Tak Berkategori

TAFSIR PENONTON DRAMA SENGKETA PEMILIHAN RAJA



Sebuah drama dengan judul Sengketa Pemilihan Raja telah berhasil di pemtaskan atas permintaan dari suatu tim yang tiada terima bukan dari hasil perselisihan selisihnya sebab selisih tipisnya mendekati tipisnya irisan bawang,drama itu di pentaskan namun lebih dari keinginan dari tim galibnya untuk merasai euforia kekuasaan dengan dalill seandainya menang dan adalah sah-sah saja sebagai bentuk pertunjukan akhir yang berdarah-darah pun tetap jua pelakon utama adalah yang dari awal telah mengeluarkan uang hingga sampai di meja Mahkamah pun pelakon utama tetap saja yang mengeluarkan uang, pemeran figuran hanyalah menenteng bawaan plastik kresek lalu swaphoto dengan status seabrek kecurangan.

Ini adalah kali pertama terjadi diriwayatkan di bumi ika nan idaman perebutan tahta Raja di pentaskan hingga ke meja mahkamah semua berkat olahan tangan dingin ambah yang tiada terima,dapat ditebak mengalir karna apa alur pepaknya dengan segala siasat, kedengkian, kelicikan bahkan ribuan alasan pembenarannya semua dimulai dari rasa tiada terima lantas dimuat slogan ganti Raja.

Ada lagi sampai-sampai membuat jaring laba-laba mengatasnamakan rakyat jelantah dari 100 ada 80 yang menghendaki digantikan Raja sebelumnya dasar lembah hanyalah curam menjadi pemerhati hati belum bersih ada keberpihakan yang bukan pada rakyat jelantah tapi pada apa yang dalam alam sadar tujukan dukungan.


Kekuasaan memang ada kalanya cenderung seenaknya operasi caesar pemujaan dimana tiap rezim tumbuh budaya yang membudaya bahwa sesungguhnya kekuasaan adalah pendaku dari pemilik kebenaran satu-satunya, menjadikan tiada heran mengherankan jikalau banyak asu semua tiada bertuan ingin menjadi penjaga kuasa.

Laku politik penuh kebengisan ini telah pun melahirkan tidak hanya dengan tangis sahaja tapi penuh berdarah-darah saweran hanya demi suatu hasrat birahi setubuhi kekuasaan pun berlangsung dengan harap susunan sinopsi cerita kejutan, di tikungan cerita drama meja Mahkamah setiap saksi berlakon curahan hati,kenistaan yang dibuat-buat agar pencapaian muat, lari jauh seperti dituliskan dalam skenario yang telah di siapkan, lerut dahit pemegang palu dalam sidang sehingga lain ditanya lain yang dijawab, dialog drama menjadi monolog satu arah ibarat senggama saksi hanyalah onani, begitu pun dengan pemeran ahli nujum mewakili pelakon utama semuanya cenderung membidik empati dan simpati tak satu pun sesuai dengan yang tertuang dalam skenario urutan kata perkalimatnya jadi dialog drama gugatan kurang penghayatan peran hingga penonton menafsirkan kecil sekali kemungkinan akan diadakan kembali pementasan pesta suara ulang mengingat semua pelakon pemohon disalip termohon dengan tertanda yang di tanda tangani semua disampimg tiada pemodal jika kembali diadakan pesta pemilihan Raja.

Drama ini jelas adalah ultimatum untuk pemilihan Raja berikutnya bahwa adu ilmu kesaktian tidaklah cukup untuk menempati kursi singgasana,masih ada meja tempat segala tikung menelikung sampai ke puncak kekuasaan bila pelakon di luar pelakon utama cerdas mengacum pelakon utama walau masalah hasil sudah dapat di terawang tetap jua kecil kemungkinan hasil lberaga ilmu menangnya namun setidaknya telah mampu meniupkan angin segar sebab mustahil akan di gelar kembali pesta setelah usai kolosalnya.


SigondrongDalamDian


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *