Dari Telanjang kepada Baju-baju

Waktu yang telanjang , membawa bertelanjang dada telanjang kaki untuk menjejaki langkah dunia yang fatamorga , dimana adat dan adab menjadi tuntunan , aku yang di awal mula mengalir seni rupa terperangah dalam hanya satu kata lawan , menyeratku pada serikat tani nasional mau tak mau dalam front perjuangan buruh dengan tetap dalam darah seni di jaringan kesenian rakyat , sebentar di Gempur !!! generasi peduli rakyat .

Setelah 6 tahun di pengasingan sebahak dalam keadaan sesama pendatang di Paguyupan Ngesti Budoyo Rokan bagian Hilir Ujung Tanjung , pun kembali lagi bagai perantauan di kampung halaman sendiri .

Di tengah harus menghidupi , seni dan jiwa anarkis itu terus bergelora ,

Kecintaan kepada Bung Karno sebagai sosok yang kutiru nasionalismenya meleburkan diri dalam Nasional Indonesia Marhaen , adat yang masih anarkis memaksa jiwa maju menjadi calon dewan di Peduli Rakyat Nasional . Walau gugur bukan sebagai pecundang namun sebagai pejuang yang terus harus belajar . Nasionalis kepancasilaan yang membuat hadir di dalam Masyarakat Pancasila , tergabung sebentar dalam angkatan muda pembaharuan gejolak ingin telanjang dada masih kuat menguasai , dengan rasa kesetiaan terhadap seni turut ikut serta dalam dewan kesenian , adat adab ini masih tetap bertahan di seni di dapur sastra sampai kapan pun , mungkin seni adalah napas , nasionalisme adalah darah , anarkis itu harus tetap ada untuk mendampingi kebijakan .

Sampai kini yang teringin hanya satu Pancasila abadi , di sepanjang jalan melangitkan mimpi dalam astana air mata dalam diam.

Salam Melangit Mimpi.

 

SigondrongDalamDiam

11 Januari 2020