Puisi

Fitnah

(1)

Bahkan
Angin tak pernah protes kepadamu
Saat ia kau hirup dalam-dalam
Dan kau simpan sebagai pelanjut sebuah kehidupan
Mengapa kau protes
Tak kala angin itu keluar dari bagian pangkal paha sebelah belakang
Hanya karena tidak wangi

Sungguh
Sesuatu yang tidak benar itu
Kejamnya melebihi membunuh

Walau hanya angin jua bersama waktu
Yang dapat membersihkan segala harum dan bau


(2)

Angin pernah singgah lama dalam dadaku
Mengaduk-aduk ulu hatiku
Mataku memerah harihari pun menghitam
Yang terbayangkan hanya membalas dendam

Lalu aku duduk di atas altar
Dimana tiada perjamuan kudus
Kudongakkan kepala pada kiblat masa datang
Dan tersadar angin bagian dari kehidupan

Aku tertunduk malu-malu
Angin yang nakal itu terputuskan tetap kusimpan
Pada tempayan keyakinan
Untuk menempuh jalan menuju puncak awan

Sigondrong Dalam Diam
11 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *