Pendemo

Senja yang datang dalam gagahnya
Menghantarkan mentari untuk tertidur
Hingga bulan menggantikan posisi
Tatkala itu dalam baris perjuangan
Setelah lelah dalam pekik
Kami bersama menanti dengan kecemasan
Akankan langit menjadi atap kami
Dan lembaran karbet plastik biru menjadi tilam kami
Setelah dari markas besar pengayom yang melindungi
Kami bergerak menuju tajaan tempat pemilik kekuasaan
Masih dalam maklumat rentetan sengketa
Dari Nanda dan tajaan yang di rampas
Lelah bercampur kantuk di wajah-wajah jelantah
Kuatnya keyakinan membuat kami tetap dalam satu faham dan bertahan
Karna tak ada jalan ceritanya dalam perjuangan
Harus kalah melainkan mundur untuk menang
Tak sampai memasuki pada pukul 9 malam
Perwakilan di utus menghadap pemegang kekuasaan
Walau sempat pada awalnya hendak melayangkan pukulan pemaksaan mundur
Dengan alasan mengganggu kepatutan hari esok
Dasar… kekuasaan yang mengada-ada
Tidak kah kau tahu yang mengunjuk rasa telah siap semua.
Sambil menunggu putusan dari utusan
Rebahan dan wicara menjadi pilihan
Menjadi lengkap ditambahkan swaphoto
Sebagai pengingat kita pernah di jalan yang sama
Jalan peminta keadilan di dalam gang sempitnya memperjuangkan keadilan
Di antara tajaan yang di rampas orde baru melalui pengusaha.

SigondrongDalamDiam
4Agustus2020
Labuhanbatu Selatan

Kepada Tungku

Kuraih embun pagi
Dari atas daun bantalnya malam nan sunyi
Beningnya begitu anggun
Hingga jelas terlihat wajahmu yang tertidur pulas

Ah… aku menggigil dingin
Di sela mataku yang berair
Ke sana kemari mencari api
Sedangkan tungku ada padamu

Sigondrong Dalamdiam
23Juni2020

Memberontak PRRI (7) Mencari Anggota Keluarga

Sebagai kepala kampung,Ompung selalu jadi tempat bertanya warga desa dalam soal apa pun.Ia terkenal bijak,adil dan sering membantu warga menyelesaikan permasalahan.Pertikaian antar warga hingga keributan di antara keluarga sekali pun banyak yang berhasil diselesaikannya dengan baik.

Sosoknya yang tinggi,bahu lebar dan hidung mancung membuat Ompung tampak lebih berwibawa.Belum banyak putera daerah dari Tapanuli yang bersekolah di Betawi,Jakarta,pada jaman itu,ia oleh orang tuanya sudah dikirim untuk belajar ke sana.

Mungkin karena sudah pernah bersekolah di Jawa itu lah yang membuat cara berpikir Ompung jadi melebihi rata-rata kaum bapak yang tinggal di daerah itu.Dia lebih cerdas sehingga lebih dipercaya penduduk.Bukan saja hanya oleh warganya sendiri,tapi juga oleh warga desa lain yang memang saling berdekatan jaraknya.

Begitu perang saudara antara Tentara Pusat dan pemberontak PRRI mulai reda, mulai terdengar banyak di antara para Pardolok (pemberontak) yang meninggalkan pasukan induknya.Mereka meninggalkan pegunungan dan hutan sebagai tempat bersembunyi dan sekaligus markas mengatur strategi perlawanan,menyerahkan diri.

Para pemberontak itu berani keluar dari sarang mereka dengan membawa senjata masing2 setelah ada imbawan agar perang diakhiri dan bagi yang menyerahkan diri akan dapat suaka.Mereka tidak akan dihukum bahkan bagi yang berniat jadi anggota TNI dipersilakan bergabung.

Berita tentang sudah banyak pemberontak yang menyerahkan diri,ditambah yang sudah ditangkap dan kini ditampung di beberapa kota yang berdekatan letaknya dengan Tambunan,cepat beredar ke tengah warga.Kamp penampungan terhadap para pemberontak itu ada di Balige dan Laguboti.Kedua kota kecil ini berdekatan jaraknya dengan Tambunan.

Warga yang sejak perang saudara itu pecah banyak yang kehilangan anggota keluarganya,suami maupun anak mereka, karena bergabung dengan sukarela atau dipaksa,mendengar berita itu mendapat secercah harapan.Mereka ingin segera mendatangi kamp penampungan untuk melihat apakah anggota keluarga yang sangat dirindu itu ada juga di sana.

Namun sebelum melangkah ke kota tempat penampungan itu,banyak di antara warga lebih dulu datang ke rumah Ompung untuk minta keterangan sekalian advis apa yang harus mereka lakukan.Mereka takut jika langsung ke sana justru akan diusir oleh Tentara Pusat.

Ompung yang sudah lebih dulu sehari sebelumnya berkunjung ke tempat penampungan di Laguboti,memberi penjelasan secara rinci tentang kebenaran penyerahan diri oleh pemberontak tersebut.
Wajah ibu yang kehilangan suami dan ibu yang kehilangan anak,menunjukkan keinginan bagaimana caranya agar mereka sampai di tempat penampungan itu.

Sebagai orang yang selalu diharapkan jadi tempat penyelesai masalah,Ompung doli mengajak ompung boruku dan ibu-ibu yang mendatanginya berangkat bersama ke Laguboti.Mereka berjalan kaki ke Laguboti yang jaraknya hanya sekitar 2,5 km.dari Tambunan.Ada yang membawa anak dan bayi yang masih harus digendong.

Ompung boru rupanya sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk berangkat melihat Tulangku,anaknya nomor 2 yang ada di tengah para pemberontak di kamp,terlihat membawa rantang berisi makanan.Juga menghadang buntalan berisi tikar kecil,sarung dan pakaian Tulang.

Setiba di Laguboti,Ompung yang merupakan ketua rombongan terlebih dahulu menemui komandan yang berhak memberi ijin bagi keluarga para pemberontak itu untuk masuk ke ruangan tempat.Sementara para keluarga yang dibawanya tampak berdiam diri saja.Sepertinya mereka sedang memperkuat doa semoga anggota keluarganya ada di antara penghuni kamp.

Tidak memerlukan waktu lama,ijin diberikan untuk rombongan yang dibawa Ompung masuk ke halaman sekolah yang jadi tempat penampungan dan terus dibawa ke ruangan,di mana para pemberontak itu istirahat.Ada yang rebahan san duduk saja asyik ngobrol sesama mereka.

Para Tentara Pusat yang bertugas di tempat penampungan yang ternyata sebagian adalah Pasukan Siliwangi,selalu menunjukkan rasa hormat dan bersahabat dengan ibu2 yang berkunjung.Mereka tidak menunjukkan wajah garang sebagaimana seorang tentara,melainkan penuh senyum dalam melayani.

Selain rombongan Ompung,banyak juga ibu2 lain yang sama nasibnya dengan mereka berada di ruangan sekolah itu.

Ruangan di sana-sini dipenuhi tangis haru jika di antara ibu2 pengunjung itu mendapati anggota keluarga berada di tengah penghuni penampungan tersebut.Sedang tangis histeris lebih membahana menggetarkan kalbu terdengar bersumber dari ibu yang tidak menemukan anggota keluarganya di kerumunan itu.

Suasana hiruk pikuk dengan penuh tangis.Air mata tak terbendung berjatuhan membasahi lantai.Suara anak-anak yang ikut dibawa ibunya,baik suara tangisan dan teriakan,turut membuat kegaduhan yang memilukan.

Dalam suasana penuh tangisan dan air mata begitu,Ompung boru tampak berangkulan dengan Tulang no 2 menjauh dari kerumunan, mengambil tempat di sudut halaman sekolah.Di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu rimbun daunnya.

Tulang yang kehilangan banyak berat badan terlihat kurus dan pucat selalu berusaha senyum saat memeluk Ompung boru berkali-kali.Ompung mengelus-elus rambut tulang yang kribo bagai sarang burung bertengger di kepala.Sesekali tampak tangan Ompung menyeka matanya karena linangan air mata gembira karena bisa lagi bertemu dengan darah dagingnya itu.

Setelah berpuas diri melampiaskan kangen-kangenan bagi keluarga yang menemukan anggota keluarganya masing2,para ibu rombongan Ompung berkumpul lagi.Ompung menjelaskan,bagi keluarga yang anggota keluarganya ada di tempat penampungan itu,diijinkan datang lagi keesokan harinya untuk mengantar keperluan sehari-hari mereka.Juga pakaian pengganti pakaian kotor dan lusuh yang lengket di badan para pardolok itu sejak mereka berada di ruang penampungan.

Terhadap keluarga yang masih belum bertemu dengan suami atau anaknya,Ompung menjanjikan akan membawa mereka ke tempat penampungan di kota lainnya.Terutama ke kota paling dekat dari Tambunan yakni kota Balige yang berjarak sekitar 4 km.jauhnya.

Walau hati Ompung pun masih menyimpan rasa galau karena kabar tentang nasib Tulang paling besar belum juga sampai di kupingnya,dalam melayani warga untuk mencari anggota keluarganya,Ompung tidak pernah bertindak setengah-setengah.Ia selalu menyediakan waktu buat mereka,kapan pun mereka datang menemuinya.

Di lain waktu ketika Ompung mengunjungi Tulang no 2 di tempat penampungan,Tulang menceritakan dalam waktu tidak berapa lama lagi ia dan beberapa temannya akan dibawa ke Siantar.Sejak berada di tempat penampungan itu,semua mantan pemberontak itu,juga menurut Tulang,diperlakukan oleh Tentara Pusat dengan baik.Tidak ada sikap Tentara Pusat yang menunjukkan bahwa mereka beberapa saat sebelumnya saling bermusuhan,saling serang untuk membunuh.

Tulang menegaskan kembali kepada Ompung,sebagaimana dalam pertemuan pertama mereka,bahwa dirinya tidak tertarik sama sekali mengikuti ajakan Pemerintah Pusat untuk bergabung jadi anggota TNI walau harus melalui penilaian lebih dulu.
Dia tetap berkeinginan kembali jadi warga sipil dengan menekuni profesinya semula,yang luhur sebagai guru.Guru SR ketika itu.

Akan hal keberadaan Tulang no 2 hingga dirinya bisa berada di antara penghuni penampungan,ternyata dia bersama beberapa temannya tertangkap ketika mereka terlibat pertempuran jarak dekat dengan pihak Tentara Pusat di pinggiran kaki bukit di desa Bonan Dolok.Saat itu,dia bersama temannya terjepit oleh Tentara Pusat beremblim kepala harimau di seragamnya,sehingga mereka mengangkat bendera putih,menyerah.Untung pasukan Siliwangi yang menangkap mereka,kalau tidak bisa2 tinggal nama tanpa jelas di mana kuburnya.

Di rumah,Tulang paling besar terus jadi bahan pembicaraan Ompung doli dan Ompung boru,terlebih saat kami makan di dapur di depan tataring (tempat masak).Terhadap Tulang nomor 2,sudah tidak perlu menguras pikiran lagi,karena nasibnya sudah jelas adanya.Tinggal menunggu waktu kapan dia akan bebas merdeka,mengajar lagi di depan murid-muridnya seperti kehendaknya.

Aku juga sangat merindu kehadiran Tulangku paling besar.Rindu suasana saat dia mengangkat badanku agar bisa menjangkau markisa yang sudah matang untuk.kupetik.Rindu akan oleh2 lampet yang disisakannya buatku jika dia kebetulan ngopi di lapo.

Saking rindunya aku kepada Tulang,pernah kuajukan pertanyaan kepada Ompung doli.”Kapan Tulang pulang.Kenapa pergi terus.” Tanpa pernah kupahami apa penyebab Tulang bisa hilang muncul,dan kemudian menghilang cukup lama.Ompung sembari mendudukkan aku di pangkuannya,dengan suara lembut tapi bernada harap menjaeab bahea Tulang akan pulang tidak lama lagi.

Kerinduan itu kulampiaskan bermain sendirian menggunakan pistol karet berbentuk FN berwarna merah pemberiannya,yang dirampasnya dari seorang bapak penumpang bis saat bis itu mereka sanggong bersama kelompoknya.

Saya berlari ke sana-kemari di halaman rumah sembari menirukan suara tembakan,dar,der,dor dengan pistol mainan itu aku acung-acungkan.Kadang aku masuk ke rumah menjadikan Ompungku jadi sasaran.Dor,dor,tembakan kuarahkan kepadanya.Dia memegang dadanya seolah kena terjang peluru pistolku dan rebah mengaduh.Suasana jadi menyenangkan.Kami berpelukan berguling fi lantai yang terbuat dari semen cor.Sedang Ompung boruku hanya menonton tingkah laku kami sambil senyum-senyum.

Pistol itu tidak pernah lepas dari tanganku,bahkan tidur pun kubawa dia ke bale pembaringanku.Alangkah lebih semarak suasana jika Tulang ada bersama kami.
(Bersambung)

*Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (6) Dapat Suaka

DERUM suara sarasin,panser dan truk militer semakin sering terdengar membelah keheninga suasana di cuaca dingin di siang hari di jalanan besar jalan negara yang melalui Tambunan.Penduduk yang tinggal di sepanjang desa itu,sudah tidak terlalu terganggu lagi akan suara gemuruh kendaraan militer yang lalu lalang itu.

Waktu yang lumayan lama mendengar derum mesin kendaraan itu saat lalu lalang membuat penduduk menjadi akrab dan berdamai dengan suara bising yang ditimbulkannya. Jika jauh sebelumnya kalau ada konvoi yang lewat,penduduk cenderung seperti ketakutan.

Justru kini seakan sebaliknya. Penduduk malahan terlihat menjadikan konvoi Pasukan Pusat itu jadi tontonan,apalagi jika sarasin dan panser ikut di antara barisan konvoi itu.Anak2 apalagi,berhamburan dari rumah berlari sambil berteriak-teriak ke pinggir jalan dan melambaikantangan ke arah tentara yang tengah lewat.

Gairah senang yang menguar dari penduduk desa di sepanjang jalan yang dilalui konvoi pasukan itu dijawab para anggota TNI itu dengan memperlambat laju kendaraan mereka.Kegarangan wibawa warna hijau dan loreng sebagai simbol militer yang melekat di tubuh anggota TNI itu seolah mereka mau singkirkan dengan memberi sambutan hangat berupa lambaian dan senyum kepada penduduk.

Para tentara itu seolah menunjukkan bahwa kehadiran mereka adalah untuk kebaikan dan pemberi kenyamanan kepada rakyat.Mereka dengan sikap mau melambai membalas lambaian tangan penduduk dan senyum dari atas perangkat perang itu,juga seakan menyiratkan TNI adalah pelindung rakyat.

Ada yang mulai agak berubah. Muatan truk Tentara Pusat akhir2 ini tidak melulu hanya tentara lagi,tapi kadang orang2 berpakaian sipil yang pada umumnya berambut panjang dan kurus badannya.

Sebaliknya dengan rentetan tembakan dan gelegar letusan malahan semakin jarang terdengar.Di malam hari pun mulai berkurang rasanya pertempuran antara Tentara Pusat dengan para pemberontak.

Sebagai tolak ukur bahwa pertempuran antara tentara pembela negara dan para pemberontak PRRI yang ingin membelot dengan keluar dari negara kesatuan sudah sangat berkurang adalah,ompung tidak lagi mengharuskan kami berada di lobang perlindungan jika malam tiba.

Kami sudah bisa lagi menikmati tidur dengan tenang beralas kasur kapuk di dalam rumah.Meski sekali-sekali kadang masih terdengar tembakan,tapi sifatnya tidak saling sahut-sahutan lagi.Hati kami tidak harus kecut lagi mendengarnya.

Anehnya,di kondisi yang mulai menunjukkan adanya ketenangan itu,justru kehadiran Tulang dan kelompoknya di sekitar rumah ompung tidak terlihat lagi.Lama mereka tidak menampakkan diri.Jangankan secara terang-terangan seperti sebelumnya,secara sembunyi-sembunyi pun Tulang tak pernah muncul.

Ompungku yang berstatus kepala desa mencoba berkeliling sekitar kampung hingga ke Balive untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.Baik mengenai perang saudara itu sendiri,maupun keberadaan anaknya yang tidak pernah menampakkan diri.

Ompungku yang pernah sekolah di Betawi tahun 1940an berhasil mendapat info bahwa Pemerintah Pusat ternyata sudah menyerukan kepada para pemberontak di seluruh Sumatera,agar mengakhiri perang dengan jalan damai.Mereka diminta datang ke markas TNI yang ada di setiap kota kecil turun dari gunung dan keluar dari hutan untuk menyerahkan diri,sekaligus dengan senjatanya.

Setiap pemberontak yang mau keluar dari hutan dan turun dari gunung tempat mereka melakukan perlawanan akan diberi suaka,jika mau menyerah kepada Tentara Pembela Negara.

Kepada para pemberontak yang mau menyerah itu dijanjikan suaka berupa boleh masuk jadi anggota TNI.Bagi yang tidak bersedia untuk jadi anggota TNI diberi kebebasan mutlak kembali sebagai warga sipil dan bagi yang pernah bekerja akan diijinkan bekerja di tempat kerjanya semula.

Apakah Tulangku dengan kelompoknya yang masih tersisa dan Tulang yang nomor 2,telah mengikuti seruan Pemerintah Pusat ikut menyerahkan diri dan kini berada di kamp penampungan yang disediakan negara di beberapa kota,Ompungku masih belum dapat keterangan tentang itu.

Beberapa lama kemudian,sekitar pertengahan bulan Desember tahun 1960,terdengar santer berita Tentara Pusat telah berhasil menangkap si Pesong,seorang pentolan pemberontak yang terkenal jago bergerilya.

Nama si Pesong yang digembar-gemborkan kebal peluru ini dan salah satu yang paling diincar Tentara Pusat,oleh kelompok Tulangku,sering jadi bahan perbincangan ketika mereka.tengah berada di rumah ompung.

Ompungku pergi ke Laguboti,satu kota kecil berjarak sekitar 2 km.dari rumahnya,karena dia mendengar bahwa pemberontak yang ditangkap dan menyerah ditampung Tentara Pusat di sana.Juga dia ingin memastikan apakah si Pesong yang namanya terkenal hingga anak2 pun ikut membicarakannya,benar2 sudah berada di tangan TNI.

Di tempat penampungan di Laguboti,di beberapa sekolah yang sengaja dikosongkan oleh TNI dengan meliburkan sekolah,para pemberontak itu ditahan atau kata halusnya ditampung.Di Laguboti itu pula ada markas Pasukan Siliwangi.Mereka tinggal di 1 bangunan milik warga setempat.

Menurut rencana,para pemberontak yang masih diperlakukan seperti tawanan itu akan dibawa ke kota Siantar dan kota Medan,sebelum dikembalikan ke tengah masyarakat.Dan bagi yang berminat menjadi anggota TNI akan disortir soal patut atau tidak untuk bergabung.

Di antara para penghuni kamp penampungan tersebut,Ompung menemukan Tulangku nomor 2.Badannya kurus,dengan rambut panjang kribo dan wajahnya dipenuhi bulu. lebat.Secara sepintas kepada Ompungku,Tulang mengatakan ingin kembali menekuni profesinya semula,sebagai guru SR.
Dia tidak berminat atas tawaran Pemerintah RI untuk bergabung dengan TNI.

Ompung pulang dengan hati resah dan cemas.Tulang paling besar yang terbilang jadi pimpinan kelompok yang bermarkas di rumahnya,tidak ditemukannya di antara para pemberontak di tempat penampungan sementara itu.Info tentang keberadaannya kini juga belum ada didapat.

Apakah Tulang tetap bertahan di tengah hutan atau pegunungan tempat persembunyian mereka selama ini,masih jadi misteri.Atau terjadi hal paling terburuk kepadanya,Ompung terus berupaya menebar tanya.

Sejak Ompung doli menemukan Tulang paling kecil di kamp penampungan di Laguboti,sementara anaknya paling besar lama tidak ada beritanya,Ompung terlihat sangat lesu.

Kadang dia lebih banyak duduk di kursi rotan yang sudah reot menatap ke pinggir jalan seolah berharap sosok Tulang muncul di hadapannya.Sementara Ompung boruku yang tubuhnya kecil itu,yang sifatnya pendiam selalu berusaha menenteramkan hati ompung Doli.

Kopi di cangkir kaleng besar Ompung doli terkadang hanya berkurang sedikit.Itu lah saling nelangsa dan remuk hatinya memikirkan nasib anaknya,Tulangku, paling besar itu.

Terhadaoku,pengaruh kelesuan hati Ompung doli itu terasa sangat besar.Kebiasaan dia menyuruhku duduk di sampingnya sambil bercerita,jadi hilang.Belum lagi main kuda2an di mana Ompung doli menyuruh saya dudiuk di punggungnya sementara dia merangkak yang suka kami kerjakan,sudah tak pernah kami lakukan.

Ompung boruku,walau tubuhnya kecil tapi tenaganya kuat sehingga dia tampak lebih bisa mengendalikan diri di situasi ketidak hadiran begitu lama dari Tulangju.Ompung boru bisa lebih mengendalikan diri.

Nasib kami masih jauh lebih beruntung dibanding dengan banyak penduduk lainnya.Banyak di antaranya harus menerima kenyataan bahwa suami atau anaknya diberitakan telah tewas.

Baik karena kena peluru saat berhadap2an saling serang dengan Tentara Pusat atau tertembak ketika Tentara Pusat melakukan pengejaran ke tempat persembunyian para pemberontak itu.

Apabila beruntung,keluarga yang kemalangan masih bisa mebguburkan jasad anggota keluarganya.Lebih banyak keluarga yang tidak pernah lagi bertemu sama anggota keluarga yang turut masuk hutan dan naik gunung berjuang bersama PRRI atau yang ikut karena terpaksa. Bahkan jasadnya pun entah di mana rimbanya.

(Bersambung)

*Nelson Siahaan

Memberontak PRRI (4) Peluru Nyasar

“Tentara Pusat datang.” Teriakan itu bagai komando membuyarkan kumpulan para pemberontak yang duduk di halaman samping rumah ompungku,yang jadi markas mereka.

Tidak perlu aba-aba itu harus diteriakkan dua kali.Serentak pemberontak itu berlari ke halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon dan bambu yang seakan menjadi pagar pemisah dengan jalan besar beraspal.

Sebelum meninggalkan tempat itu,dengan sigap mereka membersihkan segala bekas yang mereka gunakan kumpul itu.Semisal,tikar segera digulung dan mangkok2 bekas minum turut diamankan.

Mereka tidak mau meninggalkan sekecil apa pun barang yang bisa jadi petunjuk bahwa mereka pernah berada di situ.Pokoknya barang bukti tidak boleh ada.

Selanjutnya,mereka menyusup ke tengah persawahan menjauh ke arah kampung Baruara,yang terletak di belakang areal markas para pardolok itu.Walau tanah yang luas itu rata permukaannya,karena pohon besar banyak tumbuh,cukup ideal juga sebagai tempat menghindar dari pandangan Tentara Pusat jika pun mereka turun dari kendaraannya.

Tidak lama berselang,tampak konvoi Tentara Pusat berjalan dari arah Parapat menuju Balige.Jeep berada di depan diikuti 1 sarasin dan truk tentara penuh pasukan.

Konvoi itu bergerak melaju dengan kecepatan konstan meninggalkan desa Tambunan.Tidak ada terlihat niat pasukan Tentara Pusat itu untuk melakukan gerakan.Mungkin hanya ingin melintas saja untuk bergabung dengan pasukan lain,entah di kota mana.

Situasi aman.Kembali kelompok Pemberontak yang bermarkas di rumah ompungku bermunculan.Ada yang rebahan dan main gitar.Ubi dan singkong rebus teman kopi jadi penganan rutin buat mereka.

Herannya,setiap ada konvoi pasukan Tentara Pusat mau melewati rumah ompungku,baik yang datang dari arah Balige maupun dari Laguboti,kelompok Tulangku sudah mengetahuinya lebih dulu.Padahal,konvoi itu masih jauh jaraknya.

Rupanya di setiap desa terdekat,baik di arah Balige dan arah Laguboti,selalu ada mata2 yang bertugas mengintai dan langsung memberi kode ada konvoi pasukan Tentara Pusat.Berarti bahaya.

Isyarat atau kode ini berlangsung secara berantai,yang melibatkan anak2, dan ibu2 yang sambil bekerja di sawah sepanjang jalan besar berstatus jalan negara itu.Itu lah yang membuat pasukan pemberontak mempunyai waktu untuk menghindar dari papasan.

Jalan beraspal yang menghubungkan Aceh dan Lampung ini lah jalan satu2nya jalan besar zaman itu.Jalan ini melewati hampir semua kota besar di Sumatera.Seluruh kendaraan menggunakan ini sebagai perlintasan,baik angkutan umum maupun pribadi,

Jika awal perang saudara itu meletus,tembak menembak agak masih jarang terjadi Namun makin hari volumenya semakin sering.Di siang hari jarang t terdengar letusan senjata atau dentuman keras sebagai tanda bahwa pertempuran tengah berlangsung.

Pecah perang tembak menembak lebih sering terjadi pada malam hari.Tidak kupahami siapa yang mulai menyerang,apakah pihak Tentara Pusat atau pemberontak.

Karena tembak menembak semakin sering dan gencar,rumah ompungku yang letaknya persis di pinggir jalan,kadang kena peluru nyasar.Guna menghindari ada korban di antara kami,Ompungku memboyong kami ngungsi ke rumah mertua Jenderal Panggabean yang letaknya persis di seberang jalan rumah ompungku.

Rumah mertua Jenderal Panggabean berhadapan dengan rumah ompungku,tetapi letaknya sekitar 500 meter dari pinggir jalan dan rumah itu berada di belakang rumah2 lain.
Rumah itu punya ruangan luas,bercat putih.Maklum lah,mertua Panggabean itu orang kaya pemilik hotel Tapian Nauli di Sibolga.Dengan ompungku mereka masih kerabat.Satu ompung.

Suatu ketika,kami tidak mengungsi.Saya tidur di kamar bersama ompung boru.1 kaleng minyak makan (minyak goreng) kebetulan ditaruh ompungku di atas meja kecil di belakang kepalaku.

Rentetan tembakan yang sangat dekat dengan rumah ompung terdengar gencar,membuat kami terbangun tapi tanpa beranjak dari tempat tidur.

Plasss….tiba2 ada hantaman di kaleng minyak makan yang terletak persis di belakang kepalaku setelah sebelumnya memecahkan kaca jendela rumah.

Ompungku langsung berdiri membimbing aku keluar dari kamar ke ruang tengah.Rumah ompungku terbuat dari setengah tembok dan papan.

Ternyata satu peluru dari sekian banyak peluru yang membentur tembok rumah ompungku,melesat menghantam kaca jendela dan meluncur ke kaleng minyak.

Ompung boruku mengusap-usap kepalaku.Kuingat dia berdoa mengucap terimakasih pada Tuhan.

Tuhan masih sangat baik dan sayang sama saya.Andaikan kaleng minyak yang isinya telah membeku itu tidak berada di belakang kepalaku,tidak mungkin kisah kecil ini ada.

Oh,perlu saya jelaskan,bahwa suhu di kampung kami dulu sangat dingin pada malam hari,sehingga minyak goreng di botol dan di kaleng bisa membeku.

Adanya peristiwa yang hampir mencelakakanku bahkan mungkin bisa saja mencabut nyawaku semalam,keesokan harinya diceritakan ompungku kepada Tulangku yang sudah tiba di rumah pagi hari.

Mungkin ompungku merasa kurang sreg kalau kami setiap malam tiba harus mengungsi ke rumah mertua Jenderal Panggabean,walau tidak pernah terdengar suara keberatan.Diambil keputusan untuk menggali lobang perlindungan di halaman belakang rumah.

Gotong royong melibatkan semua anggota kelompok Tulangku menggali lobang tepat di bawah pohon beringin besar dan terlindungi lagi oleh rimbunan bambu,membuat pekerjaan cepat selesai.

Lobang sepanjang sekitar 5 meter,berkedalaman 1 1/5 meter usai sudah.Lalu,sepanjang 4 meter ditutup lagi dengan papan.Kemudian di atas papan itu ditaruh tanah yang masih berumput.Sebelumnya,beberapa bambu utuh yang bolong untuk saluran udara disisipkan di sudut lobang.Sisanya,sekitar 1 meter. jadi pintu masuk dan keluar lubang.Persis seperti pintu dibikin di atasnya.

Papan dibikin menutup seluruh sisi lobang pengamanan itu,sehingga lebih nyaman walau bau tanah dan urat pohon beringin menusuk hidung.

Begitu malam mulai tiba,setelah habis makan malam kami mengungsi ke lobang yang jaraknya sekitar 20 meter dari dapur rumah.

Satu lampu teplok (semporong) kami bawa jadi penerang di lubang itu.Cahaya redupnya,cukup membuat kami bisa saling tatap,saat ngobrol bisik2.

Kedua ompungku kadang tidur menyandar sedang aku selalu celentang.

Suara kodok,jangkrik dan burung malam jadi musik pengiring tidur kami.Namun,kami tidak selalu bisa tidur nyenyak,karena gelegar dentuman keras di kejauhan sering terdengar.Belum lagi desingan peluru yang kerap menghantam batang bambu yang tumbuh rapat.

(Bersambung)

*Ditulis oleh Nelson Siahaan

Corona

Corona datang di kotamu
Mendadak mendung di atas langit
Jalan-jalan sepi mencekam
Membawa warta ketakutan dimulai dipikiran
Orang-orang mulai mengatur jarak
Berjabat tangan pun takut berkerak
Corona bagai moster yang menakutkan
Yang menakut-nakuti pikiran dan hati
Corona membawa kematian yang dini

SigondrongDalamDiam
26Maret2020

Menyambung Silaturahmi

Ada di atas

Ada kala di bawah

Adaada saja kemauan hidup

Tatkala sangyang maha kasih menentukkannya

 

Aku ingin di atas

Siapa pun pula tak ingin di bawah

Namun yang di atas tak sampai tanpa di bawah

 

Kamu sekarang di atas

Tentunya memulai dari bawah

Selalulah melihat ke bawah

 

Bahu memikul

Tangan mencencang

Jari mengkait

Sambunglah silaturahmi

 

SigondrongDalamDiam

27Pebuari2020

Denyut

Bekas luka tikaman di leherku

Menciptakan rasa denyut yang hebat

Dalam cuaca yang tak bersahabat

Seperti cuaca percintaan aku dan kamu

 

Menjalar perih ditahankan mata

Melihat sakit terpejamkan pun sakit

 

Ampunku ,

Minta ampun aku padaMu

Ampunku ,

Melihat ampun perlakuanmu

 

Denyutku

Menjalar ke dalam hati

Mencintai sakit hati

Merindui sakit hati

Mencintai sakit merindui hatihati

 

Sigondrong Dalamdiam Melangit mimpi

27 Desember 2019