Menuju LabuhanBatu Lebih Baik dan Maju

Reformasi menjadi tonggak bersejarah Republik Indonesia ini menemukan kembali arti sebenarnya menjadi pemimpin dan menjadi rakyat, Gerakan massal bawah tanah yang digagas dari kampus ke kampus oleh mahasiswa hingga berujung pada satu titik kumpul di bulan mei dengan tujuan yang sama yakni mewujudkan demokrasi yang sebenar-benarnya yang sesuai dalam amanat Pancasila dan Undang-undang Dasar 45. Maka 32tahun usai sudah sebuah rezim dengan nama Orde Baru atau orba.
Mulailah Republik ini berbenah walau hingga kini berbenahnya tiada siap-siapnya karna korupsi, kolusi dan nepotisme seakan telah mendarah daging yang susah dilenyapkan,Namun begitu tidaklah menjadi tertutup ruang bagi negara untuk berbenah, salah satu berbenahnya usai kejatuhan orde baru adalah memiliih langsung pemimpin di daerahnya masing-masing, dimulai dari pemilihan Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati hingga Kepala Desa. Jika rakyat indonesia selama masa orde baru hanya memilih Dewan Perwakilan Rakyat itu pun hanya memilih partainya saja yang mana pada waktu itu hanya 3 partai yakni, Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia,, melalui pemilu yang diikuti ke tiga partai tersebutlah nantinya cikal bakal yang akan menunjuk langsung Presiden dan Wakil Presiden dengan kata mengamanatkan. Tentunya sesuai selera merekalah yang duduk dengan menyandang gelar anggota Dewan yang terhormat menentukannya siapa Presiden dan Wakil Presiden.
Di masa Reformasi saat ini hal demikian ditinggalkan karna sangat melukai kebenaran sebenarnya berdemokrasi. Maka rakyat harus memilih langsung dengan menyertakan haknya memilih dan dipilih, mulai dari Pemilihan Legislatif, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Walikota/Wakil Walikota, Bupati/Wakil Bupati hingga Pemilihan Kepala Desa, yang kesemuanya itu disebut pesta demokrasi 5 tahunan di Repubilik Indonesia ini.
2020 ini adalah pesta Demokrasi terbesarnya Republik ini karna pemilihan umumnya serentak, setidaknya ada 270 kabupaten/kota yang akan mengelar pilkada serentak 2020 ini antara yakni
Tapanuli Selatan
Serdang Bedagai
Toba Samosir
Pakpak Bharat
Humbang Hasundutan
Asahan
Mandailing Natal
Samosir
Karo
Nias
Nias Selatan
Simalungun
LabuhanBatu*
Labuhanbatu Selatan
Labuhanbatu Utara
Nias Utara
Nias Barat
Solok
Agam
Pasaman
Lima Puluh Kota
Dharmasraya
Solok Selatan
Padang Pariaman
Sijunjung
Tanah Datar
Pesisir Selatan
Indragiri Hulu
Bengkalis
Kuatan Singingi
Siak
Rokan Hilir
Rokan Hulu
Pelalawan
Kepulauan Meranti
Tanjung Jabung Barat
Batanghari
Bungo
Tanjung Jabung Timur
Ogan Komering Hulu
OKU Selatan
Ogan Ilir
OKU Timur
Musi Rawas
Penukal Abab Lematang Ilir
Musirawas Utara
Seluma
Kaur
Rejang Lebong
Kepahiang
Lebong
Mukomuko
Bengkulu Selatan
Bengkulu Utara
Lampung Selatan
Way Kanan
Lampung Timur
Lampung Tengah
Pesawaran
Pesisir Barat
Bangka Tengah
Belitung Timur
Bangka Barat
Bangka Selatan
Lingga
Bintan
Karimun
Natuna
Kepulauan Anambas
Sukabumi
Kab Bandung
Indramayu
Cianjur
Tasikmalaya
Karawang
Pangandaran
Kab Pekalongan
Kab Semarang
Kebumen
Rembang
Purbalingga
Blora
Kendal
Sukoharjo
Wonosobo
Wonogiri
Purworejo
Sragen
Klaten
Pemalang
Grobogan
Demak
Sleman
Gunung Kidul
Bantul
Ngawi
Jember
Lamongan
Ponorogo
Kab Blitar
Situbondo
Kediri
Sumenep
Gresik
Kab Malang
Mojokerto
Pacitan
Trenggalek
Sidoarjo
Tuban
Banyuwangi
Kab Serang
Kab Pandeglang
Karang Asem
Badung
Tabanan
Bangli
Jembrana
Bima
Lombok Tengah
Dompu
Sumbawa Barat
Sumbawa
Lombok Utara
Sumba Barat
Manggarai Barat
Sumba Timur
Manggarai
Ngada
Belu
Timor Tengah Utara
Sabu Raijua
Malaka
Kapuas Hulu
Ketapang
Sekadau
Bengkayang
Melawi
Sintang
Sambas
Kotawaringin Timur
Banjar
Tanah Bumbu
Kab Kotabaru
Balangan
Hulu Sungai Tengah
Kutai Kartanegara
Paser
Berau
Kutai Timur
Kutai Barat
Mahakam Ulu
Bulungan
Nunukan
Malinau
Tana Tidung
Minahasa Utara
Minahasa Selatan
Bolmong Timur
Bolmong Selatan
Poso
Toli-Toli
Tojo Una-Una
Banggai
Sigi
Banggai Laut
Morowali Utara
Pangkajene Kepulauan
Barru
Gowa
Maros
Soppeng
Luwu Timur
Luwu Utara
Bulukumba
Tana Toraja
Kepulauan Selayar
Toraja Utara
Konawe Selatan
Muna
Wakatobi
Buton Utara
Konawe Utara
Konawe Kepulauan
Kolaka Timur
Bone Bolango
Gorontalo
Pohuwato
Mamuju
Majene
Mamuju Utara
Mamuju Tengah
Seram Bagian Timur
Kepulauan Aru
Maluku Barat Daya
Buru Selatan
Halmahera Utara
Halmahera Selatan
Halmahera Timur
Halmahera Barat
Kepulauan Sula
Pulau Taliabu
Boven Digoel
Merauke
Pegunungan Bintang
Asmat
Nabire
Warofen
Yahukimo
Keerom
Supiori
Membramo Raya
Yalimo
Manokwari
Fakfak
Sorong Selatan
Raja Ampat
Kaimana
Teluk Bintuni
Teluk Wondama
Pegunungan Arfak
Manokwari Selatan.

Kabupaten LabuhanBatu, kabupaten yang baru mekar jadi 3 bagian ini pun masuk katagori ikut diitetapkan sebagai kabupaten penyelenggara pesta Pillkada oleh Komisi Pemilihan Umum Daerahnya, persiapan sudah dibuat, hingga anggaran pun telah dianggarkan kpudnya, para calon telah mendafatarkan diri, baik dari independen alias perorangan. Dari 3 bakal calon independen yakni: Zulkarnaen Siregar dengan Suparmo, Ahyar dengan Syaiful dan Suheri dengan irwan ternyata hanya pasangan Suhari dan Irwan yang dinyatakan lulus segala persyaratan pencalonannya. tentunya pelulusannya bukan karna kedekatan mantan guru dan murid, hingga yang dua lagi kini menempuh jalur hukum karna keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah dianggap sepihak memutuskan.
Andi Suhaimi yang notabanenya saat ini masih menjabat bupati walau meneruskan warisan dari kawan seperjuangannya yang kini lebih memilih bersantai di Tanjung Kusta menikmati kesalahannya. Sebagai incambent Andi Suhaimi Dalimunthe lahir batin menyatakan siap maju kembali tentunya tidak lagi sebagi wakil tapi menjadi Bupati yang kali ini beliau berpasangan bersama Faisal Amri mereka di usung oleh partai Golongan karya dengan 10 kursi di legislatif walau di awal Partai Amanat Nasional ikut mendukung, di separuh jalan meninggalkan.hal yang wajar dalam perpolitikkan ,karna dalam politik tak ada kawan yang sejati tapi tujuan yang sejati tentu tak ketinggalan selipan mahar.
Pasangan Erik dengan Ellya Rosa didukung partai Hanura 5 kursi, PKB 1 kursi, PDI-P dan Demokrat serta PKS.
Pasangan Tigor-Adlin di dukung partai Gerindra yang di legislatifnya ada 6 kursi dan partai Perindo sebanyak 4 kursi.
Sedangkan PAN yang memiliki 3 kursi yang semula mendukung Andi diakhir-akhir pendaftaran di KPU memberikan dukungannya kepada pasangan Roni dan Ahmad bersama PPP yang juga memiliki 3 kursi dan Partai Berkaya 1 kursi di Legislatif.
5 Pasangan telah resmi mendafarkan diri menjadi pengantin dalam hajatan pesta Pilkada Serentak 2020 di Kabupaten LabuhanBatu, beradu visi misi serta menabur janji-janji untuk LabuhanBatu yang lebih maju.
Secara badaniah untuk saat ini ke 5 calon bupati dan wakil bupati diataslah yang tahu dan paham bagaimana kondisi LabuhanBatu serta mereka jugalah yang tahu saat ini dari mana memulai membangun LabuhanBatu jika merujuk pada batiniah ke 5 calon tersebut yang berkeinginan menjadi kepala daerah, Lumrah namanya juga masih peserta, lain halnya nanti ketika duduk, hanya Tuhan yang tahu. Apakah mereka yang nanti ditetapkan menjabat sebagai Kepala Daerah hanya sebagai simbol saja karna hanya duduk diam menikmati enaknya jadi bupati dengan gaji dan fasilitas dari rakyat namun tanpa pernah lagi tahu enaknya cara membangun daerah yang diamanahkan sesuai visi dan misi mereka dahulu ketika menjadi calon peserta pesta demokrasi.

Mengingat Besarnya biaya dalam kontesasi pilkada dari yang di anggarkan untuk lembaganya dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum Daerah hingga yang harus dikeluarkan oleh masing-masing peserta tentunya biaya tersebut kiranya hanya untuk bukan orang-orang yang biasa dan biasa-biasa saja yang mampu untuk jadi bagian dari komisi penyelenggara dan untuk mereka yang bisa maju serta tampil dan menampilan diri ikut kompetisi karna modal teori saja atau kecakapan berpikir tidaklah cukup, uang jadi faktor utama bagi kandidat dalam pilkada langsung dikarnakan masyarakat telah banyak bersipat apatis sehingga masyarakat lebih banyak yang mengusung konsep saat ini wani piro karna sudah tertanam, ” Siapa pun Kepala Daerahnya Nasib Kita Begini-begini juga” tak salah memang jika masyarakat berkata demikian karna yang menjabat selama ini pun tak lepas dari kata bisa melakukan ” Begini begitu, Begitu begini” hanya untuk pribadi dan golongannya saja bukan untuk memajukan daerah yang dipimpinnya, Jadi rakyat hanya menonton sambil gigit jari hingga pesta lagi atau menonton di layar televisi, Kepala Daerahnya duduk habis di wawancarai baru siap meja hijau karna tersandung gratifikasi atau korupsi, dan ini terjadi baru-baru ini labuhanbatu bupatinya masuk jeruji.

Labuhanbatu sendiri setelah mekar menjadi 3 kabupaten ini adalah yang ke 4 kali melangsungkan pesta demokrasi untuk pemilihan kepala daerah sejak masa reformasi bergulir yang kala itu Bupatinya dari kalangan militer terakhir kalinya adalah HT Milwan yang menjabat tahun 2000 ke 2005 diteruskan kembali 5 tahun ke depan melalui pemilihan langsung kepala daerahnya HT Milwan menjadi Bupati yang pertama kali mencicipi kursi Kepala daerah dari pemilihan langsung (tahun 2005-2010) Jadi tercatat 10 tahun Bapak HT Milwan menjabat Bupati LabuhanBatu dari satu kabupaten hingga pemekaran menjadi 3 kabupaten, dapat dikatakan bahwa HT Milwan lah salah satu tokoh pemekaran LabuhanBatu beserta anggota legislatif di priode itu.
Selanjutnya Kepala Daerah dijabat oleh dokter Tigor Panusunan Siregar (2010-2015) yang saat itu istri dari mantan bupati HT Milwan menjadi lawan terberat Tigor.
Bapak Pangonal Harahap bersama wakilnya diputuskan menjadi Bupati oleh Komisi Pemilihan Daerah karna menjadi pemenang dalam pilkada selanjutnya(2016) namun masa baktinya hanya sebentar Pangonal Harahap harus berurusan dengan Komisi yang kali ini bukanlah komisi pemilihan umum lagi namun Komisi Pemberantas Korupsi,hingga masa baktinya pun tidak tuntas dan bertampak tak adanya pembangunan karna sejak menjabat 17 Februari 2016 hingga 24 Juli 2018 pun tak ada perubahan pembangunan di kota mau pun desa, selanjutnya 25 Juli 2018 masa jabatannya diteruskan oleh wakilnya yaitu Andi Suhaimi Dalimunthe yang terkatung-katung selama lebih 3 bulan hanya untuk mendapatkan gelar Pelaksana Tugas(PLT).

Kabupaten LabuhanBatu mungkin adalah kabupaten paling tua yang ada di Republik ini karna terbentuknya begitu Indonesia merdeka, Kabupaten LabuhanBatu pun terbentuk, yang hanya membedakan hanyalah bulannya saja, jika Republik Indonesia ini merdeka tanggal 17 Agustus 1945 maka Kabupaten LabuhanBatu terbentuk tanggal 17 Oktober 1945, itu berarti 21 hari lagi menyusul hari peringatan sumpah pemuda.
Kabupaten yang total jiwanya kira-kira 494.178 jiwa yang Hasil rekapitulasi rapat DPTHP-II KPUD jumlah pemilih sebanyak 295.788 orang dari 9 kecamatan:
1.Kecamatan Rantau Utara 2.Kecamatan Rantau Selatan 3.Kecamatan Bilah Barat 4.Kecamatan Bilah Hulu
5.Kecamatan Bilah Hilir
6.Kecamatan Pangkatan 7.Kecamatan Panai Tengah 8.Kecamatan Panai Hilir 9.Kecamatan Panai Hulu
Terdiri dari beragam etnis suku dan budaya suku bangsa yakni: Batak 44.43%
Jawa 40.51%
Melayu 8.18%
Tionghoa 1.80%
Minang 0.96%
Aceh 0.25%
Dan lainnya mencapai kurang lebih 3.87%.
Walau hanya 8.18% suku Melayunya namun Latar kebudayaan melayu sangatlah kental mempengaruhi berdirinya daerah ini sampai-sampai semboyan dareahnya pun berbahasa melayu pasisir yaitu ” Ika Bina Enpa Bolo” yang berarti “Ini dibangun itu diperbaiki”. Agama atau keyakinan yang ada di kabupaten ini pun beragam, dari agama Islam menjadi agama yang terbesar dipeluk yakni sekitar 82,92%% ,Kristen 15,11% terdiri dari:
Kristen Protestan 13,95%
Kristen Katolik 1,16%
Buddha 1,60%
Hindu 0,01%
Lainnya kira-kira 0,35% (termasuk aliran kepercayaan Konghucu)
Secara pemetaan Money Politik LabuhanBatu sangatlah diperhitungan kerawanannya mengingat masyarakatnya sangatlah cerdas dan bertambah cerdas tiap 5tahunnya karna selalu dibohongi tiap pemimpin yang dipilihnya dengan hati hingga kata wani piro untuk urusan politik menjadi dasar pemilih apatis binti opurtunis menjadi tren saat ini. Itu pun sah-sah saja karna yang mengajari demikian pun para calon pemimpinnya dari pemilihan legislatif hingga eksekutif, namun sebagian lagi lebih mengandalkan nalar mengingat dari tahun 1945 hingga sekarang 2020 LabuhanBatu sangat jauh tertinggal dari Bupatinya ditunjuk langsung hingga sekarang dipilih langsung maka semakin menanjak presentasase wani piro, ditambah kekuarangan tokoh yang bersih dan telah berbuat dari awal menjadi alasan abstrak calon pemilih untuk memilih tanpa money politik.
Sektor kebudayaan yang sangat kental karna LabuhanBatu pernah memiliki Kerajaan yang cukup besar pada masanya di kawasan pantai timur sumatera berletak di labuhanbatu, seperti Kerajaan Aru yang simpang siar letaknya mulai di sepanjang sungai deli hingga ada yang berpendapat di sei berombang kecamatan panai hilir atau di sepanjang Sei (Sungai) Baromum (Barumum) yang kini masuk kabupaten LabuhanBatu Selatan. Penggalian sejarah oleh pemkabnya dari mulai terbentuknya Pemkab hingga kini sangatlah minim. Sehingga tidaklah heran jika LabuhanBatu sudah kehilangan identitas diri kabupatennya, mengingat nilai-nilai luhur budaya kebudayaannya telah dikuburkan sangat lama. Pada hal jika dari awal kepekaan Pemkabnya seharusnya dan dapat dipastikan subjek seni dan budaya menjadikan objek nilai jual daerahnya jika dijaga rawat oleh pemimpin yang bijak dari masa ke masa, namun kenyataannya sangatlah jauh menjauh labuhanbatu sampai saat ini tak telah kehilangan identitas diri tapi juga telah kehilangan harga diri karna kalau berkembangnya dalam hal seni dan budaya atau pun infrastruktur dengan LabuhanBatu Utara atau pun Kabupaten Rokan Hilir yang sama-sama pemekaraannya, sehingga dapat dikatakan budayanya bukan lagi melayu tapi blayu (*lari=bahasa jawanya).
Belum lagi di sektor perkebunan usaha milik negara yang hampir menguasai luas pertanahan perkebunan di daerah ini, ditambah lagi milik perkebunan swasta sangatlah luas namun sampai saat ini hanya mampu daerahnya mendulang menghasilkan Pendapatan Daerahnya dari segala sektor tetap berkutat pada angka 1Trilyunan dari tahun ke tahun dari bupati ke bupati, sedang restoran atau rumah makan dan caffe tiap tahunnya selalu bertambah. PAD yang sedemikian lebih banyak digunakan untuk belanja pegawainya dari pada kembali kepada masyarakatnya.
Ketidaktahuan kepala daerahnya akan pengolahan limbah pabrik kelapa sawit menjadikan labuhanbatu tak memiliki pengolahan limbah sampahnya yang dapat menghasilkan rupiah untuk menambah pendapatan daerahnya.
Akses jalan-jalan kabupatennya masih banyak yang berlumpur alias belum aspal atau beton ini masih dapat dijumpai di 9 kecamatan belum lagi ikut yang berlubang jika diteliti yang selalu terkesan dibiarkan, fasilitas umum seperti ruang terbuka hijau dan tempat bermain ramah anak sangatlah minim tiap kecamatan paling hanyalah ada 1 kecamatan yang baru terbamgun yakni di kecamatan rantau utara itu pun kini kondisinya sangat memperihatinkan karna berubah jadi taman bermain hantu.
Bidang pendidikan di LabuhanBatu sejak tahun 1998 memang sangatlah mengalami kemajuan namun dipastikan bukan dari buah pemikiran pemkabnya melainkan dari sosok anak desa yang peduli pendidikan yaitu Bapak Dr. H. Amarullah Nasution, S.E., M.B.A dimana beliau mendirikan sebuah Yayasan Universitas LabuhanBatu (YULB). Yayasan ini didirikan di ibu kota Labuhanbatu yaitu Rantauprapat, sejak tanggal 12 Desember 1998, yang bergerak dalam usaha mendirikan, membina dan mengelola perguruan tinggi di Kabupaten LabuhanBatu. Universitas LabuhanBatu yang menempati lahan Kampus seluas 3,3 Ha di  Jln. S.M. Raja No. 126 Kota Rantauprapat, LabuhanBatu dan hingga kini berdasarkan klasterisasi oleh LLDIKTI Wilayah 1 Sumatera Utara, sebagai kampus Universitas Labuhanbatu berada pada tingkat ke 15 (lima belas) kategori Universitas terbaik.
Sedangkan untuk sekolah negeri dari dasar hingga menengah atas, sekolahnya itu-itu saja kecuali berganti nama yang hanya mampu diusulkan Pemkabnya sedangkan kapasitas lokal lebih dari 30 siswa jumlah yang tak lagi ideal untuk proses mengajar belajar.
Adanya Universitas LabuhanBatu sangatlah membantu anak-anak labuhanbatu mewujudkan cita-citanya menjadi sarjana tanpa harus keluar kota sehingga dapat mengkerucutkan biaya apalagi dari keluarga yang ekoniminya kebawah namun anaknya bercita-cita jadi sarjana.
Jika menunggu buah pikir Pemkabnya mungkin universitas lainnya pun tak akan pernah ada di labuhanbatu, karna Universitas LabuhanBatu .
Siapa pun pasti tahu tidaklah mudah menjadi bupati dan tidaklah mudah juga membangun daerahnya ketika seseorang calon itu terpilih menjadi bupati sebab modal niat dan amanah saja tidak cukup. Namun kebanyakan yang menjadi bupati itu selalu saja mengharapkan mainan dari APBD dan bantuan pusat tanpa pernah bupati itu membuat terobosan yang menjauhkan dirinya dari korupsi namun membangun daerahnya.
Selalu saja study banding ke daerah lain tapi hasil dari study banding tak pernah dinikmati masyarakat luas alhasil manfaatnya hanya pada yang study banding merasakan nikmat jalan-jalan gratis.
Parahnya siapa pun bupatinya di LabuhanBatu hal itu selalu terulang dan terulang yang seakan diwariskan.
Saat ini, semua para calon bupati selalu berkata bersama kami (calon) Menuju LabuhanBatu Lebih Baik dan Maju. Setelah duduk keyakinan masyarakat tetap sama tetap saja begitu begini, begini begitu juga tak jadi apa-apa kecuali untuk pribadi dan golongannya saja lebih baik dan majunya.
Demikianlah nasib daerah yang takdirnya melupakan bahkan menguburkan seni budaya daerahnya sendiri.

*SigondrongDalamDiam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *