Tak Berkategori

Memberontak PRRI (7) Mencari Anggota Keluarga

Sebagai kepala kampung,Ompung selalu jadi tempat bertanya warga desa dalam soal apa pun.Ia terkenal bijak,adil dan sering membantu warga menyelesaikan permasalahan.Pertikaian antar warga hingga keributan di antara keluarga sekali pun banyak yang berhasil diselesaikannya dengan baik.

Sosoknya yang tinggi,bahu lebar dan hidung mancung membuat Ompung tampak lebih berwibawa.Belum banyak putera daerah dari Tapanuli yang bersekolah di Betawi,Jakarta,pada jaman itu,ia oleh orang tuanya sudah dikirim untuk belajar ke sana.

Mungkin karena sudah pernah bersekolah di Jawa itu lah yang membuat cara berpikir Ompung jadi melebihi rata-rata kaum bapak yang tinggal di daerah itu.Dia lebih cerdas sehingga lebih dipercaya penduduk.Bukan saja hanya oleh warganya sendiri,tapi juga oleh warga desa lain yang memang saling berdekatan jaraknya.

Begitu perang saudara antara Tentara Pusat dan pemberontak PRRI mulai reda, mulai terdengar banyak di antara para Pardolok (pemberontak) yang meninggalkan pasukan induknya.Mereka meninggalkan pegunungan dan hutan sebagai tempat bersembunyi dan sekaligus markas mengatur strategi perlawanan,menyerahkan diri.

Para pemberontak itu berani keluar dari sarang mereka dengan membawa senjata masing2 setelah ada imbawan agar perang diakhiri dan bagi yang menyerahkan diri akan dapat suaka.Mereka tidak akan dihukum bahkan bagi yang berniat jadi anggota TNI dipersilakan bergabung.

Berita tentang sudah banyak pemberontak yang menyerahkan diri,ditambah yang sudah ditangkap dan kini ditampung di beberapa kota yang berdekatan letaknya dengan Tambunan,cepat beredar ke tengah warga.Kamp penampungan terhadap para pemberontak itu ada di Balige dan Laguboti.Kedua kota kecil ini berdekatan jaraknya dengan Tambunan.

Warga yang sejak perang saudara itu pecah banyak yang kehilangan anggota keluarganya,suami maupun anak mereka, karena bergabung dengan sukarela atau dipaksa,mendengar berita itu mendapat secercah harapan.Mereka ingin segera mendatangi kamp penampungan untuk melihat apakah anggota keluarga yang sangat dirindu itu ada juga di sana.

Namun sebelum melangkah ke kota tempat penampungan itu,banyak di antara warga lebih dulu datang ke rumah Ompung untuk minta keterangan sekalian advis apa yang harus mereka lakukan.Mereka takut jika langsung ke sana justru akan diusir oleh Tentara Pusat.

Ompung yang sudah lebih dulu sehari sebelumnya berkunjung ke tempat penampungan di Laguboti,memberi penjelasan secara rinci tentang kebenaran penyerahan diri oleh pemberontak tersebut.
Wajah ibu yang kehilangan suami dan ibu yang kehilangan anak,menunjukkan keinginan bagaimana caranya agar mereka sampai di tempat penampungan itu.

Sebagai orang yang selalu diharapkan jadi tempat penyelesai masalah,Ompung doli mengajak ompung boruku dan ibu-ibu yang mendatanginya berangkat bersama ke Laguboti.Mereka berjalan kaki ke Laguboti yang jaraknya hanya sekitar 2,5 km.dari Tambunan.Ada yang membawa anak dan bayi yang masih harus digendong.

Ompung boru rupanya sebelumnya sudah mempersiapkan diri untuk berangkat melihat Tulangku,anaknya nomor 2 yang ada di tengah para pemberontak di kamp,terlihat membawa rantang berisi makanan.Juga menghadang buntalan berisi tikar kecil,sarung dan pakaian Tulang.

Setiba di Laguboti,Ompung yang merupakan ketua rombongan terlebih dahulu menemui komandan yang berhak memberi ijin bagi keluarga para pemberontak itu untuk masuk ke ruangan tempat.Sementara para keluarga yang dibawanya tampak berdiam diri saja.Sepertinya mereka sedang memperkuat doa semoga anggota keluarganya ada di antara penghuni kamp.

Tidak memerlukan waktu lama,ijin diberikan untuk rombongan yang dibawa Ompung masuk ke halaman sekolah yang jadi tempat penampungan dan terus dibawa ke ruangan,di mana para pemberontak itu istirahat.Ada yang rebahan san duduk saja asyik ngobrol sesama mereka.

Para Tentara Pusat yang bertugas di tempat penampungan yang ternyata sebagian adalah Pasukan Siliwangi,selalu menunjukkan rasa hormat dan bersahabat dengan ibu2 yang berkunjung.Mereka tidak menunjukkan wajah garang sebagaimana seorang tentara,melainkan penuh senyum dalam melayani.

Selain rombongan Ompung,banyak juga ibu2 lain yang sama nasibnya dengan mereka berada di ruangan sekolah itu.

Ruangan di sana-sini dipenuhi tangis haru jika di antara ibu2 pengunjung itu mendapati anggota keluarga berada di tengah penghuni penampungan tersebut.Sedang tangis histeris lebih membahana menggetarkan kalbu terdengar bersumber dari ibu yang tidak menemukan anggota keluarganya di kerumunan itu.

Suasana hiruk pikuk dengan penuh tangis.Air mata tak terbendung berjatuhan membasahi lantai.Suara anak-anak yang ikut dibawa ibunya,baik suara tangisan dan teriakan,turut membuat kegaduhan yang memilukan.

Dalam suasana penuh tangisan dan air mata begitu,Ompung boru tampak berangkulan dengan Tulang no 2 menjauh dari kerumunan, mengambil tempat di sudut halaman sekolah.Di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu rimbun daunnya.

Tulang yang kehilangan banyak berat badan terlihat kurus dan pucat selalu berusaha senyum saat memeluk Ompung boru berkali-kali.Ompung mengelus-elus rambut tulang yang kribo bagai sarang burung bertengger di kepala.Sesekali tampak tangan Ompung menyeka matanya karena linangan air mata gembira karena bisa lagi bertemu dengan darah dagingnya itu.

Setelah berpuas diri melampiaskan kangen-kangenan bagi keluarga yang menemukan anggota keluarganya masing2,para ibu rombongan Ompung berkumpul lagi.Ompung menjelaskan,bagi keluarga yang anggota keluarganya ada di tempat penampungan itu,diijinkan datang lagi keesokan harinya untuk mengantar keperluan sehari-hari mereka.Juga pakaian pengganti pakaian kotor dan lusuh yang lengket di badan para pardolok itu sejak mereka berada di ruang penampungan.

Terhadap keluarga yang masih belum bertemu dengan suami atau anaknya,Ompung menjanjikan akan membawa mereka ke tempat penampungan di kota lainnya.Terutama ke kota paling dekat dari Tambunan yakni kota Balige yang berjarak sekitar 4 km.jauhnya.

Walau hati Ompung pun masih menyimpan rasa galau karena kabar tentang nasib Tulang paling besar belum juga sampai di kupingnya,dalam melayani warga untuk mencari anggota keluarganya,Ompung tidak pernah bertindak setengah-setengah.Ia selalu menyediakan waktu buat mereka,kapan pun mereka datang menemuinya.

Di lain waktu ketika Ompung mengunjungi Tulang no 2 di tempat penampungan,Tulang menceritakan dalam waktu tidak berapa lama lagi ia dan beberapa temannya akan dibawa ke Siantar.Sejak berada di tempat penampungan itu,semua mantan pemberontak itu,juga menurut Tulang,diperlakukan oleh Tentara Pusat dengan baik.Tidak ada sikap Tentara Pusat yang menunjukkan bahwa mereka beberapa saat sebelumnya saling bermusuhan,saling serang untuk membunuh.

Tulang menegaskan kembali kepada Ompung,sebagaimana dalam pertemuan pertama mereka,bahwa dirinya tidak tertarik sama sekali mengikuti ajakan Pemerintah Pusat untuk bergabung jadi anggota TNI walau harus melalui penilaian lebih dulu.
Dia tetap berkeinginan kembali jadi warga sipil dengan menekuni profesinya semula,yang luhur sebagai guru.Guru SR ketika itu.

Akan hal keberadaan Tulang no 2 hingga dirinya bisa berada di antara penghuni penampungan,ternyata dia bersama beberapa temannya tertangkap ketika mereka terlibat pertempuran jarak dekat dengan pihak Tentara Pusat di pinggiran kaki bukit di desa Bonan Dolok.Saat itu,dia bersama temannya terjepit oleh Tentara Pusat beremblim kepala harimau di seragamnya,sehingga mereka mengangkat bendera putih,menyerah.Untung pasukan Siliwangi yang menangkap mereka,kalau tidak bisa2 tinggal nama tanpa jelas di mana kuburnya.

Di rumah,Tulang paling besar terus jadi bahan pembicaraan Ompung doli dan Ompung boru,terlebih saat kami makan di dapur di depan tataring (tempat masak).Terhadap Tulang nomor 2,sudah tidak perlu menguras pikiran lagi,karena nasibnya sudah jelas adanya.Tinggal menunggu waktu kapan dia akan bebas merdeka,mengajar lagi di depan murid-muridnya seperti kehendaknya.

Aku juga sangat merindu kehadiran Tulangku paling besar.Rindu suasana saat dia mengangkat badanku agar bisa menjangkau markisa yang sudah matang untuk.kupetik.Rindu akan oleh2 lampet yang disisakannya buatku jika dia kebetulan ngopi di lapo.

Saking rindunya aku kepada Tulang,pernah kuajukan pertanyaan kepada Ompung doli.”Kapan Tulang pulang.Kenapa pergi terus.” Tanpa pernah kupahami apa penyebab Tulang bisa hilang muncul,dan kemudian menghilang cukup lama.Ompung sembari mendudukkan aku di pangkuannya,dengan suara lembut tapi bernada harap menjaeab bahea Tulang akan pulang tidak lama lagi.

Kerinduan itu kulampiaskan bermain sendirian menggunakan pistol karet berbentuk FN berwarna merah pemberiannya,yang dirampasnya dari seorang bapak penumpang bis saat bis itu mereka sanggong bersama kelompoknya.

Saya berlari ke sana-kemari di halaman rumah sembari menirukan suara tembakan,dar,der,dor dengan pistol mainan itu aku acung-acungkan.Kadang aku masuk ke rumah menjadikan Ompungku jadi sasaran.Dor,dor,tembakan kuarahkan kepadanya.Dia memegang dadanya seolah kena terjang peluru pistolku dan rebah mengaduh.Suasana jadi menyenangkan.Kami berpelukan berguling fi lantai yang terbuat dari semen cor.Sedang Ompung boruku hanya menonton tingkah laku kami sambil senyum-senyum.

Pistol itu tidak pernah lepas dari tanganku,bahkan tidur pun kubawa dia ke bale pembaringanku.Alangkah lebih semarak suasana jika Tulang ada bersama kami.
(Bersambung)

*Nelson Siahaan

(5) Komentar

  1. Great wordpress blog here.. It’s hard to find quality writing like yours these days. I really appreciate people like you! take care

  2. Heya! I’m at work surfing around your blog from my new iphone 3gs! Just wanted to say I love reading through your blog and look forward to all your posts! Keep up the great work!

  3. Jerryunpag menulis:

    Знаете ли вы?
    Бывший наркокурьер, став премьер-министром Юкона, принимал законы против наркомании и наркоторговли.
    В игре про выгорание отражён печальный личный опыт главного разработчика.
    Член Зала хоккейной славы готов был играть где угодно, лишь бы не переходить в тренеры.
    В Чехословакии и СССР был свой «поцелуй победы».
    Консервативные художественные критики обрушились на портрет девушки, называя её гермафродитом, дочерью Каина и проституткой.

    http://arbeca.net

  4. Good post. I be taught one thing more challenging on completely different blogs everyday. It’s going to at all times be stimulating to learn content material from other writers and practice a bit of something from their store. I’d prefer to make use of some with the content material on my blog whether you don’t mind. Natually I’ll give you a hyperlink on your internet blog. Thanks for sharing.

  5. Hey! I just wish to give a huge thumbs up for the great data you could have here on this post. I will probably be coming again to your weblog for extra soon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *