Puisi

Selimut Kabut

Beginikah bulan menghargaiku
Dengan membiarkanku sendiri kesepian mencembui malam
Kehangatan sinar bulan itu terus sembunyi
Seakan tiada lagi sudi menemani

Aku kesepian menjalani tiaptiap detik malam
Sedangkan bulan lelap di pangkuan awan
Merajut mimpinya sendiri

Begitukah cara bulan menghargai aku
Yang setiap saat merinduimu
Begitukah bulan?
Sedangkan kau tahu rasa sakit seluruh badan tanpa kehangatan sinarmu

Wahai bulan, aku hanya mengharapkan tulus sinarmu
Melayani malamku karna siangku telah terluka

Beginikah bulan menyayangi pungguk
Beginikah bulan yang menghargai pungguk
Bagaimana mungkin?
Jika kehangatan sinarmu memelas sungguh aku selalu menggapainya
Selalu saja sembunyi tiap kali inginku raih kehangatan sinarmu

Aku pungguk yang patah sayap
Mengharap kehangatan sinar bulan jadi obat
Terkapar sendiri dalam onani percintaan
Sedangkan rinduku masih lagi tinggi dalam selimut kabut

SigondrongDalamDiam
13Agustus2020

(1) Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *