Sia-sia

Terpaksa melayani
Melayani terpaksa
Keterpaksaan.

Memaksa melayani
Melayani memaksa
Memaksakan.

Bak pohon anggur tiada pernah berbuah
Letih yang ada hanya merawat
Sedangkan tanah masih gemburnya

Sigondrong Dalamdiam
15Oktober2020

Anak Ibu Pertiwi

Saat anak kehilangan bapak
Adakah anak akan mencari ibu
Yang berabad-abad penuh luka
Namun masih sanggup berdiri demi anak
Dengan satu nyanyian jiwa perjuangan

Ketika bapak tidak lagi berpihak kepada anak
Apakah anak masih setia meninggikan ibu
Yang berabad-abad telah menanggung siksa
Hampir tiada jeda untuk menikmati merdeka

Nak…
Ibumu masih tegak berdiri
Di antara gagapnya serta hilapnya kekuasaan bapak

Nak…
Ibumu tersenyum bangga
Dari sekian abad yang lupa engkau masih mengingatnya
Darah ibu yang mengalir padamu darah memperjuangkan

Nak…
Teruslah pelihara walau dalam prahara
Adat yang telah berabab-abad telah pun hilangnya itu
Menghargai,
Menghormati,
Di tiap perjuangan kepada ibu

SigondrongDalamDiam
11Oktober2020

Kandang Perwakilan Keterwakilan

Gedung perwakilan adalah kandang hewan-hewan ternak yang lapar
Menanti pangan dari majikan rancangan.

Kenyang ketiduran
Lapar beributan.

Pemilik ternak adalah pemilih yang dibayar
Sekali bayar, hewan ternak menjadi liar tanpa batas kepedulian
Apa yang ada dihadapan pasti dianggapkan pangan
Mengingat memasuki kandang dengan nilai yang cukup besar.

Hingga pantaslah jika menghilangkan rasa kelangsungan hidup pemilih berbayar
Bagi hewan ternak yang penting kenyang sekumpulan
Walau ada ketua perwakilan ternak itu hanyalah seremonial
Sebagai tuntutan kumpulan.

Yang duduk-duduk di kandang
Bukanlah hewan ternak sembarangan
Yang duduk-duduk makan minum di dalam kandang adalah hewan-hewan pilihan.

Ada anak beranak
Ada anak agung
Ada anak bapak
Ada anak bini
Ada anak cucu
Ada anak didik
Ada anak ibu
Ada anak kandung
Ada anak sanak
Ada anak rantau
Ada anak wayang
Bahkan ada anak perusahaan
Yang kesemuanya itu tiada satu pun yang mengaku anak kencing
Atau anak-anak tersebut, tiada pernah satu bunyian mengaku anak kunci
Bagi masa depan anak-anak negeri.

Prilaku hewan ternak
Selalu nyaman dalam semak
Yang terbuka akan ditutup
Yang tertutup semakin disembunyian
Jangan sampai tercium bau kotoran satu kandang
Keterbukaan kandang adalah tabu

Perwakilan dan keterwakilan hewan
Sungguh-sungguh benar
Kenyang atau lapar menjadi dua pilihan ketergantungan

SigondrongDalamDiam
10Oktober2020

Rintik Penghianatan Sebudi

Setelah terik yang bergelora
Suasana terlihat baik-baik sahaja
Tanpa gelegar yang menyambar
Rintik pun jatuh tiba-tiba
Membungkam sunyi dengan irama gaduh
Bunyian rintik bagaikan membalas dendam
Yang tak mampu kuhitung satu-satu pukulan jatuhnya
Bunyian itu seperti upatan tertujukan padaku
Tanpa pembelaan matahari ku lirik mesra jelas sinarnya
Pembangkangan terik terhadap air yang mengalir
Rintik ini adalah rintik penghianatan terhadap sebudi

SigondrongDalamDiam
7Oktober2020

Memilih Wakil di Pilkada LabuhanBatu

Di pesta pilkada 2020 ini selalu saja calon bupatinya yang menjadi tolak ukur untuk memilih yang disuguhkan para tim suksesnya,pada hal calon wakilnya pun tak bisa dianggap enteng, secara nalar saja tanpa calon wakil tak mungkin bisa calon bupati seorang diri maju mengikuti kompetisi.
Posisi wakil sangatlah mendukung sang calon bupati dalam mendulang suara, bukan karna kekurangan modal calon bupati itu hingga dicarinya wakilnya yang cukup punya modal, tapi tentunya memenuhi syarat untuk mendulang suara demi meraih kemenangan.
Latar belakang wakil pun sudah barang tentu bukanlah dari kalangan masyarakat yang biasa-biasa saja paling tidak secara hati dan pemikiran teranggap baik kelakuannya bukan dari mulut ke mulut tapi oleh para survei langsung yang pernah merasakan dan merasai baiknya kelakuan dari calon wakil tersebut.
Hingga muncullah komitmen untuk sama-sama memenangkan kompetesi masalah sama-sama membangun jika duduk itu lain lagi karna belum terjalani. Walau pun menurut yang sudah-sudah selalu saja pisah ranjang hingga jatuh talak hubungan antara bupati dan wakilnya.
Muncullah dogma penzholiman ketika ketidakcocokan bupati dan wakilmya biasanya posisi wakil yang sering di zholim karna posisi bupati yang lebih menguasai, namun jarang terjadi pisah ranjang antara bupati dan wakil tersebut berujung mengundurkan diri dari jabatan, alih-alih malah memanfaatkan kedholiman mantan menuju tangga di pilkada selanjutnya, hitung-hitung kampaye gratis sebelum dimulainya kampaye resmi.
Hal-hal demikian selalu saja dipertontonkan dengan bijak oleh sepasang pemimpin daerah dimana pun itu tak terkecuali di labuhanbatu. Yang lucunya tak pernah dan terasa enggan mempertontonkan kemajuan untuk rakyatnya.
Saat kampaye terlihat harmonis antara bupati dan wakilnya seperti pasangan pengantin baru yang selesai saja ijab kabul yang juga selasai malam pertama, kemana-mana selalu bersama, jika pun harus terpisah tetap menggunakan nama bersama.o..nikmatnya saat-saat menjalani pilkada.
Calon wakil bupati adalah orang yang dapat menutupi kelemahan calon bupatinya tentunya sekali lagi bukan menutupi modal awal kampaye dengan perjanjian sekian persen proyek jika duduk nantinya.
Calon wakil bupati itu menjadi orang yang siap membantu bupati dalam memimpin jalannya pelaksanaan urusan pemerintahan yang jadi kewenangan daerah, mengatur kegiatan Perangkat Daerah, menindaklanjuti setiap laporan dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan, memantau dan mengevaluasi setiap penyelenggaraan pemerintahan yang dilaksanakan oleh Perangkat Daerah Kabupaten.
Selalu memberi saran dan pertimbangan pada Bupati dalam pelaksanaan Pemerintahan di daerahnya, juga melaksanakan setiap tugas dan wewenang Bupati, kalo Bupati menjalani masa tahanan atau mempunyai halangan sementara serta selalu siap sedia melaksanakan tugas lainnya sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Wakil bupati pun, mempunyai tugas lain yang melekat pada jabatannya, diantaranya: Memimpin Badan Narkotika Kabupaten (BNK) serta sebagai Penanggung jawab dari Tim Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan BPK Kabupaten.

Kewajiban wakil bupati itu juga selain harus mengamalkan dan berpegang teguh pada Pancasila, melaksanakan UUD Tahun 1945 dan mempertahankan juga memelihara keutuhan NKRI. Juga wajin menaati seluruh ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, hingga tak lepas untuk mengembangkan kehidupan demokrasi dalam masyarakat dengan menjaga etika dan norma yang berlaku dalam penyelenggaraan Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Tentunya dengan menerapkan setiap prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik hingga melalu perintah bupati siap melaksanakan setiap program strategis nasional dengan mengedepankan menjalin hubungan kerja yang baik dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan semua perangkat daerah.
Sungguh indahnya kebersamaan antara wakil bupati dan bupati jika mengacu menurut pembagian tugasnya masing-masing.
Tentunya bukan hanya seorang calon bupati yang bersih dan telah teruji kerjanya tapi calon wakil bupati pun harus juga terbukti kejujuran dan kelakuannya, dalam istilah jawanya, bebet bibit bobot sudah tidak diragukan lagi sehingga sempurnalah yang namanya pasangan calon bupati dan wakil bupati tersebut.

Selamat memilih calon wakil bupati

*SigondrongDalamDiam

Menuju LabuhanBatu Lebih Baik dan Maju

Reformasi menjadi tonggak bersejarah Republik Indonesia ini menemukan kembali arti sebenarnya menjadi pemimpin dan menjadi rakyat, Gerakan massal bawah tanah yang digagas dari kampus ke kampus oleh mahasiswa hingga berujung pada satu titik kumpul di bulan mei dengan tujuan yang sama yakni mewujudkan demokrasi yang sebenar-benarnya yang sesuai dalam amanat Pancasila dan Undang-undang Dasar 45. Maka 32tahun usai sudah sebuah rezim dengan nama Orde Baru atau orba.
Mulailah Republik ini berbenah walau hingga kini berbenahnya tiada siap-siapnya karna korupsi, kolusi dan nepotisme seakan telah mendarah daging yang susah dilenyapkan,Namun begitu tidaklah menjadi tertutup ruang bagi negara untuk berbenah, salah satu berbenahnya usai kejatuhan orde baru adalah memiliih langsung pemimpin di daerahnya masing-masing, dimulai dari pemilihan Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati hingga Kepala Desa. Jika rakyat indonesia selama masa orde baru hanya memilih Dewan Perwakilan Rakyat itu pun hanya memilih partainya saja yang mana pada waktu itu hanya 3 partai yakni, Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia,, melalui pemilu yang diikuti ke tiga partai tersebutlah nantinya cikal bakal yang akan menunjuk langsung Presiden dan Wakil Presiden dengan kata mengamanatkan. Tentunya sesuai selera merekalah yang duduk dengan menyandang gelar anggota Dewan yang terhormat menentukannya siapa Presiden dan Wakil Presiden.
Di masa Reformasi saat ini hal demikian ditinggalkan karna sangat melukai kebenaran sebenarnya berdemokrasi. Maka rakyat harus memilih langsung dengan menyertakan haknya memilih dan dipilih, mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati hingga Pemilihan Kepala Desa, yang kesemuanya itu disebut pesta demokrasi 5 tahunan di Repubilik Indonesia ini.
2020 ini adalah pesta Demokrasi terbesarnya Republik ini karna pemilihan umumnya serentak, setidaknya ada 270 kabupaten/kota yang akan mengelar pilkada serentak 2020 ini antara yakni
Tapanuli Selatan
Serdang Bedagai
Toba Samosir
Pakpak Bharat
Humbang Hasundutan
Asahan
Mandailing Natal
Samosir
Karo
Nias
Nias Selatan
Simalungun
LabuhanBatu*
Labuhanbatu Selatan
Labuhanbatu Utara
Nias Utara
Nias Barat
Solok
Agam
Pasaman
Lima Puluh Kota
Dharmasraya
Solok Selatan
Padang Pariaman
Sijunjung
Tanah Datar
Pesisir Selatan
Indragiri Hulu
Bengkalis
Kuatan Singingi
Siak
Rokan Hilir
Rokan Hulu
Pelalawan
Kepulauan Meranti
Tanjung Jabung Barat
Batanghari
Bungo
Tanjung Jabung Timur
Ogan Komering Hulu
OKU Selatan
Ogan Ilir
OKU Timur
Musi Rawas
Penukal Abab Lematang Ilir
Musirawas Utara
Seluma
Kaur
Rejang Lebong
Kepahiang
Lebong
Mukomuko
Bengkulu Selatan
Bengkulu Utara
Lampung Selatan
Way Kanan
Lampung Timur
Lampung Tengah
Pesawaran
Pesisir Barat
Bangka Tengah
Belitung Timur
Bangka Barat
Bangka Selatan
Lingga
Bintan
Karimun
Natuna
Kepulauan Anambas
Sukabumi
Kab Bandung
Indramayu
Cianjur
Tasikmalaya
Karawang
Pangandaran
Kab Pekalongan
Kab Semarang
Kebumen
Rembang
Purbalingga
Blora
Kendal
Sukoharjo
Wonosobo
Wonogiri
Purworejo
Sragen
Klaten
Pemalang
Grobogan
Demak
Sleman
Gunung Kidul
Bantul
Ngawi
Jember
Lamongan
Ponorogo
Kab Blitar
Situbondo
Kediri
Sumenep
Gresik
Kab Malang
Mojokerto
Pacitan
Trenggalek
Sidoarjo
Tuban
Banyuwangi
Kab Serang
Kab Pandeglang
Karang Asem
Badung
Tabanan
Bangli
Jembrana
Bima
Lombok Tengah
Dompu
Sumbawa Barat
Sumbawa
Lombok Utara
Sumba Barat
Manggarai Barat
Sumba Timur
Manggarai
Ngada
Belu
Timor Tengah Utara
Sabu Raijua
Malaka
Kapuas Hulu
Ketapang
Sekadau
Bengkayang
Melawi
Sintang
Sambas
Kotawaringin Timur
Banjar
Tanah Bumbu
Kab Kotabaru
Balangan
Hulu Sungai Tengah
Kutai Kartanegara
Paser
Berau
Kutai Timur
Kutai Barat
Mahakam Ulu
Bulungan
Nunukan
Malinau
Tana Tidung
Minahasa Utara
Minahasa Selatan
Bolmong Timur
Bolmong Selatan
Poso
Toli-Toli
Tojo Una-Una
Banggai
Sigi
Banggai Laut
Morowali Utara
Pangkajene Kepulauan
Barru
Gowa
Maros
Soppeng
Luwu Timur
Luwu Utara
Bulukumba
Tana Toraja
Kepulauan Selayar
Toraja Utara
Konawe Selatan
Muna
Wakatobi
Buton Utara
Konawe Utara
Konawe Kepulauan
Kolaka Timur
Bone Bolango
Gorontalo
Pohuwato
Mamuju
Majene
Mamuju Utara
Mamuju Tengah
Seram Bagian Timur
Kepulauan Aru
Maluku Barat Daya
Buru Selatan
Halmahera Utara
Halmahera Selatan
Halmahera Timur
Halmahera Barat
Kepulauan Sula
Pulau Taliabu
Boven Digoel
Merauke
Pegunungan Bintang
Asmat
Nabire
Warofen
Yahukimo
Keerom
Supiori
Membramo Raya
Yalimo
Manokwari
Fakfak
Sorong Selatan
Raja Ampat
Kaimana
Teluk Bintuni
Teluk Wondama
Pegunungan Arfak
Manokwari Selatan.

Kabupaten LabuhanBatu, kabupaten yang baru mekar jadi 3 bagian ini pun masuk katagori ikut diitetapkan sebagai kabupaten penyelenggara pesta Pillkada oleh Komisi Pemilihan Umum Daerahnya, persiapan sudah dibuat, hingga anggaran pun telah dianggarkan kpudnya, para calon telah mendafatarkan diri, baik dari independen alias perorangan. Dari 3 bakal calon independen yakni: Zulkarnaen Siregar dengan Suparmo, Ahyar dengan Syaiful dan Suheri dengan irwan ternyata hanya pasangan Suhari dan Irwan yang dinyatakan lulus segala persyaratan pencalonannya. tentunya pelulusannya bukan karna kedekatan mantan guru dan murid, hingga yang dua lagi kini menempuh jalur hukum karna keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah dianggap sepihak memutuskan.
Andi Suhaimi yang notabanenya saat ini masih menjabat bupati walau meneruskan warisan dari kawan seperjuangannya yang kini lebih memilih bersantai di Tanjung Kusta menikmati kesalahannya. Sebagai incambent Andi Suhaimi Dalimunthe lahir batin menyatakan siap maju kembali tentunya tidak lagi sebagi wakil tapi menjadi Bupati yang kali ini beliau berpasangan bersama Faisal Amri mereka di usung oleh partai Golongan karya dengan 10 kursi di legislatif walau di awal Partai Amanat Nasional ikut mendukung, di separuh jalan meninggalkan.hal yang wajar dalam perpolitikkan ,karna dalam politik tak ada kawan yang sejati tapi tujuan yang sejati tentu tak ketinggalan selipan mahar.
Pasangan Erik dengan Ellya Rosa didukung partai Hanura 5 kursi, PKB 1 kursi, PDI-P dan Demokrat serta PKS.
Pasangan Tigor-Adlin di dukung partai Gerindra yang di legislatifnya ada 6 kursi dan partai Perindo sebanyak 4 kursi.
Sedangkan PAN yang memiliki 3 kursi yang semula mendukung Andi diakhir-akhir pendaftaran di KPU memberikan dukungannya kepada pasangan Roni dan Ahmad bersama PPP yang juga memiliki 3 kursi dan Partai Berkaya 1 kursi di Legislatif.
5 Pasangan telah resmi mendafarkan diri menjadi pengantin dalam hajatan pesta Pilkada Serentak 2020 di Kabupaten LabuhanBatu, beradu visi misi serta menabur janji-janji untuk LabuhanBatu yang lebih maju.
Secara badaniah untuk saat ini ke 5 calon bupati dan wakil bupati diataslah yang tahu dan paham bagaimana kondisi LabuhanBatu serta mereka jugalah yang tahu saat ini dari mana memulai membangun LabuhanBatu jika merujuk pada batiniah ke 5 calon tersebut yang berkeinginan menjadi kepala daerah, Lumrah namanya juga masih peserta, lain halnya nanti ketika duduk, hanya Tuhan yang tahu. Apakah mereka yang nanti ditetapkan menjabat sebagai Kepala Daerah hanya sebagai simbol saja karna hanya duduk diam menikmati enaknya jadi bupati dengan gaji dan fasilitas dari rakyat namun tanpa pernah lagi tahu enaknya cara membangun daerah yang diamanahkan sesuai visi dan misi mereka dahulu ketika menjadi calon peserta pesta demokrasi.

Mengingat Besarnya biaya dalam kontesasi pilkada dari yang di anggarkan untuk lembaganya dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum Daerah hingga yang harus dikeluarkan oleh masing-masing peserta tentunya biaya tersebut kiranya hanya untuk bukan orang-orang yang biasa dan biasa-biasa saja yang mampu untuk jadi bagian dari komisi penyelenggara dan untuk mereka yang bisa maju serta tampil dan menampilan diri ikut kompetisi karna modal teori saja atau kecakapan berpikir tidaklah cukup, uang jadi faktor utama bagi kandidat dalam pilkada langsung dikarnakan masyarakat telah banyak bersipat apatis sehingga masyarakat lebih banyak yang mengusung konsep saat ini wani piro karna sudah tertanam, ” Siapa pun Kepala Daerahnya Nasib Kita Begini-begini juga” tak salah memang jika masyarakat berkata demikian karna yang menjabat selama ini pun tak lepas dari kata bisa melakukan ” Begini begitu, Begitu begini” hanya untuk pribadi dan golongannya saja bukan untuk memajukan daerah yang dipimpinnya, Jadi rakyat hanya menonton sambil gigit jari hingga pesta lagi atau menonton di layar televisi, Kepala Daerahnya duduk habis di wawancarai baru siap meja hijau karna tersandung gratifikasi atau korupsi, dan ini terjadi baru-baru ini labuhanbatu bupatinya masuk jeruji.

Labuhanbatu sendiri setelah mekar menjadi 3 kabupaten ini adalah yang ke 4 kali melangsungkan pesta demokrasi untuk pemilihan kepala daerah sejak masa reformasi bergulir yang kala itu Bupatinya dari kalangan militer terakhir kalinya adalah HT Milwan yang menjabat tahun 2000 ke 2005 diteruskan kembali 5 tahun ke depan melalui pemilihan langsung kepala daerahnya HT Milwan menjadi Bupati yang pertama kali mencicipi kursi Kepala daerah dari pemilihan langsung (tahun 2005-2010) Jadi tercatat 10 tahun Bapak HT Milwan menjabat Bupati LabuhanBatu dari satu kabupaten hingga pemekaran menjadi 3 kabupaten, dapat dikatakan bahwa HT Milwan lah salah satu tokoh pemekaran LabuhanBatu beserta anggota legislatif di priode itu.
Selanjutnya Kepala Daerah dijabat oleh dokter Tigor Panusunan Siregar (2010-2015) yang saat itu istri dari mantan bupati HT Milwan menjadi lawan terberat Tigor.
Bapak Pangonal Harahap bersama wakilnya diputuskan menjadi Bupati oleh Komisi Pemilihan Daerah karna menjadi pemenang dalam pilkada selanjutnya(2016) namun masa baktinya hanya sebentar Pangonal Harahap harus berurusan dengan Komisi yang kali ini bukanlah komisi pemilihan umum lagi namun Komisi Pemberantas Korupsi,hingga masa baktinya pun tidak tuntas dan bertampak tak adanya pembangunan karna sejak menjabat 17 Februari 2016 hingga 24 Juli 2018 pun tak ada perubahan pembangunan di kota mau pun desa, selanjutnya 25 Juli 2018 masa jabatannya diteruskan oleh wakilnya yaitu Andi Suhaimi Dalimunthe yang terkatung-katung selama lebih 3 bulan hanya untuk mendapatkan gelar Pelaksana Tugas(PLT).

Kabupaten LabuhanBatu mungkin adalah kabupaten paling tua yang ada di Republik ini karna terbentuknya begitu Indonesia merdeka, Kabupaten LabuhanBatu pun terbentuk, yang hanya membedakan hanyalah bulannya saja, jika Republik Indonesia ini merdeka tanggal 17 Agustus 1945 maka Kabupaten LabuhanBatu terbentuk tanggal 17 Oktober 1945, itu berarti 21 hari lagi menyusul hari peringatan sumpah pemuda.
Kabupaten yang total jiwanya kira-kira 494.178 jiwa yang Hasil rekapitulasi rapat DPTHP-II KPUD jumlah pemilih sebanyak 295.788 orang dari 9 kecamatan:
1.Kecamatan Rantau Utara 2.Kecamatan Rantau Selatan 3.Kecamatan Bilah Barat 4.Kecamatan Bilah Hulu
5.Kecamatan Bilah Hilir
6.Kecamatan Pangkatan 7.Kecamatan Panai Tengah 8.Kecamatan Panai Hilir 9.Kecamatan Panai Hulu
Terdiri dari beragam etnis suku dan budaya suku bangsa yakni: Batak 44.43%
Jawa 40.51%
Melayu 8.18%
Tionghoa 1.80%
Minang 0.96%
Aceh 0.25%
Dan lainnya mencapai kurang lebih 3.87%.
Walau hanya 8.18% suku Melayunya namun Latar kebudayaan melayu sangatlah kental mempengaruhi berdirinya daerah ini sampai-sampai semboyan dareahnya pun berbahasa melayu pasisir yaitu ” Ika Bina Enpa Bolo” yang berarti “Ini dibangun itu diperbaiki”. Agama atau keyakinan yang ada di kabupaten ini pun beragam, dari agama Islam menjadi agama yang terbesar dipeluk yakni sekitar 82,92%% ,Kristen 15,11% terdiri dari:
Kristen Protestan 13,95%
Kristen Katolik 1,16%
Buddha 1,60%
Hindu 0,01%
Lainnya kira-kira 0,35% (termasuk aliran kepercayaan Konghucu)
Secara pemetaan Money Politik LabuhanBatu sangatlah diperhitungan kerawanannya mengingat masyarakatnya sangatlah cerdas dan bertambah cerdas tiap 5tahunnya karna selalu dibohongi tiap pemimpin yang dipilihnya dengan hati hingga kata wani piro untuk urusan politik menjadi dasar pemilih apatis binti opurtunis menjadi tren saat ini. Itu pun sah-sah saja karna yang mengajari demikian pun para calon pemimpinnya dari pemilihan legislatif hingga eksekutif, namun sebagian lagi lebih mengandalkan nalar mengingat dari tahun 1945 hingga sekarang 2020 LabuhanBatu sangat jauh tertinggal dari Bupatinya ditunjuk langsung hingga sekarang dipilih langsung maka semakin menanjak presentasase wani piro, ditambah kekuarangan tokoh yang bersih dan telah berbuat dari awal menjadi alasan abstrak calon pemilih untuk memilih tanpa money politik.
Sektor kebudayaan yang sangat kental karna LabuhanBatu pernah memiliki Kerajaan yang cukup besar pada masanya di kawasan pantai timur sumatera berletak di labuhanbatu, seperti Kerajaan Aru yang simpang siar letaknya mulai di sepanjang sungai deli hingga ada yang berpendapat di sei berombang kecamatan panai hilir atau di sepanjang Sei (Sungai) Baromum (Barumum) yang kini masuk kabupaten LabuhanBatu Selatan. Penggalian sejarah oleh pemkabnya dari mulai terbentuknya Pemkab hingga kini sangatlah minim. Sehingga tidaklah heran jika LabuhanBatu sudah kehilangan identitas diri kabupatennya, mengingat nilai-nilai luhur budaya kebudayaannya telah dikuburkan sangat lama. Pada hal jika dari awal kepekaan Pemkabnya seharusnya dan dapat dipastikan subjek seni dan budaya menjadikan objek nilai jual daerahnya jika dijaga rawat oleh pemimpin yang bijak dari masa ke masa, namun kenyataannya sangatlah jauh menjauh labuhanbatu sampai saat ini tak telah kehilangan identitas diri tapi juga telah kehilangan harga diri karna kalau berkembangnya dalam hal seni dan budaya atau pun infrastruktur dengan LabuhanBatu Utara atau pun Kabupaten Rokan Hilir yang sama-sama pemekaraannya, sehingga dapat dikatakan budayanya bukan lagi melayu tapi blayu (*lari=bahasa jawanya).
Belum lagi di sektor perkebunan usaha milik negara yang hampir menguasai luas pertanahan perkebunan di daerah ini, ditambah lagi milik perkebunan swasta sangatlah luas namun sampai saat ini hanya mampu daerahnya mendulang menghasilkan Pendapatan Daerahnya dari segala sektor tetap berkutat pada angka 1Trilyunan dari tahun ke tahun dari bupati ke bupati, sedang restoran atau rumah makan dan caffe tiap tahunnya selalu bertambah. PAD yang sedemikian lebih banyak digunakan untuk belanja pegawainya dari pada kembali kepada masyarakatnya.
Ketidaktahuan kepala daerahnya akan pengolahan limbah pabrik kelapa sawit menjadikan labuhanbatu tak memiliki pengolahan limbah sampahnya yang dapat menghasilkan rupiah untuk menambah pendapatan daerahnya.
Akses jalan-jalan kabupatennya masih banyak yang berlumpur alias belum aspal atau beton ini masih dapat dijumpai di 9 kecamatan belum lagi ikut yang berlubang jika diteliti yang selalu terkesan dibiarkan, fasilitas umum seperti ruang terbuka hijau dan tempat bermain ramah anak sangatlah minim tiap kecamatan paling hanyalah ada 1 kecamatan yang baru terbamgun yakni di kecamatan rantau utara itu pun kini kondisinya sangat memperihatinkan karna berubah jadi taman bermain hantu.
Bidang pendidikan di LabuhanBatu sejak tahun 1998 memang sangatlah mengalami kemajuan namun dipastikan bukan dari buah pemikiran pemkabnya melainkan dari sosok anak desa yang peduli pendidikan yaitu Bapak Dr. H. Amarullah Nasution, S.E., M.B.A dimana beliau mendirikan sebuah Yayasan Universitas LabuhanBatu (YULB). Yayasan ini didirikan di ibu kota Labuhanbatu yaitu Rantauprapat, sejak tanggal 12 Desember 1998, yang bergerak dalam usaha mendirikan, membina dan mengelola perguruan tinggi di Kabupaten LabuhanBatu. Universitas LabuhanBatu yang menempati lahan Kampus seluas 3,3 Ha di  Jln. S.M. Raja No. 126 Kota Rantauprapat, LabuhanBatu dan hingga kini berdasarkan klasterisasi oleh LLDIKTI Wilayah 1 Sumatera Utara, sebagai kampus Universitas Labuhanbatu berada pada tingkat ke 15 (lima belas) kategori Universitas terbaik.
Sedangkan untuk sekolah negeri dari dasar hingga menengah atas, sekolahnya itu-itu saja kecuali berganti nama yang hanya mampu diusulkan Pemkabnya sedangkan kapasitas lokal lebih dari 30 siswa jumlah yang tak lagi ideal untuk proses mengajar belajar.
Adanya Universitas LabuhanBatu sangatlah membantu anak-anak labuhanbatu mewujudkan cita-citanya menjadi sarjana tanpa harus keluar kota sehingga dapat mengkerucutkan biaya apalagi dari keluarga yang ekoniminya kebawah namun anaknya bercita-cita jadi sarjana.
Jika menunggu buah pikir Pemkabnya mungkin universitas lainnya pun tak akan pernah ada di labuhanbatu, karna Universitas LabuhanBatu .
Siapa pun pasti tahu tidaklah mudah menjadi bupati dan tidaklah mudah juga membangun daerahnya ketika seseorang calon itu terpilih menjadi bupati sebab modal niat dan amanah saja tidak cukup. Namun kebanyakan yang menjadi bupati itu selalu saja mengharapkan mainan dari APBD dan bantuan pusat tanpa pernah bupati itu membuat terobosan yang menjauhkan dirinya dari korupsi namun membangun daerahnya.
Selalu saja study banding ke daerah lain tapi hasil dari study banding tak pernah dinikmati masyarakat luas alhasil manfaatnya hanya pada yang study banding merasakan nikmat jalan-jalan gratis.
Parahnya siapa pun bupatinya di LabuhanBatu hal itu selalu terulang dan terulang yang seakan diwariskan.
Saat ini, semua para calon bupati selalu berkata bersama kami (calon) Menuju LabuhanBatu Lebih Baik dan Maju. Setelah duduk keyakinan masyarakat tetap sama tetap saja begitu begini, begini begitu juga tak jadi apa-apa kecuali untuk pribadi dan golongannya saja lebih baik dan majunya.
Demikianlah nasib daerah yang takdirnya melupakan bahkan menguburkan seni budaya daerahnya sendiri.

*SigondrongDalamDiam