Serba Serbi

Cabut Izin JuniMart Dari Dewan

Jauh ketika Republik ini belum ada di ttiap-tiap tanah di Nusantara ini ada sebuah kebiasaan dari suatu adab yang diambil dari adat istiadat yang telah turun temurun di turunkan hingga saat budaya adab dari adat tersebut menuju peradaban yang mengantarkan tanah-tanah di nusantara dalam sebuah kesatuan yakni kebiasaan musyawarah untuk mengambil dan menentukan mufakat dan ini pun teecatat indah pada pancasila di sila ke 4 .Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.”

Ini artinya bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dengan mengutamakan prinsip permusyawaratan yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial.

Dapatkah sebuah musyawarah di lakukan sendiri tanpa berserikat berkumpul?.tentulah tidak.
Musyawarah dalam bahasa Indonesia mempunyai arti pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah, perundingan.
Jelas ada katimat bersama itu berarti tidak sendiri.

Kebiasaan musyawarah pada masyarakat Indonesia di tiiap-tiap suku mau pun etnisnya telah menghantarkan musyawarah itu sendiri menjadi satu lembaga tinggi negara yakni Dewan Perwakilan Rakyat.

Namun apa jadinya jika seorang yang keseharusannya mengabiskan waktu dalam kata musyawarah di lembaga musyawarah (DPR) yang jelas-jelas tiap musyawarah itu ia tidak bisa sendiri karna dalam musyawarahnya itu merupakan pertemuan dari masing-masing perwakilan dari sebuah berserikat berkumpul (partai) namun berkehendak membubarkan suatu perkumpulan(organisasi) dari masyarakat dalam ocehannya di media sosial.

Sungguh terlalu oknum anggota lembaga tinggi musyawarah tersebut yang selalu minta dihormati itu sebab tidak menguasai adat yang telah mengakar kuat akan kebudayaan berserikat berkumpul hingga ia lupa diri bisa duduk di lembaga tinggi musyawarah.

Seperti halnya dalam UUD 1945 dalam Pasal 28 E ayat (3) yang berbunyi:
“Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Pasal ini ini memperkuat sebuah hak perorangan menentukan nasib di atas apa yang ia pikirkan baik untuk dirinya sendiri yang bertujuan untuk orang banyak hingga kepada nusa dan bangsa mau pun hajat itu tetaplah pada sebuah ikatan berserikat berkumpul.

Katakan sajalah mulut Junimart suatu toko serba ada karna posisinya sekarang paling tinggi bukan berarti harus menabrak yang telah disepakati,jauh sebelum Junimart ada yang menyatakan meminta kementerian dalam negeri untuk membubarian Organisasi Pemuda Pancasila telah pun anak-anak Ibu pertiwi membulatkan tekat untuk menjaga dan melestarikan kitab kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yakni Pancasila.

Ironisnya sosok Junimart merupakan perwakilan dari berserikat(partai) yang dalam Pancasila sebagai dasar lambang dan Azas negara adalah merupakan partai yang mencomott gambar sila ke 4 yakni “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.”
,sungguh bersikap terbalik dari lambang partainya yang mengagungkan Musyawarah dalam kepala Banteng tapi bagai kepala pinahan yang tiada berleher sehingga pola pikirnya mengatakan duluan ayam dari telur, hanya karna ingin mendapatkan hadiah dari sayembara tuan Raja , jawabannya pun asal mirip seperti kentut yang dilepaskam dihadapan mikrofon hingga tidak hanya suara yang menggelegar tapi baunya juga mengandung keributan.

Mungkin Junimart lupa setelah kini ia jadi toserba(toko serba ada) bahwa sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya,Junimart sepertinya menabur undian untuk melupakan sejarah karna kesalahan setitik tahi cicak ia bercita-cita ingin langsung senua kuali mau digulingkan.
Pantas saja Gus Dur mengatakan jika DPR itu taman kanak-kanak hingga Gus Dur mengatakan bubarkan saja DPR itu ternyata selain bikin gaduh karna tidak pernah berpihak kepada rakyat ternyata salah satu contoh Junimart adalah anggota yang sudah pikun akan sejarah, parahnya lagi jika Gus Dur hanya buta matanya seorang Junimart telah pun kebutaan mata dan hatinya tentang sejarah tahunya cuman bagaimana menguntungkan dirinya dan partainya lewat sidang-sidang.

Junimart melupakan orang-orang yang tergabung dalam Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) yang telah berpikir kedepan akan tetap merawat dasar negara dari perongrong.
Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia merupakan cikal terbentuknya Pemuda Pancasila yang di pelopori Jenderal TNI Purnawirawan Abdul Haris Nasution dan kawan-kawan .pada tanggal 28 Oktober 1959.merupakan panggilan rasa atas tanggung jawab dalam menjaga NKRI dari berbagai gerakan berbagai pihak khususnya kaum Komunis,dan untuk saat ini bisa dikatakan Pemuda Pancasila adalah Duta berjalan Pancasila karna membumikan Pancasila dari tingkat kota hingga tingkat desa.

Kalau mau membubarian Pemuda Pancasila itu sama artinya membubarian dasar negara.

Janganlah karna Pemuda Pancasila tiidak menjadi lumbung suaramu lantas berkeinginan mulut membubarkannya hanya karna sebuah bentrok.

Dan seharusnyalah pimpinan Partainya mencabut ijin JuniMart dari Dewan karna sejarah Pemuda yang Pancasilaus pun ia tak paham dikuatirkan ia juga tak tahu sejarah Pancasila dan pencetusnya.

Negara inii perlu penjaga dan meneruskan nilai-nilai dari 5 alas dasar dan itu hanya ada pada Sekali Layar Berkembang Surut Kita Berpantang Pancasila Abadi.

Sigondrong Dalamdiam

*salamBhineka Tunggal Ika
*Pancasila Abadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *