Malam Puisi Rantauprapat Edisi Perdana – Sebuah Apresiasi “Sajak Langit Panai”

Malam itu, ketika hujan masih setia mengurai rintik-rintik. Sebuah kedai kopi yang berlapak di Jl. Ahmad Yani Rantauprapat mulai ramai dipadati pengunjung. Coffee Rakyat Ranto namanya, Malam Puisi Rantauprapat acaranya.

Tepat setelah rinai usai, acara pun dimulai. Acara dibuka langsung oleh Tatang Hidayat Pohan sebagai Koordinator Malam Puisi Rantauprapat. TH. Pohan mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada para pengunjung dan beberapa komunitas yang ada di Labuhanbatu, yang antara lain: Gerakan Labuhanbatu Membaca (GLM), Forum Kreatif Muda Rantauprapat (FKMR), Lingkar Panei (LP) dan Forum Lingkar Pena (FLP) Labuhanbatu selaku penggagas acara. Tak lupa, rasa terima kasih juga dihaturkannya kepada pemilik Coffe Rakyat Ranto dan perwakilan dari Clavo Djarum Super Rantauprapat, yang juga turut mendukung acara.

Acara itu juga dihadiri oleh perwakilan Malam Puisi Medan yang diwakilkan kepada Taufik Hasibuan.  Taufik sempat berbagi pengalaman bahwa: “…membaca puisi itu harus benar-benar jujur dan tulus dari dalam hati”. Pada kesempatan yang sama, Taufik membacakan puisinya sendiri yang berjudul Pelangi dan Impian. Dengan penuh khidmat, mata terpicing, sambil bersila di atas kursi. Dia membaca bait demi bait puisi itu, sampai tepuk tangan pengunjung menutup  puisinya.

Tak ketinggalan, Malam Puisi Rantauprapat juga mendapat kunjungan istimewa dari Wakil Bupati Labuhanbatu beserta Ibu. Dalam kata sambutannya, Pak Suhari Pane merasa cemburu karena muda-mudi yang terlibat dalam acara ini mempunyai perhatian yang besar terhadap puisi. Beliau juga sempat berucap: “malam ini, adalah malam pertama kali bagi saya membacakan puisi”. Sontak, pengunjung langsung bertepuk tangan. Buku Kumpulan Puisi “Mata Ketiga Cinta – Helvy Tiana Rosa” pun menjadi kitab sakti Pak Wakil. Bersama Ibu, Pak Wakil saling bergantian membacakan puisi demi puisi yang ada di buku itu.

Beberapa puisi telah sampai, beberapa penampil telah usai. MC yang digawangi oleh Gusti mengambil alih acara. “untuk penampil selanjutnya, kita mintakan kepada Agung, Dewi, Dila dan Jo” kata Gusti dengan nada semangat.

Gitar berdenting, biola mengalun. Lalu dengan nada lirih Mbak Dewi melafalkan lirik lagu “Perjalanan”nya Franky & Jane”. Lagu itu langsung disambut oleh Dila dengan pekikan “MAK” (sebuah Puisi gubahan Qaireen Izz, dimuat dibuku Sajak Langit Panai), suasana berubah takzim. Lewat gitar, biola dan buku Antologi Puisi “Sajak Langit Panai”, panggung mulai berguncang, menghentak datarnya suasana. Lampu-lampu latar serasa memanggil, malam pun menjadi lebih berwarna. Gitar dan biola semakin bersahut-sahutan, beriringan, mencabik-cabik suasana, membakar malam.

Dilanjutkan dengan tembang kedua, kali ini lagu Iwan Fals & Kantata Takwa yang berjudul “Kesaksian” mulai mengalun, merambat kekhusyukan malam. Sambil memangku gitar, dengan nada tegar, Mas Agung melantunkan: “…orang-orang harus dibangunkan, Aku bernyanyi menjadi saksi”. Tanpa kemenyan dan ritual yang aneh-aneh, suasana berubah sedikit magis, bulu kudukku berdiri. Mungkin lagu ini ada hantunya kali ya? hehe. Ya, hantu-hantu yang tercipta dari rasa ketidakadilan, hantu-hantu yang termanifestasikan akibat penindasan, hantu-hantu yang memanggil dan membangunkan kita untuk menyuarakan kenyataan dan keadilan.

Ditengah lagu, Jo (si penggesek biola) sempat membacakan puisi yang berjudul “Dendam Diam”, karya Agung S (dimuat dibuku yang sama).  Entah kerasukan atau mungkin dikarenakan semangat yang membara. Jo berkobar-kobar menyuarakan bait demi bait puisi tersebut. Seperti tengah berada di medan perang, melihat musuh yang datang satu persatu, ia memekik dan mengibarkan benderanya. Mungkin begitulah penghayatannya, :). Tepuk tangan pun datang bertubi-tubi menyambangi lakonnya.

Dibawah Tiang Bendera, lagu yang dipopulerkan oleh Franky Sahilatua dkk menjadi sajian terakhir dari Musikalisator. Dengan buku ditangan kirinya, Faisal datang menghampiri panggung. Lewat mic ditangan kanannya, ia mulai berkata: “Perubahan, Kita harus berubah. Begitu katamu pada suatu hari…”. Penggalan bait-bait tersebut adalah sebuah Puisi “Perubahan” karya TH. Pohan yang dimuat dibuku yang sama, Sajak Langit Panai. Kemudian Faisal menggoyang-goyangkan tubuhnya, menghayati irama puisi tersebut.

Hmm… musikalisasi yang apik, para pembaca heroik, dan malam yang inspiratif. Kataku dalam hati.

Mata Hati

Hanya gelap

Yang dilihat

Dari mata seorang buta

 

Hanyalah rasa

Yang bisa tafsirkannya

Untuk membedakan siang dan malam

 

Matamata buta

Mungkin tak pernah salah dalam merasa

 

Matamata buta

Yang menghafal kembali ke alam

 

Tidaklah beda

Siang dan malam

Tetaplah sama

Siang dan malam

 

Matamata buta

Hanya bergantung pada hatinya

Matamata buta

Tetaplah percaya pada hatinya

 

Walau gelap

Yang selalu dilihat

 

Hanyalah gelap

Yang selalu terlihat

 

Matamata buta

Bukan buta pada hatinya

Matamata buta

Masih menanda suara hatinya

 

Sungguh

Apakah sama yang buta dengan yang melihat

Jika yang melihat dibutakan mata hatinya

 

Sungguh

Apakah sama yang buta dengan yang melihat

Jika yang melihat membutakan suara hatinya

 

Sungguh

Sesungguhnya

Yang buta dan yang melihat

Di matamatai tindaktanduknya di dunia

 

Sigondrongdalamdiam

22 Juni 2015

Astana Airmata Melangit Mimpi.

Alkisah Mobil Ambulance

Syahdan…
Di suatu kota yang tak ramai
Massa mendiami sebuah jalan
Adalah poros nama desanya
Lintas menuju kota bagan
Massa yang berkumpul menuntut penerapan
Ibukota yang dimaksud dalam undangundang segera dipindahkan
Waktu itu jalanan mencekam
Tiap yang melintas penuh pengawasan
Dari jauh mobil kencang
Diiringi sirene yang lantang
Mobil ambulance rupanya datang
Tiada pun lepas dari pengawasan
Di sangka mobil membawa pesakit
Rupanya mobil berpenumpangkan orang
Orang yang bukan sembarang orang
Sebab orang ini salah satu anggota dewan perwakilan
Mobil diberhentikan penumpang diturunkan
Massa yang tak terkendali merusak ambulance

Syahdan… (2)

Di sebutkan dalam oleh mei
Sebuah mobil terparkir di pinggir jalan
Di tengah lokasi huruhara
Mobil ambulance milik partai
Bukan berisi pasien gagal ginjal
Atau pun obatobatan
Mobil ambulance berpenumpangkan
Batubatuan dan beramplopamplop uang

Syahdan… (3)

Telah berubah tujuan mobil ambulance
Tak lagi mayat atau pun pasien gawat darurat
Sebagai penumpang
Dalam dua alkisah mobil ambulance
Ini tertuliskan

Sigondrong DalamDiam
23 Mei 2019

Ahli Saksi Ahli

bagaimana aku hendak percaya kepadamu
sedangkan engkau adalah pembela yang yang bersaksi palsu

bagaimana aku dapat mempercayai kesaksianmu
jika sesungguhnya kau adalah saksi yang tertahan di kota

saksi itu melihat,mendengar dan merasakan,menyaksikan dengan sendirinya
tiada pendapat yang memenuhi jalannya kesaksian

ahli saksi
ini bukanlah bagai nujum pak belalang

saksi ahli
kepandaianmu selayaknya mengalihkan tajamnya nujum pak belalang

bagaimana aku dapat percaya dan mempercayaimu
intinya inti,ahlinya ahli terbatas kepada bukti

perselingkuhan
perzinaan
hingga perkawinan sedarah
yang kau tuduhkan.

ahli saksi ahli
saksi ahli saksi
dari pemohon ahli tetas

Sigondrong Dalamdiam Melangit mimpi
20 Juni 2019

Surga Yang Tertinggal

Akal…
Menjadi mahluk hidup
Saat ditinggalkan hati sebagai jiwanya
Bergentayangan antara selangkanganselangkangan tanpa batas
Menenggelamkan senja sebelum waktunya

Akal…
Bentuk yang tiada tersentuh
Dapat menyentuh surga surgawinya dunia
Lalu terpuruk sampai pencapaian pada sebongkah kayu papan bertuliskan nama
Surga yang tertinggal
Dari waktu yang terbuang dari tersisa

Mati…

Sigondrong Dalamdiam
15 Juni 2017
Astana airmata

Orangorang orangan

Orangorang terkubur
Dalam lubanglubang lumpur

Hidup semakin mendekati kufur
Tulang lidah mulai kehilangan sifat lentur

Orangorang menjadi Orangorangan
Nilai sakral kini menjadi pajangan

Putih kain kafan tiada pernah dipersoalkan
Mengumbar nafsu melupakan jenang procot sebagai yang dimuasalkan

Bumi semakin dirusak
Tanyatanya tak pernah disamak

Aneh terdengar jika disapa kisanak
Pada hal akhir tua kembali keanakanak

O
Orangorang orangan
Jasat ini hanya tumpangan
Lahirmu tak sehelai benang

O
Orangorangan orang
Bersihkan jiwamu dari penyakit yang bersarang
Biar kematian itu indah dipandang

Sigondrongdalamdiam
15 Juni 2015
Astana Air Mata

Ngigau

Ngigau
Ngarang
Siapa

Apa artinya
Rasa yang kau selipkan
Datang dan pergi
Bagaikan angin topan sekejap menghilang

Apa maknanya
Titipan salam pada hujan
Sedangkan kemarau itu berkepanjangan
Hingga bunga mekar tak jadi di jambangan

Dulu
Kau begitu hebatnya memelihara
Yang hanya terlihat
Itu pun penuh iklasnya

Kini
Kau semakin hebat mengila
Tak hanya terlihat memelihara
Namun sembunyi bagaikan cacing

Di dalam perut
Yang membuat perut cinta
membuncit

Aku
Hanya sinambungan bagimu
Percintaan ini hanyalah cerpen di hatimu teranggap

Hingga saat
Penghianatan itu terjadi
Kau bukan lagi menjadi seorang pembunuh
Tapi pemburu
Apa yang ada dari dunia

Sudahlah
Nasib kita kan sama
Pada akhirnya
Di waktu tengah malam
Kitakan menangis

Menyesal.

Sigondrongdalamdiam
10 Juni2015. Astana Airmata Melangit