seperti cukuran jambang dan kumis kalau mandi aku jika sudah kenak miang kayu ramin, jika tidak begitu, dipastikan akan menggaruk sajalah tangan ini. Kalau pada kayu rengas atau kayu lainnya yang sejenis yang di klaim dapat menyebabkan gatal atau bisa buat kulit melepuh. Kulitku masih tahan, entah mengapa dengan kayu ramin, gak tahan pada hal tetangga depan rumahku di kampung halamanku namanya Bang Ramin, walau sekarang sudah pindah rumahnya di samping kantor polisi militer , itu pun ketika balik kampung aku tahu. Apa karna beliau pindah ya, makanya kulitku gak tahan.
Kalau sakitnya terkenak gergaji selendang meja sawmil berupa satu mata di pergelangan tanganku atau pecahnya jari manis hingga lepas kukunya paling cuman di balut perban sambil terus menerus di siram obat antiseptik cair tak pala mesti di jahit walau pihak kesehatan menganjurkan jahit, aku selalu menolak, bukan aoa-apa semata-mata karna aku lebih bak kuhadapi orang memeegang senjata tajam ketimbang memegang jarum suntik. Ngeri kali rasaku yang di suntik itu.
6 tahun merantau di Rokan Hilir bersama isteri hanya membuahkan anak ke 3 yang lahir di bumi minyak,itu pun sudah susah kali selebihnya tak membuahkan apa-apa kecuali mengetahui jenis-jenis kayu dan tabiat manusia .

SigondrongDalamDiam