Tak Berkategori

Memberontak PRRI (4) Peluru Nyasar

“Tentara Pusat datang.” Teriakan itu bagai komando membuyarkan kumpulan para pemberontak yang duduk di halaman samping rumah ompungku,yang jadi markas mereka.

Tidak perlu aba-aba itu harus diteriakkan dua kali.Serentak pemberontak itu berlari ke halaman belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon dan bambu yang seakan menjadi pagar pemisah dengan jalan besar beraspal.

Sebelum meninggalkan tempat itu,dengan sigap mereka membersihkan segala bekas yang mereka gunakan kumpul itu.Semisal,tikar segera digulung dan mangkok2 bekas minum turut diamankan.

Mereka tidak mau meninggalkan sekecil apa pun barang yang bisa jadi petunjuk bahwa mereka pernah berada di situ.Pokoknya barang bukti tidak boleh ada.

Selanjutnya,mereka menyusup ke tengah persawahan menjauh ke arah kampung Baruara,yang terletak di belakang areal markas para pardolok itu.Walau tanah yang luas itu rata permukaannya,karena pohon besar banyak tumbuh,cukup ideal juga sebagai tempat menghindar dari pandangan Tentara Pusat jika pun mereka turun dari kendaraannya.

Tidak lama berselang,tampak konvoi Tentara Pusat berjalan dari arah Parapat menuju Balige.Jeep berada di depan diikuti 1 sarasin dan truk tentara penuh pasukan.

Konvoi itu bergerak melaju dengan kecepatan konstan meninggalkan desa Tambunan.Tidak ada terlihat niat pasukan Tentara Pusat itu untuk melakukan gerakan.Mungkin hanya ingin melintas saja untuk bergabung dengan pasukan lain,entah di kota mana.

Situasi aman.Kembali kelompok Pemberontak yang bermarkas di rumah ompungku bermunculan.Ada yang rebahan dan main gitar.Ubi dan singkong rebus teman kopi jadi penganan rutin buat mereka.

Herannya,setiap ada konvoi pasukan Tentara Pusat mau melewati rumah ompungku,baik yang datang dari arah Balige maupun dari Laguboti,kelompok Tulangku sudah mengetahuinya lebih dulu.Padahal,konvoi itu masih jauh jaraknya.

Rupanya di setiap desa terdekat,baik di arah Balige dan arah Laguboti,selalu ada mata2 yang bertugas mengintai dan langsung memberi kode ada konvoi pasukan Tentara Pusat.Berarti bahaya.

Isyarat atau kode ini berlangsung secara berantai,yang melibatkan anak2, dan ibu2 yang sambil bekerja di sawah sepanjang jalan besar berstatus jalan negara itu.Itu lah yang membuat pasukan pemberontak mempunyai waktu untuk menghindar dari papasan.

Jalan beraspal yang menghubungkan Aceh dan Lampung ini lah jalan satu2nya jalan besar zaman itu.Jalan ini melewati hampir semua kota besar di Sumatera.Seluruh kendaraan menggunakan ini sebagai perlintasan,baik angkutan umum maupun pribadi,

Jika awal perang saudara itu meletus,tembak menembak agak masih jarang terjadi Namun makin hari volumenya semakin sering.Di siang hari jarang t terdengar letusan senjata atau dentuman keras sebagai tanda bahwa pertempuran tengah berlangsung.

Pecah perang tembak menembak lebih sering terjadi pada malam hari.Tidak kupahami siapa yang mulai menyerang,apakah pihak Tentara Pusat atau pemberontak.

Karena tembak menembak semakin sering dan gencar,rumah ompungku yang letaknya persis di pinggir jalan,kadang kena peluru nyasar.Guna menghindari ada korban di antara kami,Ompungku memboyong kami ngungsi ke rumah mertua Jenderal Panggabean yang letaknya persis di seberang jalan rumah ompungku.

Rumah mertua Jenderal Panggabean berhadapan dengan rumah ompungku,tetapi letaknya sekitar 500 meter dari pinggir jalan dan rumah itu berada di belakang rumah2 lain.
Rumah itu punya ruangan luas,bercat putih.Maklum lah,mertua Panggabean itu orang kaya pemilik hotel Tapian Nauli di Sibolga.Dengan ompungku mereka masih kerabat.Satu ompung.

Suatu ketika,kami tidak mengungsi.Saya tidur di kamar bersama ompung boru.1 kaleng minyak makan (minyak goreng) kebetulan ditaruh ompungku di atas meja kecil di belakang kepalaku.

Rentetan tembakan yang sangat dekat dengan rumah ompung terdengar gencar,membuat kami terbangun tapi tanpa beranjak dari tempat tidur.

Plasss….tiba2 ada hantaman di kaleng minyak makan yang terletak persis di belakang kepalaku setelah sebelumnya memecahkan kaca jendela rumah.

Ompungku langsung berdiri membimbing aku keluar dari kamar ke ruang tengah.Rumah ompungku terbuat dari setengah tembok dan papan.

Ternyata satu peluru dari sekian banyak peluru yang membentur tembok rumah ompungku,melesat menghantam kaca jendela dan meluncur ke kaleng minyak.

Ompung boruku mengusap-usap kepalaku.Kuingat dia berdoa mengucap terimakasih pada Tuhan.

Tuhan masih sangat baik dan sayang sama saya.Andaikan kaleng minyak yang isinya telah membeku itu tidak berada di belakang kepalaku,tidak mungkin kisah kecil ini ada.

Oh,perlu saya jelaskan,bahwa suhu di kampung kami dulu sangat dingin pada malam hari,sehingga minyak goreng di botol dan di kaleng bisa membeku.

Adanya peristiwa yang hampir mencelakakanku bahkan mungkin bisa saja mencabut nyawaku semalam,keesokan harinya diceritakan ompungku kepada Tulangku yang sudah tiba di rumah pagi hari.

Mungkin ompungku merasa kurang sreg kalau kami setiap malam tiba harus mengungsi ke rumah mertua Jenderal Panggabean,walau tidak pernah terdengar suara keberatan.Diambil keputusan untuk menggali lobang perlindungan di halaman belakang rumah.

Gotong royong melibatkan semua anggota kelompok Tulangku menggali lobang tepat di bawah pohon beringin besar dan terlindungi lagi oleh rimbunan bambu,membuat pekerjaan cepat selesai.

Lobang sepanjang sekitar 5 meter,berkedalaman 1 1/5 meter usai sudah.Lalu,sepanjang 4 meter ditutup lagi dengan papan.Kemudian di atas papan itu ditaruh tanah yang masih berumput.Sebelumnya,beberapa bambu utuh yang bolong untuk saluran udara disisipkan di sudut lobang.Sisanya,sekitar 1 meter. jadi pintu masuk dan keluar lubang.Persis seperti pintu dibikin di atasnya.

Papan dibikin menutup seluruh sisi lobang pengamanan itu,sehingga lebih nyaman walau bau tanah dan urat pohon beringin menusuk hidung.

Begitu malam mulai tiba,setelah habis makan malam kami mengungsi ke lobang yang jaraknya sekitar 20 meter dari dapur rumah.

Satu lampu teplok (semporong) kami bawa jadi penerang di lubang itu.Cahaya redupnya,cukup membuat kami bisa saling tatap,saat ngobrol bisik2.

Kedua ompungku kadang tidur menyandar sedang aku selalu celentang.

Suara kodok,jangkrik dan burung malam jadi musik pengiring tidur kami.Namun,kami tidak selalu bisa tidur nyenyak,karena gelegar dentuman keras di kejauhan sering terdengar.Belum lagi desingan peluru yang kerap menghantam batang bambu yang tumbuh rapat.

(Bersambung)

*Ditulis oleh Nelson Siahaan

(2) Komentar

  1. Respect to author, some excellent information .

  2. After all, what a great site and informative posts, I will upload inbound link – bookmark this web site? Regards, Reader.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *