Sakitnya Kena Angin Duduk

Jasat ini semakin rapuh
Pundak ku yang dahulunya mampu memikul beban seratus kilogram sekali pikul
Kini terasa denyut, apabila udara tidak bersahabat
Terlalu dingin atau terlalu panasnya udara membuat bekas luka tikaman di kanan kiri leherku membuka kembali dengan rasa denyut, terlebih jika sehabis hujan di malam hari atau hujan yang tak jadi.
Denyut itu sangat dasyatnya melanda sampai merinding-rinding sehabis kencing,cuman bedanya mataku tak terasa kadang berair.
Mungkin juga faktor usia yang tak lagi muda menjadi salah satu alasan antibody ini menurun ditambah keadaan pikiran dan hati, semoga saja dijauhkan penyakit
Karna aku penganut bahwa penyakit itu datangnya dari hati dan pikiran yang keadaannya tak baik alias tidak stabil.
Kadang-kadang kurasakan badan ini bagai ditimpa balok, beratnya minta ampun . Jika sudah demikian maka kusuruhlah anakku untuk memijak-mijak badan ini dengan tumit kakinya.
Jadi ingat saat jadi perantau di negeri orang Rokan Hilir, waktu itu aku jadi kuli sawmil. Ya.. walau pun balik ke kampung halaman juga jadi kuli bongkar muat juga.
Saat di sawmil, tiap pagi tangan ini harus di hangatkan di atas tunggu perapian sampai terasa nyaman jika tidak, apabila memegang benda yang ringan seperti gelas maka akan jatuh, perasaan sudah dipegang ternyata belum.
Mungkin karna kebiasaan memegang yang berat(balok’balok kayu) makanya mati rasa jari-jari tangan ini dengan yang ringan.
Yang lebih sakit lagi kala itu , di tengah malam aku bagai lupa cara bernapas, dadaku bagai ditusuk jarum sakitnya apabila menarik napas, perasaan mau muntah ketika memasukkan sesuatu ke dalam mulut, untungnya aku yang dari masa sekolah di tingkat menengah atas setiap mau beranjak tidur selalu meditasi (sekarang ini aku tahu itu disebut yoga). Alhasil, dengan proses menjelang subuh dengan susah payah tak karuan menaahan sakitnya, aor mata pun menetes dengab sendirinya,akhirnya bagian pantatku yang bernapas panjang.
“Protttt…” rupanya kena angin duduk kala itu, saat kuceritan beberapa hari kemudian kepada mbak Surip selaku ketua Rukun Warga.
Sakitnya kalau diingat-ingat, di tengah malam sendirian menahankan sakit di saat semua orang pada tertidur lelap dengan mimpinya masing-masing.
Aku berjuang sebdiri di ruangan dapur rumah sewa hanya untuk bisa bernapas normal.kalau makan sendiri sambil buat teh manus atau kopi tengah malam sehabis mandi dari pulang kerja, itu biasa. Ini kalau benar-benar lupa cara bernapas aku artinya aku pun dijemput izrail. Sykurnya izrail lagi bertamu tempat yang lain.
Jika tangan ini tak karuan lagi bentuk kapalannya, seminggu sekali wajib panen kapalan aku,
yakni taburan-taburan seperti tepung beras,putih dan lembit jika kapalan di tangan terkoyak sendiri.memang aku tak pernah mengoyaknya karna lebih baik terkoyak sendiri.
Itu jugalah alasanku dahulu mengapa aku lebih suka makan menggunakan sendok ketimbang langsung mengghnakan jari-jari tangan karna sudah lelah kali tanganku yang jari makan mengaoa juga harus langsung jari-jariku memasukkan makanan ke dalam mulutku.

Syukurnya kulit badan ini cepat beradaptasi terhadap serbu atau getah kayu-kayu yang akan di olah menjadi bahan bangunan, seperti papan,broti dan lain-lain. Hanya pada miang kayu ramin kulitku tak tahan, miangnya mirip dengan miang bambu kalau kawan-kawan satu meja(swamil) dengan mandi saja bisa hilang atau di lap pakai air radiaor mesin sawmil bisa tawar, aku lain lagi, aku harus mandi dengan 2 hingga 3 kali sabunan, sabun awal pakai sabun batang (sabun umumnya berwarna hijau yang biasa digunakan untuk cuci pakaian) untuk yang terakhir aku baru bilasan pakai sabun mandi sebenarnya sabun mandi itu saja tidak cukup karna aku harus menggunakan pisau sebagai pengganti sikat badan karna kalau dengan sikat badan rasa miangnya seperti masih menempel di antara lipatan badan,jadilah seperti cukuran jambang dan kumis kalau mandi aku jika sudah kenak miang kayu ramin, jika tidak begitu, dipastikan akan menggaruk sajalah tangan ini. Kalau pada kayu rengas atau kayu lainnya yang sejenis yang di klaim dapat menyebabkan gatal atau bisa buat kulit melepuh. Kulitku masih tahan, entah mengapa dengan kayu ramin, gak tahan pada hal tetangga depan rumahku di kampung halamanku namanya Bang Ramin, walau sekarang sudah pindah rumahnya di samping kantor polisi militer , itu pun ketika balik kampung aku tahu. Apa karna beliau pindah ya, makanya kulitku gak tahan.
Kalau sakitnya terkenak gergaji selendang meja sawmil berupa satu mata di pergelangan tanganku atau pecahnya jari manis hingga lepas kukunya paling cuman di balut perban sambil terus menerus di siram obat antiseptik cair tak pala mesti di jahit walau pihak kesehatan menganjurkan jahit, aku selalu menolak, bukan aoa-apa semata-mata karna aku lebih bak kuhadapi orang memeegang senjata tajam ketimbang memegang jarum suntik. Ngeri kali rasaku yang di suntik itu.
6 tahun merantau di Rokan Hilir bersama isteri hanya membuahkan anak ke 3 yang lahir di bumi minyak,itu pun sudah susah kali selebihnya tak membuahkan apa-apa kecuali mengetahui jenis-jenis kayu dan tabiat manusia .

SigondrongDalamDiam

Memberontak PRRI (11) Tulangku Bebas

PASUKAN pemberontak makin kucar-kacir. Selain karena makin banyak yang keluar dari hutan dan turun dari gunung untuk menyerah, terbersit berita bahwa beberapa orang pentolan PRRI sudah ditangkap. Seruan Tentara Pusat agar pemberontak meletakkan senjata – cease fire, tanpa dihukum, bahkan diberi kesempatan untuk bergabung jadi anggota TNI, seakan jadi senjata pamungkas yang ampuh melumpuhkan perlawanan gerilya pemberontak PRRI.

Pertengahan bulan Desember 1960 seingatku saat itu. Saya jadi ingat betul bulan itu sebagai bulan Desember karena kegiatan di gereja untuk persiapan menyambut hari raya besar Natal, mulai ada. Diumumkan bagi yang mau ikut drama tentang kelahiran Yesus Kristus agar mendaftarkan diri. Begitu juga bagi yang ikut pajojorhon (liturgi).

Sehabis makan malam di dapur diterangi lampu teplok, kami masih ngobrol. Aku dan kedua Ompungku. Dalam obrolan kami,Ompung doli sangat berharap Tulang bisa pulang sebelum tahun baru. Syukur2 bisa bersama pada hari Natal. Ompung boru hanya manggut2 saja mendengar omongan suaminya, sambil sesekali terdengar desahan nafas panjangnya.

Di suasana malam hening ketika kami masih duduk di ubin beralas tikar itu, terdengar ketukan kecil di pintu dapur, yang menghadap ke pekarangan belakang rumah ompung. ” Omak, Omak.” Suara yang memanggil itu langsung kami kenali sebagai milik Tulangku paling besar

Tulang mungkin melihat dapur di mana kami duduk lesehan masih terang sehingga dia yakin ada orang di dapur lalu berani memanggil-manggil Ompung. Biasanya jika tidak ada lagi orang di dapur, pasti dapur sudah gelap gulita. Lampu teplok yang biasanya jadi penerang tidak akan dibiarkan menyala.

Aku melompat ke pintu sebelum Ompung doli berdiri bereaksi..Tidak ada keraguan sama sekali di hatiku untuk membuka pintu dapur itu karena aku yakin itu suara Tulang
Tidak akam.mungkin keliru, sebab tarikan nafas Tulang saja sangat kukenali. Kunci aku buka dan palang kayu yang membentang fi pintu kuangkat, sehingga Tulang membuka sendiri pintu itu, mendorong ke dalam.Ialu menghambur masuk ke rumah.

Ia memberi aba2 supaya kami tenang membuat Ompung tetap duduk. Ompung boruku menciumi wajah Tulang dan membelai-belai rambutnya yang panjang lepas tergerai hingga sebahu. Selanjutnya Ompung menawari Tulang makan dan diiyakannya. Kami menyaksikannya makan lahap.

” Boasa songoni lelengmu ndang mulak ( Kenapa begitu lama kamu tidak pulang ),” tanya Ompung boru kepada Tulang setelah selesai makan. Dengan sangat enteng Tulang menjawab pertanyaan Ompung dengan mengatakan ; banyak kerjaan sehingga gak sempat pulang. Seolah-olah Tulang enggan menceritakan apa saja yang dialaminya selama menghilang itu.

Beberapa saat lamanya kami masih berbincang dan begitu kantuk terasa menyerang, Ompung mengajak kami tidur. Istirahat. Aku tidur di kamar yang sama dengan Tulang. Kulihat Tulang yang rebahan di lantai dengan beralas kasur, gelisah. Tubuhnya berbalik ke kanan, lalu ke kiri. Aku segera meringkuk tertidur di bawah selimut berbahan wol yang sudah kumal. Selimut itu sangat bermanfaat menghangatkan tubuhku dari udara yang dingin.

Seperti yang sudah saya ceritakan di awal tulisan tentang kisah pengalamanku di masa kecil di suasana Pemberontakan PRRI ini, Tulang membangunkanku dari tidur lelapku.
Disuruhnya aku mengikutinya berjalan merunduk mengendap-endap melewati ruang tamu ke arah dapur. Dari pintu dapur, dia mengajakku berlari kencang di dalam kegelapan melalui halaman luas rumah Ompung.

Kami menerobos pagar bambu, selanjutnya kami sudah berada di persawahan. Lewat gadu2 yang basah dan di antara ilalang, kami tiba di satu rumah panggung kecil. Selama 2 malam aku menemani Tulang di rumah kecil yang pengab berdebu itu.Sehelai tikar lusuh jadi alas tidur kami. Karena lantai rumah itu terbuat dari papan, maka tidak membuat badan masuk angin.

Makanan kami secara sembunyi2 dipasok O mpung boru selama kami di situ. Entah bagaimana caranya Ompung mengetahui bahwa kami ada di rumah itu.

Selama berada di rumah tersebut, Tulang tidak banyak bicara. Tapi ada perkataan dia yang saya ingat berbunyi; kalau berjuang harus bertahan apa pun yang terjadi. Tentu ini diucapkannya dalam bahasa Batak. Ternyata, hanya kegelisahan dan ketakutan hatinya saja yang merasa dikejar-kejar mendorong dia mengajak saya melarikan diri dengan meninggalkan rumah malam itu.

Walau Tulang sudah tahu pihak Pusat memberi suaka dan amnesti bagi yang mau menyerah, dia tidak tertarik mengikutinya. Dia berprinsip bertempur sampai darah penghabisan.

Begitu lah, menjelang memasuki malam ketiga kami di rumah persembunyian itu, tatkala matahari masuk ke peraduan dan suara jangkrik serta kodok mulai terdengar memenuhi sekitat rumah kecil itu, ada suara lirih memohon, berasal dari dekat tangga rumah kecil itu
” Buka pintunya,Nak.” Suara itu suara Ibu Tulangku.Suara Ompungku.

Tulang menatapku sejenak dan walau agak ragu, dia membuka pintu. Begitu pintu terkuak, ada teriakan : ” Jangan melawan. Ikut kami.” Tulang tidak bereaksi apa2 selain mengangkat kedua tangannya ke atas sambil bergerak turun dari rumah melangkah lewat tangga. Dia menoleh kepadaku dan mengajakku turun.

Aku berlari ke arah pintu dan menyusul ikut turun. Ompung menyambutku ke dalam pelukannya. Kali ini aku menangis terisak-isak, melihat Tulangku digelandang oleh tentara berpakaian hijau, menyandang senjata panjang. Tulang dinaikkan ke jeep. Kedua Jeep yang ditumpangi beberapa orang tentara itu dan di antara mereka Tulang duduk, melaju dan belok kiri ke arah Balige.

Ternyata, Tulang termasuk dalam daftar Tentara Pusat sebagai salah satu orang penting di kelompok mereka, sehingga dia jadi target yang diusahakan ditemukan. Maka dengan mendekati Ompung secara persuasif, akhirnya Ompung boru buka suara di mana Tulang berada. Dan dengan mudah, Tentara Pusat menangkapnya. Belakangan ketahuan oleh Tulang, seorang anggota kelompoknya yang menyerahkan diri kepada Tentara Pusat beberapa jam sebelum Tulan pulang malam itu, yang memberi informasi tentang posisi Tulang.

Mendengar Tulang nomor 1 sudah ditangkap Tentara Pusat dan berada di tempat penampungan di Balige, Bapaku datang ke Tambunan menemui Ompung di rumahnya. Beberapa lama mereka tampak ngobrol serius, dan bapak meyakinkan Ompung akan segera mengurus kedua Tulangku dengan mengandalkan bantuan Kapten TR Simanjuntak dan Bapak Uda. Ompung sama sekali tidak ragu akan kesanggupan Bapak, karena dia mengetahui keberadaan Amangboru dan Bapak Udaku itu. Hanya perlu kesabaran saja menunggu hasilnya.

Dikarenakan Pemerintah Pusat sendiri sudah berjanji dan membuka kesempatan memberi suaka dan amnesti kepada para pemberontak PRRI yang bertobat, Amangboru Kapten TR
Simanjuntak dan Bapak Uda Letnan L.Siahaan dibantu Letnan Samsi yang anggota Pasukan Siliwangi, tidak menemui hambatan berarti untuk mengurus kebebasan kedua Tulangku. Tulang pertama dan kedua.

Setelah melalui pemeriksaan pendahuluan yang diperlukan, tanpa menunggu waktu lama kedua Tulangku diserahkan kepada orang tuanya. Mereka tidak perlu ikut ke Siantar atau ke Medan sebagaimana yang terjadi kepada para mantan pemberontak lainnya.

Harapan Ompung agar Tulang bisa pulang paling tidak sebelum tahun baru terwujud. Bersama kedua Tulang, mereka bisa bersama-sama bernyanyi dan berdoa meninggalkan tahun lama 1960 masuk ke tahun baru 1961. Seperti kebiasaan bagi orang Batak, pas tengah malam saat lonceng gereja dibunyikan bertalu-talu, pergantian tahun merupakan acara khusuk bersama hampir di tengah setiap keluarga.

Selanjutnya, di kemudian hari, mereka kembali ke kegiatan masing2, sesuai janji Pemerintah Pusat yang akan memberi kebebasan dan hak penuh sebagai warga negara bagi para mantan pemberontak itu. Tulang nomor 1 meneruskan kegiatannya sebagai pedagang dan tani, sedang adiknya kembali mengjajar di depan murid2nya.

Ompung doli terlihat bergairah lagi hidupnya. Tidak pernah lagi cangkir kaleng tempat kopinya, tidak habis isinya seperti saat Tulang belum jelas di mana rimbanya. Kini selalu hanya ampas kopi saja yang tersisa di dasar muk itu.

Tamat

*Nelson Siahaan adalah pelaku dari kisah ini , ia tulis kenangan kecilnya tentang pemberontakan PRRI di daerah Tapanuli Utara Sumatera Utara
Beliau lahir 25 Desember 1952.
Pendidikan terakhir S1.
Berkerja sebagai Wartawan di salah satu media di Jakarta.

Memberontak PRRI (10) Turun Gunung , Memyerah

MASIH pagi, Ompung baru bangun. Suara memanggil-manggil Ompung datang dari arah pintu depan. Ompung boru membuka pintu. Ternyata yang berdiri di hadapannya adalah tetangga pemilik rumah di sebelah, yang rumah mereka hanya dipisah halaman dan pagar. Tamu itu marga Tambunan juga, aku pun sehari-hari memanggilnya dengan sapaan tulang.

Tetangga itu dipersilahkan masuk dan mendekati Ompung doli yang duduk di ruang tamu. Ompung boru segera ke dapur, untuk membuat teh manis. Ompung boruku ini tidak pernah membiarkan tamu pulang jika berkunjung ke tumahnya sebelum minum dulu, paling tidak teh manis.

Tulang itu ,yang sapaannya Amani Victor, seorang anggota polisi yang punya status cukup tinggi di kantor polisi Kecamatan Balige. Maksud kedatangannya ingin pamit kepada Ompung karena ada rencana ia akan dipindah tugas ke daerah lain.

Menurut Tulang amani Victor itu, keberangkatan ke tempat tugas yang baru di kota Pematang Siantar akan segera dilaksanakan. Itu perintah yang dia terima dari komandannya di kantor. Sebagai bawahan harus patuh perintah komando.

Tengah mereka asik ngobrol, seorang bapak muncul lagi di pintu rumah Ompung yang dibiarkan terbuka. Maksudnya juga ingin bertemu dengan Ompungku, mau memberitakan sesuatu. Maklum, Ompung sebagai kepala kampung dianggap sebagai pengayom oleh penduduk desa itu.

Mereka bertiga bersalaman, dan bapak yang barusan tiba dipanggil, amani Robis, duduk bergabung. “Naung di son do Abang hape (Sudah di sini abang rupanya),” kata amani Robis kepada amani Victor, membuka pembicaraan.

Sama seperti Amani Victor, amani Robis juga hendak lapor kepada Ompung sekaligus pamit bahwa dia akan segera diberangkatkan ke Kotacane, Aceh, menempati daerah tugas baru. Amani Robis ini pun seorang anggota polisi yang berkantor sama dengan amani Victor.

Itu lah maksud kedatangan kedua anggota polisi yang menjadi warga Ompung itu. Mereka ijin pamit sekaligus minta restu. Beberapa hari kemudian mereka diberangkatkan ke tempat tugas masing2.Amani Victor ke Siantar dan amani Robis ke Kotacane. Selain mereka, masih banyak anggota polisi Tapanuli Utara lainnya ke daerah lain. Pokoknya bertugas harus jauh dari wilayah Tapanuli.

Apa yang mendasari adanya tour of duty di kalangan polisi di Tapanuli itu, ternyata merupakan taktik dan kebijaksanaan Pemerintah Pusat.

Hubungan antara Maludin Simbolon sebagai Pimpinan teratas PRRI di Sumatera Utara sangat erat dengan Jenderal Hoegeng yang menjabat Kapolri waktu itu. Pemerintah Pusat sangat paham hal itu, sehingga mereka ingin hubungan baik itu jangan dimanfaatkan Simbolon untuk mempengaruhi anggota polisi di daerah Tapanuli agar ikut gabung ke dalam pasukannya jadi pemberontak PRRI.

Pemerintah Pusat tidak ingin Pak Hoegeng dipengaruhi Simbolon karena kedekatan hubungan itu, agar memerintahkan jajarannya ikut angkat senjata bersama PRRI melawan Pemerintah Pusat. Kepemilikan senjata sekaligus prajurit polisi terlatih dapat membuat kekuatan PRRI makin besar, jika itu sampai terjadi.

Telegram untuk tour of duty terutama bagi anggota polisi yang punya posisi penting segera dilayangkan ke Markas Kepolisian Sumatera Utara, untuk diteruskan ke kantor2 polisi di Tapanuli.

Kecepatan taktik pecah belah antara Pak Hoegeng dan Kolonel M.Simbolon tidak sempat menambah kekuatan personil dan persenjataan PRRI.

Pemerintah Pusat,di mana Jenderal AH.Nasution yang menjadi Kasad TNI saat itu mengirim pasukan dari Pulau Jawa untuk membantu anggota TNI Bukit Barisan di Sumatera Utara. Baik melalui darat maupun melalui terjun dari udara.

Di antara anggota TNI yang dikirim.dari Pusat, ada seorang perwira menengah berpangkat Kapten. Namanya TR.Simanjuntak. Dia ini adalah amangboruku juga. Sama dengan Amangboruku yang ikut PRRI, istri TR.Simanjuntak ini adalah adek kandung
(Ito, bahasa Batak) bapaku. Bedanya, istri Amangboru Simanjuntak yang anggota pemberontak, itu kakak bapaku. Persis di atasnya.

Bukan cuma TR.Simanjuntak keluarga kami, Siahaan, yang jadi anggota TNI ketika itu yang harus memerangi pemberontak. Ada juga adek bapaku berpangkat Letda namanya L.Siahaan, tapi kesatuannya 123 bertugas di Kisaran. Saya memanggilnya bapak uda, karena dia adek bapaku.

Berpangkat kapten di tengah Pasukan Tentara Pusat, TR.Simanjuntak berperan penting di kesatuan yang diterjunkan ke Sumatera Utara, terlebih ke daerah Tapanuli. Dengan pars perwira lain dari Pasukan Siliwangi, tentu dia menjalin hubungan erat. Salah satu perwira Pasukan Siliwangi yang dekat dengannya adalah: Letnan Samsi.

Bertugas di Tapanuli, yang salah 1 kotanya adalah Balige, dimanfaatkan Amangboru dan Bapak Uda untuk mengunjungi keluarga Ompungku dari keluarga Siahaan. Ompung mengumpulkan anak2nya, termasuk Namboruku, istri Simanjuntak yang berada di hutan mengikuti PRRI.

Dalam kesempatan pertemuan itu, TR.Simanjuntak mengajak Letnan Samsi ikut bersamanya. Sembari makan di rumah Ompung, Namboru menceritakan keterlibatan suaminya kepada ketiga anggota TNI itu. Amangboruku, Bapa Udaku dan Letnan Samsi. Dia ingin Amangboru mempengaruhi suaminya untuk meninggalkan pemberontak, agar kembali ke tengah keluarga.

“Hatopma ulahon i.Jou Abangmi mulak. (Cepat kerjakan itu. Panggil Abangmu pulang), ” tegas Ompungku menimpali permohonan Namboru yang disertai air mata.

Amangboru, TR.Simanjuntak berjanji akan segera berusaha menemui amangboru Simanjuntak yang ada di tengah hutan. Bersama Bapak Udaku dan Letnan Samsi, dia merencanakan akan menemui Simanjuntak yang pemberontak itu untuk menyuruhnya menyetahkan diri. Tentu keamanan Amangboru pasti dalam jaminan mereka.

Letnan Samsi sejak diajak Kapten TR.Simanjuntak ikut ke rumah Ompung, menjadi sangat dekat hubungannya dengan keluarga kami. Ia tidak sungkan lagi tiba2 muncul di rumah Namboru, minta makan.

Pada suatu hari, TR.Simanjuntak mengatur pertemuan dengan Amangboru Simanjuntak yang ikut pemberontak, melalui Letnan Samsi. Seperti diketahui, Pasukan Siliwangi ini walau turut menggempur dan mengejar pasukan pemberontak, ada hubungan baik tersendiri antara mereka. Keadaan semacam itu lah yang membuat Amangboru Kapten TR Smanjuntak dengan mudah bertemu sama Simanjuntak pemberontak.

Dalam pertemuan di tempat tersembunyi, TR.Simanjuntak melancarkan bujukan kepada Simanjuntak pemberontak itu agar segera meninggalkan PRRI. Menjauhi hutan dan pegunungan tempat mereka bergerilya. Kapten TR.Simanjuntak mengeluarkan jurus mengcounter iming2 Maludin Simbolon yang merasuki pikiran dan hati Amangboru pemberontak itu, agar ia mau menyerah.

Tidak lama berselang setelah pertemuan antara dua Simanjuntak, seorang anggota TNI dan seorang lagi pemberontak, itu, kami dapat kabar bahwa Amangboru sudah meninggalkan pemberontak PPRI. Menyerahkan diri kepada Tentara Pusat yang difasilitasi saudara2nya dan Letnan Samsi. Sedang Simbolon kehilangan kehilangan salah 1 orang andalannya dalam strategi.

Amangboru muncul di rumahnya di Siahaan Balige,yang berhadapan langsung dengan rumah potong hewan, Balige.

Keluarga besar Siahaan bersuka ria, berkumpul makan bersama di rumah Namboru. Kami selamatan mengucap sykur dengan kembalinya si pemberontak. Amangboru ditepung tawari oleh Ompungku. Beras, sipir ni tondi, dijumput di ujung jari ditaruh di kepalanya.

Hubungan baik Amangboru yang mantan pemberontak dengan beberapa orang pejabat di Pusat, salah 1 di antaranya AE.Manihuruk, membuat dia tidak harus berlama-lama menganggur di rumah. Sebelum mengikuti ajakan M.Simbolon, Amangboru menjadi pegawai Kementerian Agama di Tapanuli Utara sebagai Kepala Jabatan Agama.

Berkat jasa baik AE.Manihuruk, mantan pemberontak itu kembali bekerja di lingkungan Departemen Agama, tetap memegang jabatan Kepala Jabatan Agama. Tapi penempatannya bukan di Tapanuli Utara lagi, melainkan ditugaskan di Sibolga, di tepian Lautan Hindia. Beberapa tahun bertugas di Sibolga, dia dipindah lagi ke kota Pakan Baru, Riau. Dan masa tugasnya berakhir di kota itu pula.

Sementara keluarga Ompung dari Bapak sudah bersenang hati, keluarga Ompungku dari ibuku, masih dalam kesedihan, karena Tulangku, anaknya paling besar belum juga ketahuan nasibnya. Entah di mana dia berada. Kecemasan terus membayangi kedua Ompungku. Ompung doli dan Ompung boru. Aku juga turut kehilangan Tulang yang sudah lama tidak nongol di rumah ompung.

(Bersamnung)
*Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (9) Di bujuk Kolonel Maludin Simbolon

DARI keluarga kerabat ibuku, marga Tambunan, anak Ompungku 2 orang menjadi prajurit pemberontak PRRI. Mereka bergabung dengan pemberontak atas dasar kehendak sendiri, sementara banyak pemuda lain yang ikut ambil bagian karena terpaksa. Mereka ditawan digiring ke hutan dan pegunungan, lalu dilatih secara kilat untuk menggunakan senjata. Lalu disertakan menghadapi pasukan Tentara Pusat yang sangat terlatih.

Dua Tulangku memiliki posisi berbeda di kubu pemberontak itu. Tulang paling kecil, yang saat pemberontakan belum terjadi, berprofesi guru SR, langsung jadi tentara petempur. Sedang Tulang nomor 1 yang semula kerjanya berdagang dan tani, mendapat posisi sebagai pimpinan kelompok.

Kelompok kecil yang berada di bawah kendali Tulang nomor 1 terdiri dari pemuda yang tinggal di kitaran desa Tambunan, yang sangat mengenal tiap jengkal seluk beluk daerah itu.
Mereka lebih sering berada di rumah Ompungku yang halamannya cukup luas,yang mereka jadikan sebagai markas pada siang hari. Menjelang matahari terbenam,mereka berpindah,bergeser ke pasukan induk yang membuat markas di pinggiran hutan dan pegunungan. Para pemberontak tidak pernah berada lama di 1 tempat. Mereka selalu bergerak.

Rupanya,Tulang dan kelompok kecilnya diberi tugas penting untuk memback-up kelangsungan perjuangan pemberontak di daerah Toba. Mereka menjadi pencari logistik dengan jalan menghadang kendaraan truk bermuatan sandang pangan yang melewati jalan besar sepanjanh desa Tambunan. Bis juga tidak luput dari sasaran kelompok itu. Menjarah benda berharga dan uang dari para penumpang

Para penduduk di kota seperti Balige, Siborong-Borong, Porsea, Tarutung tidak banyak yang turut bergabung dengan pemberontak. Baik bapak2 maupun anak2 mudanya. Jika pun ada di antara anak muda kota2 kecil itu yang terlibat jadi pemberontak, umumnya kebanyakan karena disergap pemberontak saat berada di pinggiran kota, dan dipaksa masuk hutan.

Kebanyakan lelaki yang direkrut untuk bergabung dengan Pemberontak PRRI adalah penduduk yang tinggal di desa dan pinggiran kota. Selain yang dipaksa ikut.

Jika dari keluarga ibuku ada 2 tulangku yang bergabung dengan PRRI, ternyata dari keluarga kerabat bapaku, Siahaan, juga ada yang masuk ke PRRI.Dia kami panggil amangboru. Istrinya adalah kakak perempuan bapaku yang persis di atasnya. Amangboruku ini kala itu pegawai negeri, yang punya jabatan penting di Kementerian Agama, Tapanuli Utara, sebagai Kepala Jabatan Urusan Agama.

Amangboru, bermarga Simanjuntak itu, langsung ditemui oleh Maludin Simbolon, begitu perlawanan terhadap Pemerintah Pusat dimaklumatkan PRRI melalui pemberontakan senjata. Dalam ceritanya setelah saya bekerja, Amangboru menjelaskan, Maludin dikenalnya sejak muda. Mereka cukup akrab walau Maludin berada di Jawa bekerja sebagai guru sebelum masuk pendidikan militer.

Saat mereka bertemu di Medan, Maludin Simbolon menerangkan kepada Amangboru bagaimana cita-cita perjuangan PRRI dan apa tujuan yang akan dicapai. Amangboru dibujuk untuk ikut masuk hutan, tetapi tugasnya bukan lah menjadi pemanggul senjata, melainkan ikut sebagai pemikir strategi perlawanan. Dia diharapkan akan menyusun konsep untuk membangkitkan semangat para pemberontak supaya tidak kendor dalam menghadapi pasukan Tentara Pusat.

Dengan segala janji muluk dari Maludin Simbolon kepada amangboru,membuat luluh hatinya. Ia menerima ajakan untuk bergabung dengan Simbolon, dan wilayah kerjanya adalah sekitar Toba. Kenapa amangboru jadi tertarik mengikuti ajakan Maludin Simbolon? Ternyata kepadanya dijanjikan 1 jabatan sebagai kepala daerah jika PPRI berhasil memperoleh tuntutan dari Pemerintah Pusat.

Mendapat penjelasan sekalian brifing apa tugas dan yang harus segera dikerjakan amangboru, ia meninghalkan Maludin Simbolon. Hari itu juga ia langsung pulang ke Balige. Tiba di rumah mereka, letaknya di Siahaa Balige, persis berhadapan dengan rumah potong hewan, Balige, Amangboru langsung menemui istrinya ,namboruku, dan mengumpulkan anak2nya.

“Saya mau ikut gabung dengan pemberontak pimpinan temanku, Simbolon,” jelas Amangboru kepada Namboru dan anak2nya. Amangboru juga menjelaskan soal iming2 yang diterimanya dari Simbolon, jika PRRI berhasil.

Istri dan anak siapa yang rela menerima suami dan bapaknya ikut terjun ke kancah medan perang, yang akan menghadapi pertempuran. Yang konsekwnsinya adalah kehilangan nyawa diterjang peluru. Mereka menolak keinginan Amangboru, walau janji yang diberikan itu menggiurkan hati.

Namun hati Amangboru sudah bulat untuk memenuhi ajakan sahabatnya Maludin Simbolon. Tekadnya sudah tak bisa digoyahkan lagi. Janji yang sudah dijalin tidak boleh diingkari. Begitu pinsipnya. Dengan membawa keperluan seadanya, Amangboru meninggalkan keluarganya. Ia menemui pasukan pemberontak di hutan desa Parsoburan.

Dalam suatu kesempatan, Amangboru mengirim kurir menemui keluarga namboruku ke rumahnya. Kepada Namboru dalam pesan yang disampaikan kurir itu dipersilahkan datang ke Parsoburan kalau mau bertemu dengan Amangboru. Kurir itu juga yang akan menemani mereka ke Parsoburan keesokan harinya sebagai penunjuk jalan di mana pertemuan akan dilakukan.

Namboru dan anaknya paling besar, Leonard, sangat gembira mendengar tawaran kesempatan bertemu itu. Namboru yang pintar memasak, pagi sekali sudah pergi ke pajak untuk membeli ayam dan ikan emas yang akan dimasaknya untuk dibawa menemui amangboru.

Ayam dimasak nanigota, ayam darah, karena sajian itu adalah kegemaran Amangboru. Sedang ikan emas dimasak arsik dan ditambah bagot, susu kerbau.

Sesuai waktu yang sudah dijanjikan, kurir datang ke rumah namboru untuk menjemputnya. Rupanya Namboru diijinkan membawa Leonard, anaknya paling besar melakukan perjalanan itu. Jadi lah Namboru dan Leo dikawal sang kurir meninggalkan rumah menuju tempat pertemuan,di desa Parsoburan yang puluhan kilometer jaraknya dari Balige.

Membawa keranjang berisi makananan yang dimasak Namboru, mereka menumpang mobil kecil yang memang jadi alat transportasi penduduk di wilayah Toba,Tapanuli Utara, menuju Parsoburan. Angkutan itu hanya sebatas pinggir jalan besar Parsoburan saja, sehingga mereka meneruskan perjalanan dengan jalan kaki.

Perjalanan yang lumayan jauh dan melelahkan itu akhirnya berhenti di pinggiran hutan. Kurir meninggalkan Namboru dan Leo masuk ke dalam hutan. Tidak lama kemudian, Amangboru ditemani beberapa orang bersenjata laras panjang yang tampaknya sengaja mengawalnya, muncul dari hutan.

Amangboru yang kondisinya lusuh, berpelukan dengan Namboru dan Leo. Namboru menangis terisak-isak di pelukan Amangboru, sementara Amangboru tetap menampakkan ketegaran,tidak ikut larut dalam suasana haru itu.

Seolah harus segera masuk kembali ke hutan, Amangboru menenangkan Namboru dan Leo dari suasana besedih-sedih itu. Makanan yang dibawa Namboru dihidangkan. Mereka makan bersama di atas rumput dan dalam tempo singkat langsung habis disikat. Masakan enak dan pasti masakan semacam itu sudah lama tidak ditemukan, membuat rombongan Amangboru sangat lahap makannya.

Agar Namboru dan Leo pulang tidak sampai gelap hari ke Balige, pertemuan itu langsung diakhiri, usai makan. Kurir kembali mengantar Namboru dan anaknya sampai di pinggir jalan desa Parsoburan meninggalkan mereka di situ untuk mencegat angkutan yang akan mereka tumpangi balik ke Balige.

Begitu Namboru dan Leo ditemani sang kurir balik punggung meninggalkan Amangboru, kelompok Amangboru juga bergegas masuk kembali ke dalam hutan. Hanya mereka yang tahu apa yang akan mereka kerjakan selanjutnya.

(Bersambung)

*Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (8) Di bawah Hujan Tembakan

SEMULA, peperangan di antara pasukan Tentara Pusat dan Pemberontak PRRI begitu menakutkan, terutama bagi aku dan teman-teman sebayaku yang masih kecil-kecil. Ompung dengan kasih sayangnya selalu berusaha menenangkan aku saat situasi mencekam seperti itu terjadi.

Saya bisa memastikan bahwa hal yang sama juga diperlakukan orang tua teman sebayaku kepada anak2nya di rumah masing-masing untuk melindungi mereka.Tapi bagi keluarga yang para bapaknya sudah ikut bergabung dengan pemberontak, rasa aman hanya bisa mereka dapatkan dari ibunya,dan kakaknya perempuan, jika ada.

Lama-lama, karena terbiasa mendengar ledakan besar yang berasal dari meriam atau rentetan tembakan senjata, akhirnya perasaan kecut kami mulai hilang. Biar berapa gencar pun letusan terdengar saling menyahut, jika aku dan ompung sudah di tempat pengungsian, di dalam lobang galian, akhirya tidak menimbulkan kerisawan lagi.

Apabila pada malam hari terjadi pertempuran yang memakan waktu lama, aku dan teman sebayaku sudah membayangkan bahwa begitu hari terang akan ada perburuan yang kami lakukan bersama. Kami akan berlomba ke pinggir jalan, kebon, dan pinggir sawah untuk mencari selongsong peluru.

Berbagai ukuran selongsong peluru bisa kami dapat dan kumpulkan, lalu kami bawa pulang. Terkadang ada juga peluru yang masih utuh kami temukan tergeletak berdekatan dengan selongsong peluru itu. Tanpa kami sadari itu bisa berbahaya, kami pungut juga dan gabungkan dengan selongsong tadi.

Kami saling pamer berapa banyak selongsong peluru yang kami peroleh. Pemenangnya tentu yang paling banyak menemukan dan mengumpulkannya. Lalu, selongsong yang sama ukurannya kami jadikan alat taruhan. Caranya, siapa yang berhasil mengenai selongsong lawan lewat lemparan, dia berhak atas selongsong itu.

Kepada Ompung, soal peluru yang masih utuh aku ceritakan. Dia suruh aku memberitahu kepada semua kawan agar mengumpulkan peluru utuh itu.Tentu kami patuh.

Pengalaman menghadapi gemuruh tembakan walau aku yang paling sering mengalaminya, abang dan kakakku juga turut merasakannya ketika ikut nginap di rumah Ompung. Pengalaman itu jadi sangat bermanfaat buatku dan kakakku perempuan bernamaTumiar, saat kami menghadapi satu peristiwa ketika sedang berjalan di Sibuntuon.

Sibuntuon adalah 1 desa di Kecamatan Balige yang terletak di kaki gunung dan masih dipenuhi sawah dan pohon2 besar di sepanjang jalan.Dari Balige,jarak ke desa itu sekitar 3 km.Jalannya masih terbuat dari batu tak beraspal dan naik turun.Jembatan yang melewati sungai hanya terbuat dari batang pohon kelapa.

Pada Sabtu pagi ketika itu,sebelum berangkat ke sekolah,kakakku di SR HKBP dan saya di SR 1, mendengar bahwa mereka akan pergi ke Sibuntuon untuk mengikuti pertemuan keluarga besar Ompung dari bapak.Marga Siahaan.

Biasanya,jika keluarga berkumpul seperti itu apalagi di desa,bisa dipastikan makan besar.Pasti ada daging B2 yang jadi makanan vaforit kami.Satu ekor B2 disembelih untuk hajatan keluarga itu.

Pulang sekolah, masih berpakaian seragam, saya dan kakak berjalan cepat menuju kampung kami, Sibuntuon, yang letaknya persis di bawah gunung. Walau matahari pas di atas kepala, karena udara pegunungan berhembus dingin, dan pohon besar tumbuh di sepanjang pinggir jalan,kami tidak kepanasan.

Pas jalan mendaki kira-kira 300 meter lagi ke tempat tujuan kami,kami dikejutkan suara tembakan dari arah gunung yang melintas di samping kami. Aku dan kakak berlari kencang ke desa yang hanya memiliki 6 rumah itu. Ternyata rumah kami dan rumah Bapak Tua yang sedianya jadi tempat pertemuan, kosong. Tak seorang pun kami temukan di rumah bergaya Batak itu.

Kakakku mengajak aku segera meninggalkan kampung kami itu balik ke pasar,Balige.Sementara tembakan hanya sesekali terdengar.Berpegangan tangan dengan kakakku,kami mengayun langkah cepat sambil menenteng tas berisi buku pelajaran. Kami tidak hirau sama sekali dengan adanya tembakan itu.

Tidak lama setelah meninggalkan kampung itu, tembakan gencar terdengar.Desingan peluru jauh di atas kepala kami seolah tak putus-putus bersahutan.Sesekali ada yang melesat ke persawahan.

Sepanjang jalan yang kami lalui,tidak seorang pun penduduk kami jumpai.Ketika melewati 1 gereja di mana di dekatnya ada warung yang biasanya buka, kami lihat tertutup. Keadaan sepi, hanya dimeriahkan rentetan tembakan terus menerus.

Kami memang cemas, tapi tetap meneruskan perjalanan dengan berlari-lari kecil. Tidak ada sama sekali niat kami mencoba berlindung dengan mengetuk rumah orang yang tertutup pintunya,dan jarang2 letaknya.

Kakakku saat itu bernyanyi-nyanyi cukup keras,menyanyikan lagu2 mars yang harus kami hafal karena di sekolah selalu ada upacara bendera. Lagu Hallo-Hallo Bandung dan lagu lainnya, dinyanyikan kakakku seakan mengalahkan situasi mencekam itu. Sesekali aku mengikutinya.

Akhirnya kami tiba di rumah, di kota Balige dalam keadaan haus,lapar dan terengah-engah. Rasa lapar yang kami tahan sedari tadi, kami tutupi dengan makan nasi yang banyak walau cuma berlauk ikan teri. Padahal, ketika berangkat ke Sibuntuon aku dan kakak sudah membayangkan akan menghadapi santapan yang sedap.

Setelah Bapak dan Ibu pada sore harinya pulang ke rumah, baru kami tahu ternyata tempat pertemuan dipindah ke 1 rumah di Onan Raja yang letaknya tidak jauh dari sekolah kakakku. Tempat pertemuan itu dipindah karena keluarga besar Bapak sudah dapat pemberitahuan bahwa hari itu akan ada serbuan Tentara Pusat ke pegunungan tempat Pemberontak bermarkas.

Kedua orang tua kami terharu mendengar peristiwa yang kami hadapi siang tadi. Bapak menyalahkan dirinya tidak mengabarkan adanya perubahan tempat itu kepada kakakku, yang mudah saja dilakukan sambil lalu, saat menuju rumah tempat berkumpul.

Mungkin untuk menebus rasa bersalah Bapak, dan mengobati hati kami, kami sekeluarga dibawa Bapak makan mie kuah si Bungkuk yang terkenal enaknya di Balige, pada malam harinya.(8)

(Bersambung)

*Nelsom Siahaan

Memberontak PRRI (5) Pasukan Siliwangi

Cukup lama Tulang menghilang.Begitu juga rombongannya,sehingga markas terasa sepi.Sementara,lalu lalang konvoi pasukan Tentara Pusat di siang hari semakin sering terlihat,baik mengarah ke Balige maupun ke Parapat.

Suatu ketika,Tulang muncul dengan beberapa temannya yang biasa menjadikan rumah Ompung sebagai markas.Tapi ada beberapa orang di antaranya tidak ikut bersama mereka saat itu.

Mereka hanya duduk2 santai dan rebahan saja seolah-olah hanya melepas lelah.Rupanya dalam situasi seperti itu,mereka bertugas memasang kuping untuk mencari tahu gerakan2 apa yang akan dilakukan Tentara Pusat.

Walau kelompok Tulangku nampak santai-santai saja jika sedang berada di rumah Ompung yang jadi markas mereka sejak lama,ternyata mereka bukan tidak bekerja.Selain menghadang kendaran yang lewat di jalan untuk menjarah isinya,mereka juga ounya tugas sangat penting.

Komplotan Tulangku berkegiatan secara sembunyi,bergerak dalam senyap,menghimpun informasi tentang pergerakan pasukan Tentara Pusat yang memang dibutuhkan pemberontak.Mereka bertugas sebagai intel.

Malam harinya,mereka kembali ke hutan bergabung dengan pasukan induk.Tentu dengan membawa pelbagai info penting yang akan dimanfaatkan pemberontak melakukan gerakan perlawanannya.

Kegiatan pasukan Tulang yang biasanya menghadang kendaraan yang datang dari arah Parapat menuju Balige dan sebaliknya dari Balige menuju Parapat sudah lama tidak mereka lakukan.

Bisa jadi,pencegatan untuk menjarah isi truk yang melintas dan memeras penumpang angkutan umum tidak bisa mereka lakukan lagi,karena sudah ada pengawalan atas kendaraan itu,setiap melintas sejak dari tempat pemberangkatan hingga sampai tujuan.

Tentara Pusat semakin kuat cengkeraman pengawasannya di sepanjang jalan besar yang jadi jantung transportasi pulau Sumatera,yang menghubungkan kota2 besar mulai dari Aceh hingga Lampung.

Tapi jika matahari sudah bersembunyi ke peraduannya,dan bunyi jangkrik serta kodok mulai bersahut-sahutan menghiasi suasana malam,letusan senjata lapat-lapat terdengar dari kejauhan.

Lama kelamaan,rentetan tembakan dan gelegar dentuman makin dekat terdengar silih berganti.Saat itu,aku sama Ompung sudah berada di liang penyelamatan.

Hari demi hari berlalu.Lama2,rombongan Tulang yang muncul di siang hari di markas semakin menyusut jumlahnya.Di lain kesempatan,aku mendapat keterangan bahwa ada beberapa yang tewas saat berhadapan dengan pasukan Tentara Pusat dan ada yang menyerahkan diri,karena tidak tahan lagi karena ruang gerak mereka semakin sempit.

Di suatu hari,saat sisa rombongan Tulangku sedang makan siang di rumah Ompung,mereka mendengar ada konvoi pasukan Tentara Pusat akan segera lewat mengarah ke Balige.

Mereka,seperti biasanya,bukannya bergegas menghindar setelah memperoleh info itu,melainkan justru menghambur keluar dari rumah menuju jalan besar,yang jadi tempat lintas konvoi pasukan Tentara Pusat itu.

Saya memanggilnya Tulang Amir,karena dia marga Tambunan dan berasal dari desa sekitar situ juga,tampak paling antusias menyambut info kehadiran konvoi pasukan Tentara Pusat itu.Ia seolah ingin menghadang rombongan pasukan itu.

Dia berdiri paling di depan di pinggir jalan dengan kemeja lusuhnya yang tidak terkancing,sedang yang lainnya mengambil jarak dan hanya berdiri beberapa meter di belakangnya.

Konvoi yang terdiri dari 2 panser,truk berpenumpang penuh tentara dan jeep yang melaju dari arah Parapat itu terlihat memperlambat kecepatan dan berhenti persis di simpang Baruara,di mana pasukan pemberontak itu menanti.

Penumpang Jeep turun dan langsung menghampiri Tulang Amir yang berdiri paling depan.Selanjutnya,Tulang dan teman2nya ikut bergabung.Mereka berjabatan tangan dan tampak akbrab berbicara,seolah sudak kenal lama.

Di emblim yang melekat di baju loreng pasukan Tentara Pusat itu,terlihat gambar kepala macan.Rupanya,mereka adalah Pasukan Kodam Siliwangi dari Jawa Barat yang diterjunkan untuk memulihkan suasana di daerah Sumatera Utara.

Kehadiran Pasukan Siliwangi ternyata disambut para pemberontak PRRI dengan uluran tangan yang baik.Apakah itu pertanda akan ada perdamaian mengakhiri perang saudara,terlihat di hari-hari berikutnya.

Pertemuan antara Pasukan Siliwangi dengan kelompok penberontak berlangsung cukup lama.Lalu mereka saling salam lagi dan pasukan itu meneruskan perjalanannya mwngarah ke Balige.

Terlihat mereka saling melambai tangan.

Di kemudian hari,saya mengetahui bahwa Tentara Pusat itu ada 2 kelompok.Satu kelompok Pasukan Siliwangi yang datang belakangan ke Sumatera Utara,yang justru tampak berdamai dengan para pemberontak.

Walau diterjunkan dengan pasukan lengkap dan peralatan tempur lengkap,Pasukan Siliwangi ditugaskan tujuan utamanya bukan untuk mengejar para pemberontak,melainkan berupaya melakukan pendekatan secara persuasif agar mau menghentikan perlawanan kepada Pemerintah yang sah.

Sedang pasukan Tentara Pusat terdahulu,yang selalu dihindari kelompok Tulangku adalah pasukan tentara Sumatera Utara dibantu pasukan lain,yang tugasnya mencari dan melumpuhkan para pemberontak.

Pasukan Tentara Pusat ini lah yang dihadapi para pemberontak di sekitar Tapanuli Utara sejak PRRI menyatakan tidak percaya lagi terhadap Pemerintah Pusat.

Mereka dengan persenjataan berat berupaya mengejar pasukan pemberontak hingga ke hutan dan pegunungan.Namun perlawanan cukup sengit diakukan para pemberontak,sehingga tidak mudah dilumpuhkan.

Dalam kesempatan lainnya,justru pasukan pemberontak yang keluar dari hutan dan gunung menyerang pasukan Tentara Pusat.Baik menyerang langsung ke markas maupun menyanggong mereka saat melintas di daerah tertentu.

Setelah kehadiran pasukan Tentara Siiwangi yang juga Tentara Pusat,Tulangku makin agak sering tidur di rumah.Walau masih menunjukkan rasa cemas.

Sedang Tulangku yang nomor dua lama tidak pulang ke rumah Ompungku,karena dia bergabung dengan pemberontak lain yang daerah tempurnya berbeda walau masih satu kabupaten.

Ompungku selalu berusaha mendapat kabar tentang Tulang yang paling kecil itu dan melalui Tulang yang selalu bermarkas di rumah Ompung,info tentang adeknya itu mudah didapat.Apalagi tugas utama kelompok Tulang adalah penghimpun informasi.Intelijen.

Ia dikabarkan masih hidup dan dalam keadaan sehat,membuat rasa cemas Ompung bisa teratasi.

(Bersambung)

*Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (3) Piston FN

RENTETAN tembakan dan gelegar ledakan hampir jarang terjadi di terang hari.Sejak fajar menyingsing hingga rembang petang,suasana boleh dibilang aman tenteram.Tidak terlihat tanda2 bahwa perang sedang terjadi di daerah kami.Perang saudara yang melibatkan Tentara resmi negara yang ingin memadamkan pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI.

Sejak pecah perang,banyak bapak2,terutama para pemuda dewasa dan belasan tahun dipaksa untuk ikut memberontak.Ada juga sebagian yang dengan sukarela ikut mengangkat senjata berkat provokasi para mantan tentara yang membelot,yang memimpin pergerakan itu.

Mereka dibawa masuk hutan dan gunung yang mengelilingi daerah kami.
Warga sipil yang sangat awam dengan persenjataan,sambil lalu dapat pelatihan dalam menyusun kekuatan di tengah hutan dan di daerah pegunungan.

Kebutuhan makan mereka berupa beras ada yang diperoleh melalui kekerasan,merampas harta penduduk.Ternak warga juga menjadi sasaran para pemberontak itu untuk menghidupi mereka di tempat persembunyian.

Dari tempat persembunyian itu mereka sewaktu-waktu secara mendadak melakukan sistem gerilya hit and run menyerang Tentara Pusat yang sedang ada di markasnya atau yang tengah melakukan patroli di malam hari.

Dua Tulangku,paling besar bekerja sebagai pedagang dan bertani dan adiknya yang berprofesi guru,termasuk pemuda yang dengan sukarela turut bergabung dengan pasukan “pardolok”,PRRI itu.

Mengikuti jejak mereka,beberapa pemuda di kitaran kampung Tambunan,yang merasa bangga jika bergabung mengangkat senjata melawan tentara Pemerintah Pusat yang dinilai tidak adil dalam memerintah.

Jika siang hari,kelompok yang bergabung dengan Tulangku sering berkumpul di lokasi rumah ompungku.Halaman rumah yang luas baik di samping dan belakang rumah sangat ideal buat dijadikan markas.

Belakang halaman rumah itu sudah langsung berhadapan dengan hamparan sawah,hingga desa Baruara.Jika pun ada pengejaran dari Tentara Pusat,kondisi itu sangat strategis dan memungkinkan untuk dimanfaatkan melarikan diri.

Tulangku yang paling besar seingatku mungkin yang jadi pemimpin di kelompoknya,karena dia yang kulihat sering memimpin pemibicaraan.Jika saya sedang di Tambunan,Tulang itu selalu mengajak saya berada di tengah-tengah mereka sehingga saya bisa lihat peranannya.

Aku tidak pernah melihat Tulangku dan kelompoknya menyandang senjata api,selama mereka berada di lokasi rumah ompungku.
Pistol pun tidak ada yang terselip di pinggang salah 1 di antara mereka.

Nama2 seperti Simbolon,Ambolas dan si Pesong jadi sangat akrab di kupingku karena nama2 itu sering mereka ucapkan saat kumpul berbincang.
Rupanya,orang2 pemilik nama itu lah yang jadi komandan atau pengendali pasukan pardolok di daerah Tapanuli,di mana desa Tambunan adalah bagiannya.

Karena kelompok Tulangku adalah kelahiran dan besar di Tambunan yang tahu persis seluk beluk desa itu,dan lewat desa itu pula jalan negara yang menghubungkan Aceh hingga Lampung terbentang,maka mereka dapat tugas khusus untuk pemanfaatannya.

Mereka mendapat tugas sebagai pengumpul keperluan hidup buat para pemberontak yang berada di tempat persembunyian.

Jika ada bis atau truk yang datang dari arah Tarutung menuju Medan,mereka akan menghadangnya.Muatan truk yang berupa pangan,apa pun jenisnya diturunkan sebagian.
Begitu juga penumpang bis sering digeledah.Mereka merampas perhiasan dan uang.

Sebaliknya juga terhadap angkutan truk dan bis yang melaju dari arah Medan ke Tarutung,mereka melakukan hal yang sama.

Semua bahan pangan yang mereka rampas diangkut ke tempat persenbunyian para Pardolok di hutan mau pun di gunung.Begitu juga benda berharga yang umumnya perhiasan dan uang diserahkan kepada atasan mereka.

Terkadang,ada juga laki2 yang mereka turunkan dari bis dan mereka tahan.Setelah mereka selesai menjarah truk dan penumpang bis,kendaraan itu dibiarkan berangkat meneruskan perjalanan.

Jika ada orang yang diturunkan dari bis,ternyata orang itu disandera untuk meminta tebusan dari keluarganya.

Begitu pula yang harusnya terjadi kepada orang yang aku kenali terikat di onggokan karung berisi padi,yang akhirnya disuruh bebaskan oleh Tulang saya dengan beberapa lelaki lainnya,sedianya akan jadi sandera tebusan.

Tulang mencari aku.
“Mau pestol,” tawarnya.
Dia mengeluarkan sebuah pistol jenis FN berwarna merah dari balik punggungnya dan menyerahkannya kepadaku.

Pistol mainan berwarna merah yang terbuat dari karet padat itu,ternyata hasil rampasan dari seorang penumpang bis dari Medan.
Itu bukti Tulang sangat sayang pada kami berenya,karena disela-sela tugasnya berbuat “jahat” masih sempat memikirkan berenya.
Tapi di bis yang mereka jarah,ada Bapak yang meringis,karena hadiah untuk anaknya lenyap dirampas.
(Bersambung)

*kisah ini ditulis oleh Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (2) Untung Kukenali

JARAK kota kecil Balige,tempat tinggal kami, ke desa Tambunan hanya sekitar 4 km.Di desa Tambunan itu lah tinggal Ompungku yang cukup terkenal sebagai kepala desa.

Anaknya ada 2 lelaki,yang saya panggil Tulang dan mereka adalah adik ibuku.Rumah ompungku letaknya persis di pinggir jalan raya beraspal yang disebut jalan negara.

Halamannya lumayan luas dan karena tanahnya subur,banyak jenis tanaman keras penghasil buah tumbuh di situ.
Durian,jambu bol,nangka,sirsak dan lainnya,selalu berbuah banyak.Belum lagi tumbuhan menjalar seperti labu dan markisa, selalu memberi warna yang indah dipandang mata saat bergelantungan di bambu2 yang ditata tempat merayap tumbuhan itu.Pohon pepaya jangan ditanya lagi betapa banyaknya.

Semua buah pohon yang sering diajak Ompungku ngobrol – iya,benar diajak ngobrol sambil ditepuk – itu,bukan main manisnya.Sebagian jadi bagian kalong,jika belum sempat dipetik.

Mengunjungi ompung sering kami lakukan.Abangku,kakakku dan aku sendiri.Kadang2 kami datang bersama dan ada kalanya sendiri-sendiri.Selain karena ompung kami sangat baik,juga hendak mengambil beras dan buah untuk keperluan kami di Balige.

Jika aku berkunjung sendiri,aku menggunakan sepeda dan dengan sepeda itu aku membawa beras dan buah yang sudah disiapkan ompung untuk kubawa pulang ke Balige.

Kedua Tulangku yang masih bujangan suka mengajak kami mencari burung di sawah.Mereka berdua selalu memanjakan kami.

Mendadak,kebiasaan kami datang ke kampung ompung tidak bisa lagi sesering sebelumnya,karena ada pemberontakan oleh Pardolok.Pardolok adalah sebutan buat anggota PRRI (Pemerintahan Revolusioner RI) di negri Batak,Tapanuli,yang pecah pada 15 Februari 1958.Mereka menentang Pemerintah Pusat karena dianggap tidak adil.

Apa itu pemberontakan sama sekali aku belum pahami.Yang aku tahu jika malam tiba,sering terdengar rentetan tembakan dan gelegar ledakan,jika kebetulan aku nginap di rumah ompung.

Kedua Tulangku sering meninggalkan rumah dan beberapa hari kemudian baru muncul.Itu pun,mereka sering pulang sendiri-sendiri dan hanya betah sebentar tinggal di rumah.

Selanjutnya terburu-buru pergi.Mereka membawa beras dan menghilang lagi sampai beberapa hari.Kadang dengan beberapa pemuda lainnya,mereka bisa berkumpul di rumah ompungku.

Pada suatu pagi,aku kebetulan menginap di rumah ompung,aku melihat tulangku sedang berbicara didampingi teman2nya.Di depan mereka ada beberapa laki2 yang diikat melingkar ke tumpukan karung padi.

Dasar masih anak2,tanpa peduli apa yang sedang terjadi dan naluri ingin menemui Tulang,aku mendekati kerumunan itu.Aku berteriak: “Abang kenapa,” sambil mendekati salah seorang di antara yang terikat tadi.

Aku sangat mengenalinya,karena letak rumah kami hanya 10 rumah antaranya di Balige. Tulangku menunduk sambil memelukku,bertanya apa aku kenal orang itu.Akhirnya,yang kupanggil abang itu dibebaskan,juga tawanan yang lain yang diikat bersamanya.

Kulihat Tulangku yang memberi perintah..
(Bersambung)

Ditulis oleh Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (1)

GONCAGAN keras di bahuku membuat tidur pulasku terganggu.Bale tempatku berbaring sampai berderit akibat guncangan itu.Aku mencoba membuka mata dan satu bisikan mampir di kupingku.”Cepat bangun,cepat.” Kulihat wajah Tulangku di temaram sinar lampu teplok yang sumbunya mulai memendek.

Aku belum sempat bertanya,Tulangku sudah menarik tanganku,setelah menyisihkan selimut kumal yang kupakai membungkus tubuhku menghalau dingin saat tidur.Aku mencoba mau duduk dulu di pinggir bale,namun tangan Tulangku yang kuat dan kokoh sudah membuat aku berdiri.

Kukucek mataku dengan kedua tanganku untuk mencoba sadar apa yang sedang terjadi,lagi2 rengkuhan tangan Tulangku lebih kuat sudah membuatku bergerak.Sebelum meninggalkan kamar itu Tulang mengambil sarung yang terlipat di sisi bale dan disampirkannya melilit leherku.

Lewat tengah malam seingatku kala itu.Aku masih berumur 9 tahun.”Ayo ikut Tulang,diam saja,jangan bersuara,” bisiknya lagi.Aku menurut saja bagai kerbau dicucuk hidung,ketika ditarik ke arah mana saja.

Di tengah malam gulita,karena Tulangku mematikan lampu teplok penerang di ruangan rumah di desa itu,aku dituntun dan disuruhnya jalan merunduk menirukannya.Mengendap keluar dari ruang tamu,
Tulang membuka pintu dapur dengan sangat perlahan.Lalu menutupnya lagi dengan hati-hati agar jangan menimbulkan suara,setelah kami berada di luar.

Secepatnya,Tulang mengajakku lari menembus malam lewat halaman belakang yang dipenuhi pohon bambu.Terengah-engah kami sampai di sebuah rumah kecil,setelah melalui gadu-gadu sawah yang basah.Rumah berkolong itu kami masuki.

Satu lilin yang rupanya sudah disiapkan Tulang dinyalakan untuk menerangi.Bau apek menyergap dan di lantai papan rumah panggung itu terhampar tikar lusuh berdebu.

Selama dua hari kami berdiam diri di rumah kecil itu.Makanan kami secara senbunyi-sembunyi diantar Ompung yang tinggal di rumah dari mana kami pergi.

Tulangku yang bahunya lebar dan tingginya lebih 170 cm itu selalu terlihat sangat cemas.Mondar mandir,mengintip lewat celah dinding papan,begitu sering dilakukannya.Jelang matahari turun ke peraduan,dan jangkrik mulai bernyanyi, tiba-tiba ada ketukan di pintu belakang rumah.

Tulangku tertegun tegang.”Buka lah pintunya nak,” terdengar suara Ompungku lirih mengiba.Tulang melirik aku yang sama sekali tidak paham apa-apa,sembari membuka pintu.

Kudengar suara membentak: “Jangan melawan,ikut kami.” Kulihat beberapa orang berpakaian hijau menyandang senjata.Ompung berada di mereka.

Ternyata mereka Tentara Pusat.

Ompungku kemudia hari menjelaskan bahwa Tulang ikut pemberontak.PRRI.

Aku baru mengerti,Tulang mengajakku menemaninya bersembunyi dari upaya penangkapan oleh Tentara Pusat yang mengejar-ngejar para pemberontak.

(Bersambung)

Ditulis oleh Nelson Siahaan.