Serba Serbi

Janganlah Jadi Virus di Tengah Virus Corona

Bermula dari kota Wuhan di Tiongkok, virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) menyebar ke berbagai negara di dunia dan menyebabkan timbulnya penyakit COVID-19 di mana-mana , karna itulah jadi sepakatlah penghuni dunia jika virus ini di sebut Pandemi , Apa itu Pandemi ? Pandemi adalah sebuah epidemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua, dan umumnya menjangkiti banyak orang. epidemi merupakan istilah yang digunakan untuk peningkatan jumlah kasus penyakit secara tiba-tiba pada suatu populasi di area tertentu.
Sungguh malapetaka yang tak terelakkan di tiap negara yang ada di dunia , tiada terkecuali Indonesia .
Berbagai siasat pun di lakukan untuk memutus mata rantai virus corona , mulai dari imbau cuci tangan , jaga jarak , selalu memakai makser sampai pemberlakuan sosial skala besar untuk tiap daerah yang di anggap epideminya meningkat tajam .
Dampak yang ditimbulkan oleh virus corona sungguh dasyatnya , tak hanya ketakutan akan kematian yang mengintai tapi juga ekonomi .
Pemerintah pun pasang aksi , Presiden Joko Widodo melakui kementerian sosial memberikan bantuan sosial tunai (BST) senilai Rp 600.000 per bulan selama tiga bulan bagi masyarakat tidak mampu , dengan kriteria keluarga tersebut belum menerima bansos lain, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Nontunai, ataupun Kartu Pra-Kerja.
Ada juga BST APBD (Kabupaten) , BST Dana Desa yang langsung Pemerintahan di tingkat Desa yang memberikan , di samping bantuan sembako APBN dan APBD .
intinya bantuan yang di berikan Pemerintah dari pusat , provinsi , kabupaten hingga ke tingkat Desa berupaya sebagai penekan dampak Covid19 terhadap masyarakat khususnya masyarakat yang tiada mampu . Karna tidak dapat dipungkiri wabah ini tidak hanya menitipkan ketakutan akan kematian mendadak tapi kelumpuhan perekonomian sepihak masyarakatnya .
Lalu apakah sudah sesuai harapan upaya pemerintah dalam memberikan bantuan tersebut , apakah bantuan tersebut jatuh kepada masyarakat yang tepat .
Miris , ketika tertulis di salah satu media online ( ikabina.com ) di mana perangkat desa yakni ketua Badan Permusyawarahan Desa dan ke 2 anggotanya menerima bantuan BST pusat yang terjadi di Kabupaten LabuhanBatu tepatnya di Kecamatan Panai Hilir Desa Sei Pengantungan .
Perangkat desa yang harusnya memberikan pengabdian pelayanan untuk warganya malah berubah 180derajat di tengah virus covid19 malah menjadi virus corona.
Perangkat desa yang telah mendapat gaji karna mengemban kepercayaan aspirasi warganya kini lebih mementingkan keadaan perutnya dengan menutup mata lalu berkata pantas mendapat BST karna bagian tergena dampak , semakin bersemangatnya ketua BPD tersebut berikut 2 anggotanya tatkala seorang yang bercengkol untuk satu kecamatan berkata ” bahwa BST ketua BPD dan ke2 anggotanya bukanlah petaka melainkan keberuntungan “.
Jauh beda di kampung Pandan B Desa Sennah Kecamatan Pangkatan ( masih di Kabupaten Labuhanbatu) seorang Kadus ( kepala dusun) sebagai peserta penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) Dana Desa (DD) dengan nama penerima Istri Kadus telah pun dialihkan kepada masyarakat yang terdampak Covid 19 , sungguh perbuatan yang sadar akan hak dan kewajiban .
Bantuan dampak covid19 rupanya dapat menjadi virus dalam virus .
Dua kisah tadi hanyalah epilog fantasy virus karna masih ada virus yang sesungguhnya yakni virus serakah .
Mengingat bantuan virus itu terdata dicantumkan atasnama sesuai nomer kartu tanda penduduk bukan sesuai nama yang sesuai kartu tanda penduduk wajtu keadaan di data , maka jangankan ketua , kadus , isteri berikut saudara siapa yang tahu , karna sesuai sumber dari mulut ke mulut , karna sayangnya seorang kepala lingkungan/ kadus kepada isteri maka terdatalah atasnama isteri . Ini masih di Kabupaten LabuhanBatu , bagaimana di Kabupaten Lainnya . Apakah Budaya Malu itu masih ada? di tengah virus covid19 haruskah menjadi virus corona .

*SigondrongDalamDiam
16Juni2020

(291) Komentar

  1. This is the type of &#rse0;8e22arch” that gives graduate education a bad name. It exudes a poor grasp of what online and blended learning is and is becoming. And it does not share the rigor of the earlier DoE research reviews on blended, online and direct learning. Unfortunately, the reporter jumped too soon. doing your Homework is good!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *