Anekdot

Anekdot Politik Tabalik (Terbalik)

Mitos, jika memakai baju tabalik(anak bahasa,bahasanya ) Rantau Prapat untuk mengatakan terbalik) maka seseorang itu akan mendapatkan rejeki tak terduga-duga,karna faktanya memakai baju terbalik adalah kesalahan si pemakai yang bisa jadi terburu-buru mengenakan atau pun si pemakai menganggap belakang adalah depan, menganggap depan sama halnya belakang hingga tabalik berujung dikenakan.
Dan demikianlah juga dengan politik yang hanya tak tabuntang(terbuntang), talungkop(telungkup), talentang(telentang) tapi mengharuskan tabalik. Jangan heran jika kemarin menghina disamakan penikmatnya dengan mengkritik sekarang memuji tapi tak mau disamakan dengan menjilat oleh penggemarnya, adalah hal wajar dalam berpoltik. Bahwa yang lebih kurang ajarnya ketika telah menyatakan mendukung namun di akhir mengambil sikap sebagai lawan untuk untuk tak mendukung. Bukan politik jika tak 5 menit tak berubah walau pelakonnya tetap itu-itu saja.
Katakan saja Party Amak Nak setelah sebelumnya menyatakan mendukung separuh jalan yang belum siap langsung berbelok mencabut mandat mendukung mungkin dikali-kalikan partynya dan ditambah-tambahkan maka lebih untung dimakan sendiri dari pada dibagi-bagi, sayang jika tak nikmati.

Namun lupa para ketua-ketua Party bahwa peemilih bukanlah memilih berdasarkan party sebab pemilih punya beragam jalan pintas untuk menetapkan pilihannya salah satu jalan pintasnya pemilih hanya bergantung siraman karna tak hanya lima tahunan mendapatkan hujan walau ada juga karna memilih berdasarkan empati itu bergantung dari prilaku sehari-hari pelakon politik selama ini apakah tingkat kepeduliannya tingkat manusia dewa atau masih manusia setengah dewa seperti lagu iwan fals. Lain halnya pemilih oportunis yang memang menyakini baginya tetaplah yang untung yang dipilih dari pemilih karna bagi pemilih tetap juga nasibnya begini begini sedangkan yang dipilih begitu begini, Walau telah dinyanyikan janji manis olah vocal Aisah dari negeri jiran tetap saja pemilih oportunis menikmati dengan geramang menjalar kesekujur tubuh yang berujung ada uang ada suara buat amang jika tidak ada uang maka akan tabalik amang-amang.
Contoh kecil mantabalikkan spanduknya adalah bisa jadi contoh kebesaran kemaluan dari pada memalukan atau juga mantabalikkannya (menterbalikkannya) adalah tanda masih menanti janji manis setelah Aisah balik ke negeri jiran.
Jika pelacur memasang tarif sekali tampil melayani jelas jasa coblosnya ,pemilih oportunis pun memasang tarif untuk 5 tahun nyoblos sekali jelas harganya.
Kalau contoh mangkoyakkan(mengkoyakkan) baleho atau spanduk itu jelas kerjaan orang gila yang tak terpuji.

Memang sudah tabalik dunia ini apalagi dunia politik dalam pesta demokrasi 2020 ini, pemilih jadi biduannya para kandidat jadi tukang sawernya, cocok lagu biduan para kandidat siap-siap menyerak uang dengan perkiraan cuaca akan demam lawan politiknya

Adalah penipuan jika para kandidat bicaranya lantang apalagi membawa-bawa nama Tuhan lalu mendadak jadi dermawan sedangkan selama ini kedekut karna paling takut jika dijumpai sebab telah dipikirnya jika perjumpaan pasti meminta bantuan.
Ironisnya tak segagah Ironman bagi yang pernah merasakan disebut pahlawan kesiangan di dalam selama kurun waktu pernah menjadi seorang pahlawan kesiangan pun tak pernah berpikir menjadi berguna bagi banyak orang ini terbukti dengan tak pernah menghasilkan buah tangan yang manfaatnya dinikmati banyak orang,yang terpenting menurutkan ambisi mengumpulkan pundi-pundi kekayaan lalu kurun waktu ini berlanjut ambisinya mengejar kekuasaan tinggal dibungkus janji dan sumpah yang basi maka maju pantang mundur mengalahkan petugas parkir yang jangankan maju mundur saja jelas akan dibayar tapi harus bermodal lipritan dan tanda pengenal jika tidak dianggap petugas parkir liar.

Dimulai dengan jadi pendengar yang baik bagaikan mendengarkan tukang koyok obat pinggir jalan lalu maju kedepan seolah memiliki obat ajaib segala kesakitan maka pendengar yang baik berubah sekejab jadi shinshe yang tahu biang penyakit penyumbat kemajuan pembuluh darah pembangunan, pada hal ia sendiri pernah merasakan dalam kurun masa lingkaran waktu saat ia memegang martil di atas meja tak pernah mengetokkan martilnya yang menguntungkan jelantah dalam kuali kemiskinan namun mengetokkan martilnya hanya untuk kepentingan kantongnya.

Politik tabalik yang mambalikkan(membalikkan) demi kursi empuk tanpa kapuk memang selalu jadi rebutan hingga kursi empuk tanpa kapuk itu pun diwanti-wanti tidaklah menjadi miangnya keributan sebab tak siap menerima kekalahan karna modal telah banyak dikeluarkan.

* SigondrongDalamDiam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *