Puisi

Senandika Diam

Cinta yang lahir dari rahim adiwarna batin
Senyap kini membesar dalam kubangan fiat rindu
Hingga bahul memupuk aksa beralaskan kecewa

Hilang jatmika jelmakan hasta karya mulut durjana
Perulangan pengucapan lukis ketaksaan
Pendar kini tertutup hakikat sinaran sebenarnya

Niskala kecewa yang puspas itu tertorehkan
Hanyalah pengalihan melaung keadaan hutama kehidupan
Kebang di jalan yang papa penuh liku-liku kusta
Adalah penyakit kutukan yang hina dina
Kenes lupa syukur dalam sujud menyalin rupa

Kepapaan bukan nista mangkus di atas bentala
Mengapa memilih bermastautin dalam aksa kian aksa
Tak kuatkah menahan topan derana
Sedangkan hanca cinta dan rindu ini masih lekat gagah

Haruskah terciptakan katastrofe seperti pinta?
Agar ejawantah tertutup dan bersudah rasa kecewa

Tunggulah…
Karsa masih amerta penuh prasetia
Keputusan tertahan dalam meraki litani
Ranumnya kan tiba.

Sigondrong Dalamdiam
1Oktober2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *