Serba Serbi

Toa dan Mayoritas dalam Bertoleransi

Pemerintahan Indonesia melalui menteri agamanya baru-baru ini membuat geger bukan dengan keputusan dan ucapannya,ada pun putusannya membuat aturan soal penggunaan pengeras suara (toa) masjid yang dianggapnya ‘tidak ramah’ bagi non muslim dan perlu untuk diatur kembali penggunaanya.
Hal itu tertuang dalam surat edaran menteri agama Yaqut Cholil Qoumas, dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musolah,selain itu waktu penggunaan disesuaikan di setiap waktu sebelum azan.

Toa atau pengeras suara adalah TOA Corporation didirikan oleh Tsunetaro Nakatani pada tahun 1934 dengan nama TOA Electronic Manufacturing Company yang memproduksi pengeras suara dan mikrofon.
Didirikan pada 1September1934 dengan Tokoh kuncinya Mister Tsunetaro Nakatani (pendiri, pemimpin). sedangkan Kenji Itani (CEO).Perusahaan ini berasal dari Jepang.

Menurut Kees Van Dijk dalam tulisannya yang berjudul ‘Perubahan Kontur Masjid’ yang mengutip Studien over de geschiedenis van de Islam karya G.F. Pijper, menulis bahwa pengeras suara sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum 1960an.Pengeras suara dikenal luas untuk menyuarakan azan di Indonesia sejak tahun 1930an. Masjid Agung Surakarta adalah masjid pertama yang dilengkapi pengeras suara,” tulis Van Dijk.

Toa masuk ke Indonesia melalui seorang pengusaha keturunan Tionghoa asal Bangka, Uripto Widjaja. Uripto adalah pemilik PT Galva, yang merakit radio merek Galindra. Radio tersebut sezaman dengan kejayaan radio Tjawang yang diproduksi PT Transistor Radio Manufacturing Co—yang dirintis Gobel pendiri Panasonic Indonesia.

Pelaturan penggunaan pengeras suara sebenarnya bukanlah pelaturan baru sebab pada tahun 2018 Indonesia juga mengeluarkan aturan serupa yang juga mengimbau dalam surat edaran B.3940/DJ.III/Hk. 00.7/08/2018 yang isinya memerintahkan semua masjid mempunyai dua pelantang suara. Satu pelantang suara di menara atau luar masjid, sedangkan satu lagi berada di dalam. Pelantang suara di menara luar, hanya digunakan untuk adzan sebagai penanda waktu shalat. Tidak boleh untuk menyiarkan doa atau zikir. Sementara untuk pelantang suara dalam, digunakan untuk doa. Namun syaratnya, doa tidak boleh meninggikan suara. Dalam himbauan itu juga diminta kepada pengurus masjid mengutamakan suara merdu dan fasih saat menggunakan mikrofon.”
Namun peraturan yang baru dikeluarkan No SE 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala mendadak viral bukan karna peraturannya itu sendiri yang minimnya sosialisasi demi alasan terciptanya kerukunan antar umat beragama namun karna ucapan sang menteri agama RI yang mencontohkan sebuah perumahan yang kanan kirinya ada suara anjing menggonggong sehingga ucapan mencontohkan itu pun diartikan masyarakat luas dalam hal ini masyarakat muslim sebagai umpama atau menyamakan.

Menag RI memang benar mengeluarkan surat edaran itu pada 24 Agustus 2018 yang ditujukan kepada lima pihak. Di antaranya untuk kepala kantor Kementerian Agama, kepala KUA dan penyuluh agama Islam se-Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya, masih banyak yang tidak mengaplikasikan aturan tersebut karena alasan tertentu.

Bagi kita umat muslim di Indonesia memang wajar menganggap bahwa pelaturan itu sangatlah melukai sehingga dapat disimpulkan ketidak berpihakan pemerintah pusat dalam membuat keputusan terhadap kaum yang mayoritas hanya demi menghargai kaum minoritas sehingga sangatlah janggal karena bertahun-tahun telah berjalan dan dapat dianggapkan tidak ada masalah sama sekali pengeras suara di mesjid atau musolah,Selain itu pengeras suara juga telah dianggap satu bagian penting tak terpisahkan fungsinya yang tidak hanya sekedar melantumkan suara azan namun juga melantun ayat-ayat suci dalam masjid dan ini pun telah dianggapkan sebagai sarana menyebarkan kebaikan bagi umat muslim selama bertahun-tahun.

Namun di negara-negara lain yg mayoritas Islam satu dekade ini memang menjadi perhatian khusus karna telah memberlakukan atuaran pengeras suara dalam masjid,seperti:

  1. Arab Saudi, semenjak 2015 kerajaan Arab Saudi dalam menteri agama Islamnya membolehkan suara toa hanya untuk Azan, sholat idul Fitri – idul adha, dan shalat minta hujan. Kebijakan ini diputuskan karena banyak keluhan dari masyarakat prihal volume masjid.
  2. Mesir, semenjak Ramdhan 2018 mereka melarang pengeras toa selain untuk Azan. Hal itu, untuk masyarakatnya di rumah sakit maupun manula yang membutuhkan istirahat. Al-Azhar mengatakan hal ini untuk meluruskan penggunaan toa dan azan
  3. Bahrain, negara itu juga sedang memperpanjang larangan penggunaan toa selain untuk Azan diwakili oleh menteri agamanya, selain itu mereka juga meminta untuk menurunkan volume toa dalam berkumandang azan.

Selain itu ada beberapa negara bagian Malaysia dan Uni Emirat Arab yang juga mengatur volume dan penggunaan pengeras suara bagi masjid-masjidnya.

Bagi masyarakat muslim Indonesia yang telah menganggap toa adalah bagian penting dalam menyerukan azan. tentulah bukan anggapan yang harus sepihak disalahkan akan tetapi yang harus diingatkan kembali adalah toa bukanlah nama benda melainkan nama merek dagang yang kehadiramnya sebagai salah satu elemen dari sekian banyak elemen yang bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan.
sehingga dapatlah disimpulkan bahwa bukanlah harus ada Pengeras suara (toa) maka menjadi sah lantunan azan.

Merujuk pada definisi toleransi menurut KBBI-nya adalah sifat atau sikap mau pun batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan atau juga toleransi itu adalah penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.
namun jika toleransi itu dalam penerapan sehari hari dapatlah diartikan sebuah rasa toleransi yang dimana kita bisa membiarkan perbedaan dari kita terhadap orang lain dengan ikhlas, yang artinya sikap toleransi juga seharusnya harus dilihat dari dua sudut untuk mencapai kepahaman untuk paham saling mengikhlaskan dengan berpedoman pada azas saling harga menghargai.

Hal yang bikin pelaturan ini semakin tidak diterima adalah bukan karna penerapannya tapi karena ucapan yang salah kaprah dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang mengambil pencontohan sehingga diartikan perumpamaan yang berujung ditapsirkan dengan menyamakan azan. Ucapan beliau memang langsung untuk diterjemahkan meskipun salah atau benar hanya beliau yang tahu artinya kemana ditujukan sebaiknya beliau meminta maaf sebagai menteri dan muslim kepada seluruh orang yang menganggapnya salah.
sebablah pejabat bukanlah hanya penting soal kemampuan dalam bidangnya di biokrasi tapi juga pentingnya kemampuannya dalam bahasa Indonesia sebagai persatuan.

Sigondrong Dalamdiam

*dari berbagai sumber

https://muslim.okezone.com/amp/2022/02/24/614/2552512/selain-indonesia-5-negara-mayoritas-muslim-ini-juga-atur-penggunaan-pengeras-suara-masjid
https://id.m.wikipedia.org/wiki/TOA_Corp.#:~:text=TOA%20Corporation%20didirikan%20oleh%20Tsunetaro,memproduksi%20pengeras%20suara%20dan%20mikrofon.
http://www.naviri.org/2018/11/asal-usul-toa-pengeras-suara.html?m=1


.




https://muslim.okezone.com/amp/2022/02/24/614/2552512/selain-indonesia-5-negara-mayoritas-muslim-ini-juga-atur-penggunaan-pengeras-suara-masjid
https://id.m.wikipedia.org/wiki/TOA_Corp.#:~:text=TOA%20Corporation%20didirikan%20oleh%20Tsunetaro,memproduksi%20pengeras%20suara%20dan%20mikrofon.
http://www.naviri.org/2018/11/asal-usul-toa-pengeras-suara.html?m=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *