Tak Berkategori

Memberontak PRRI (6) Dapat Suaka

DERUM suara sarasin,panser dan truk militer semakin sering terdengar membelah keheninga suasana di cuaca dingin di siang hari di jalanan besar jalan negara yang melalui Tambunan.Penduduk yang tinggal di sepanjang desa itu,sudah tidak terlalu terganggu lagi akan suara gemuruh kendaraan militer yang lalu lalang itu.

Waktu yang lumayan lama mendengar derum mesin kendaraan itu saat lalu lalang membuat penduduk menjadi akrab dan berdamai dengan suara bising yang ditimbulkannya. Jika jauh sebelumnya kalau ada konvoi yang lewat,penduduk cenderung seperti ketakutan.

Justru kini seakan sebaliknya. Penduduk malahan terlihat menjadikan konvoi Pasukan Pusat itu jadi tontonan,apalagi jika sarasin dan panser ikut di antara barisan konvoi itu.Anak2 apalagi,berhamburan dari rumah berlari sambil berteriak-teriak ke pinggir jalan dan melambaikantangan ke arah tentara yang tengah lewat.

Gairah senang yang menguar dari penduduk desa di sepanjang jalan yang dilalui konvoi pasukan itu dijawab para anggota TNI itu dengan memperlambat laju kendaraan mereka.Kegarangan wibawa warna hijau dan loreng sebagai simbol militer yang melekat di tubuh anggota TNI itu seolah mereka mau singkirkan dengan memberi sambutan hangat berupa lambaian dan senyum kepada penduduk.

Para tentara itu seolah menunjukkan bahwa kehadiran mereka adalah untuk kebaikan dan pemberi kenyamanan kepada rakyat.Mereka dengan sikap mau melambai membalas lambaian tangan penduduk dan senyum dari atas perangkat perang itu,juga seakan menyiratkan TNI adalah pelindung rakyat.

Ada yang mulai agak berubah. Muatan truk Tentara Pusat akhir2 ini tidak melulu hanya tentara lagi,tapi kadang orang2 berpakaian sipil yang pada umumnya berambut panjang dan kurus badannya.

Sebaliknya dengan rentetan tembakan dan gelegar letusan malahan semakin jarang terdengar.Di malam hari pun mulai berkurang rasanya pertempuran antara Tentara Pusat dengan para pemberontak.

Sebagai tolak ukur bahwa pertempuran antara tentara pembela negara dan para pemberontak PRRI yang ingin membelot dengan keluar dari negara kesatuan sudah sangat berkurang adalah,ompung tidak lagi mengharuskan kami berada di lobang perlindungan jika malam tiba.

Kami sudah bisa lagi menikmati tidur dengan tenang beralas kasur kapuk di dalam rumah.Meski sekali-sekali kadang masih terdengar tembakan,tapi sifatnya tidak saling sahut-sahutan lagi.Hati kami tidak harus kecut lagi mendengarnya.

Anehnya,di kondisi yang mulai menunjukkan adanya ketenangan itu,justru kehadiran Tulang dan kelompoknya di sekitar rumah ompung tidak terlihat lagi.Lama mereka tidak menampakkan diri.Jangankan secara terang-terangan seperti sebelumnya,secara sembunyi-sembunyi pun Tulang tak pernah muncul.

Ompungku yang berstatus kepala desa mencoba berkeliling sekitar kampung hingga ke Balive untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.Baik mengenai perang saudara itu sendiri,maupun keberadaan anaknya yang tidak pernah menampakkan diri.

Ompungku yang pernah sekolah di Betawi tahun 1940an berhasil mendapat info bahwa Pemerintah Pusat ternyata sudah menyerukan kepada para pemberontak di seluruh Sumatera,agar mengakhiri perang dengan jalan damai.Mereka diminta datang ke markas TNI yang ada di setiap kota kecil turun dari gunung dan keluar dari hutan untuk menyerahkan diri,sekaligus dengan senjatanya.

Setiap pemberontak yang mau keluar dari hutan dan turun dari gunung tempat mereka melakukan perlawanan akan diberi suaka,jika mau menyerah kepada Tentara Pembela Negara.

Kepada para pemberontak yang mau menyerah itu dijanjikan suaka berupa boleh masuk jadi anggota TNI.Bagi yang tidak bersedia untuk jadi anggota TNI diberi kebebasan mutlak kembali sebagai warga sipil dan bagi yang pernah bekerja akan diijinkan bekerja di tempat kerjanya semula.

Apakah Tulangku dengan kelompoknya yang masih tersisa dan Tulang yang nomor 2,telah mengikuti seruan Pemerintah Pusat ikut menyerahkan diri dan kini berada di kamp penampungan yang disediakan negara di beberapa kota,Ompungku masih belum dapat keterangan tentang itu.

Beberapa lama kemudian,sekitar pertengahan bulan Desember tahun 1960,terdengar santer berita Tentara Pusat telah berhasil menangkap si Pesong,seorang pentolan pemberontak yang terkenal jago bergerilya.

Nama si Pesong yang digembar-gemborkan kebal peluru ini dan salah satu yang paling diincar Tentara Pusat,oleh kelompok Tulangku,sering jadi bahan perbincangan ketika mereka.tengah berada di rumah ompung.

Ompungku pergi ke Laguboti,satu kota kecil berjarak sekitar 2 km.dari rumahnya,karena dia mendengar bahwa pemberontak yang ditangkap dan menyerah ditampung Tentara Pusat di sana.Juga dia ingin memastikan apakah si Pesong yang namanya terkenal hingga anak2 pun ikut membicarakannya,benar2 sudah berada di tangan TNI.

Di tempat penampungan di Laguboti,di beberapa sekolah yang sengaja dikosongkan oleh TNI dengan meliburkan sekolah,para pemberontak itu ditahan atau kata halusnya ditampung.Di Laguboti itu pula ada markas Pasukan Siliwangi.Mereka tinggal di 1 bangunan milik warga setempat.

Menurut rencana,para pemberontak yang masih diperlakukan seperti tawanan itu akan dibawa ke kota Siantar dan kota Medan,sebelum dikembalikan ke tengah masyarakat.Dan bagi yang berminat menjadi anggota TNI akan disortir soal patut atau tidak untuk bergabung.

Di antara para penghuni kamp penampungan tersebut,Ompung menemukan Tulangku nomor 2.Badannya kurus,dengan rambut panjang kribo dan wajahnya dipenuhi bulu. lebat.Secara sepintas kepada Ompungku,Tulang mengatakan ingin kembali menekuni profesinya semula,sebagai guru SR.
Dia tidak berminat atas tawaran Pemerintah RI untuk bergabung dengan TNI.

Ompung pulang dengan hati resah dan cemas.Tulang paling besar yang terbilang jadi pimpinan kelompok yang bermarkas di rumahnya,tidak ditemukannya di antara para pemberontak di tempat penampungan sementara itu.Info tentang keberadaannya kini juga belum ada didapat.

Apakah Tulang tetap bertahan di tengah hutan atau pegunungan tempat persembunyian mereka selama ini,masih jadi misteri.Atau terjadi hal paling terburuk kepadanya,Ompung terus berupaya menebar tanya.

Sejak Ompung doli menemukan Tulang paling kecil di kamp penampungan di Laguboti,sementara anaknya paling besar lama tidak ada beritanya,Ompung terlihat sangat lesu.

Kadang dia lebih banyak duduk di kursi rotan yang sudah reot menatap ke pinggir jalan seolah berharap sosok Tulang muncul di hadapannya.Sementara Ompung boruku yang tubuhnya kecil itu,yang sifatnya pendiam selalu berusaha menenteramkan hati ompung Doli.

Kopi di cangkir kaleng besar Ompung doli terkadang hanya berkurang sedikit.Itu lah saling nelangsa dan remuk hatinya memikirkan nasib anaknya,Tulangku, paling besar itu.

Terhadaoku,pengaruh kelesuan hati Ompung doli itu terasa sangat besar.Kebiasaan dia menyuruhku duduk di sampingnya sambil bercerita,jadi hilang.Belum lagi main kuda2an di mana Ompung doli menyuruh saya dudiuk di punggungnya sementara dia merangkak yang suka kami kerjakan,sudah tak pernah kami lakukan.

Ompung boruku,walau tubuhnya kecil tapi tenaganya kuat sehingga dia tampak lebih bisa mengendalikan diri di situasi ketidak hadiran begitu lama dari Tulangju.Ompung boru bisa lebih mengendalikan diri.

Nasib kami masih jauh lebih beruntung dibanding dengan banyak penduduk lainnya.Banyak di antaranya harus menerima kenyataan bahwa suami atau anaknya diberitakan telah tewas.

Baik karena kena peluru saat berhadap2an saling serang dengan Tentara Pusat atau tertembak ketika Tentara Pusat melakukan pengejaran ke tempat persembunyian para pemberontak itu.

Apabila beruntung,keluarga yang kemalangan masih bisa mebguburkan jasad anggota keluarganya.Lebih banyak keluarga yang tidak pernah lagi bertemu sama anggota keluarga yang turut masuk hutan dan naik gunung berjuang bersama PRRI atau yang ikut karena terpaksa. Bahkan jasadnya pun entah di mana rimbanya.

(Bersambung)

*Nelson Siahaan

(4) Komentar

  1. Yay google is my world beater assisted me to find this outstanding internet site! .

  2. Excellent web site. Plenty of helpful information here. I am sending it to several pals ans additionally sharing in delicious. And certainly, thanks for your sweat!

  3. I haven?¦t checked in here for some time because I thought it was getting boring, but the last few posts are good quality so I guess I?¦ll add you back to my daily bloglist. You deserve it my friend 🙂

  4. Thy judgement ambiguous intention discern a easygoing buy cialis online Icrsqx qahbpl cialis original cheap tadalafil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *